Rebutan Hotel, Bareskrim Bakal Tahan Tjipta Fudjiarta

2810
Pesona Indonesia
Tjipta Fudjiarta
Tjipta Fudjiarta

batampos.co.id – Kasus dugaan penipuan dan pemberian keterangan palsu dalam jual-beli saham Hotel Batam City Condotel (BCC) masih terus bergulir dan memasuki babak baru pasca penetapan Tjipta Fudjiarta sebagai tersangka oleh Bareskrim Mabes Polri. Pengusaha asal Medan yang kini menguasai BCC itu, bakal segera ditahan pasca pencabutan berkas peninjauan kembali (PK) yang diajukan kuasa hukum Tjipta ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan sejak 22 Februari lalu.

Melalui tim kuasa hukumnya, Trisno Raharjo cs, Tjipta memilih untuk tidak mengajukan PK melawan Bareskrim Polri atas perkara Nomor 02/Pid.PK/2016/PN.JKT.SEL. Dengan demikian, kata Wakil Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus (Wadir Tipideksus) Bareskrim Mabes Polri, Kombes Pol Agung Setya, pihaknya sedang membuktikan apakah benar Tjipta telah membayar saham ke Conti sebagai pelapor sebesar Rp 70 miliar.

”Penyidik membutuhkan waktu lama untuk menuntaskan kasus ini, karena harus memenuhi unsur pembuktian. Pembuktian itu perlu waktu ya,” katanya kepada wartawan di Gedung Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, akhir pekan lalu.

Sebenarnya, kata Agung, terjadi saling lapor antara Conti dan Tjipta di Bareskrim Mabes Polri dan Polda Kepri. Conti melaporkan Tjipta ke Bareskrim dalam kasus tindak pidana penipuan memberikan keterangan palsu pada akta autentik atau penggelapan. Sementara Tjipta melaporkan Conti ke Polda Kepri dengan kasus dugaan tindak pidana penggelapan dalam jabatan.

Agung mengatakan, sejauh ini penyidik sudah mengambil sejumlah langkah. Jadi akan menahan tersangka? Agung hanya berkata pendek. ”Ya, saya rasa…,” ujarnya.

Kasus Conti melawan Tjipta ini telah dialihkan dari Direktorat Tindak Pidana Umum Mabes Polri ke Dit Tipideksus. ”Itu bukan masalah, hanya teknis di kita saja. Kalau di penyidiknya ada tugas, maka akan ditangani tim lain. Maksudnya agar kasus bisa berjalan, itu biasa saja,” jelas Agung.

Alfonso Napitupulu, kuasa hukum Conti mengatakan, Tjipta tidak pernah membayar pembelian saham terhadap kliennya. Dalam kasus yang sangat merugikan kliennya itu sudah sangat jelas petunjuk yang dimintakan jaksa. ”Jadi kenapa harus berlama-lama. Beberapa kali sudah diberikan petunjuk oleh jaksa peneliti agar penyidik Dit Tipideksus mendalami bagaimana tersangka Tjipta mendapatkan saham dari PT Bangun Cipta Semesta yang notabene milik Conti (saksi korban, red),” kata Alfonso.

”Kalau dikatakan tersangka Tjipta telah membeli saham dari Conti, maka penyidik harus menanyakan ke Tjipta, kapan dibeli dan mana bukti-bukti pembayarannya. Kalau perlu terhadap bukti-bukti pembayaran itu, disita dan dijadikan barang bukti,” ujar Alfonso.

Sebelumnya, Tjipta mengajukan gugatan praperadilan setelah ditetapkan tersangka oleh Bareskrim dalam kasus dugaan penipuan dan pemberian keterangan palsu dalam jual beli saham Hotel BCC Batam. Namun kandas usai hakim tunggal Puji Trirahadi menolak seluruh gugatan praperadilan dalam persidangan di Pengadilan Negeri, Jakarta Selatan, Selasa (12/1) lalu.

Sementara Conti dan kuasa hukumnya mengajukan banding atas putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Batam dalam kasus dugaan penggelapan dalam jabatan di Hotel BCC pada 6 Agustus 2015.

Kejaksaan Agung sendiri melalui suratnya nomor B-332/E.2/Epp.1/02/2016 tertanggal 9 Februari 2016 telah meminta Bareskrim Mabes Polri untuk melengkapi berkas perkara dengan tersangka Tjipta Fudjiarta. Dalam surat yang ditandatangani Jaksa Utama Madya Godang Riadi Siregar meminta Polri untuk segera menanyakan kepada Tjipta kapan dan dimana dirinya membayar atas pembelian saham kepada saksi Conti, serta apakah fasilitas pinjaman PT BMS pada Bank Panin di Jakarta sebesar Rp 70 miliar telah dibayarkan dan disita buktinya.

Sebelumnya, Tjipta saat diperiksa penyidik mengaku telah membayar ke Conti, sehingga ini perlu dibuktikan. Jaksa Agung Muda Pidana Umum Kejagung, Nur Rahmat mengungkapkan bukti Tjipta telah melunasi pembayaran saham BCC tidak ada. Maka, Tjipta sama sekali belum membayar Conti. ”Iya, itu salah satunya,” ujar Nur. (spt/jpgrup)

Respon Anda?

komentar