Terbukti Sogok Hakim, Gubernur Sumut Nonaktif Dihukum 3 Tahun

584
Pesona Indonesia
Gatot Pujo Nugroho dan istrinya, Evy Susanti dalam salah satu persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta. Foto: dokumen JPNN.
Gatot Pujo Nugroho dan istrinya, Evy Susanti dalam salah satu persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta.
Foto: dokumen JPNN.

batampos.co.id – Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta akhirnya mengetukkan palu vonis untuk Gubernur Sumatra Utara Nonaktif, Gatot Pujo Nugroho dan istrinya, Evy Susanti. Terdakwa perkara suap ke hakim dan panitera PTUN Medan itu dinyatakan bersalah.

Gatot dan Evy juga dinyatakan terbukti menyuap anggota DPR Patrice Rio Capella. Ganjaran untuk Gatot adalah 3 tahun penjara, sedangkan Evy dijatuhi hukuman 2,5 tahun bui.

“Menyatakan terdakwa Gatot Pujo Nugroho dan Evy Susanti terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama sebagaimana dakwaan alternatif pertama dan kedua,” kata Ketua Majelis Hakim Sinung Hermawan saat membacakan amar putusan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (14/3).

Gatot dan Evy dinyatakan terbukti melanggar pasal 6 ayat 1 huruf a dan pasal 13 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tipikor juncto pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana juncto pasal 64 ayat 1 KUHPidana.

Karenanya, majelis menghukum Gatot dengan pidana penjara selama tiga tahun dan denda sebesar Rp 150 juta subsider tiga bulan kurungan. Sedangkan Evy dijatuhi hukuman pidana penjara selama dua tahun enam bulan dan denda Rp 150 juta subsider tiga bulan kurungan.

Meski demikian, putusan majelis itu lebih ringan dibandingkan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sebelumnya, tuntutan JPU untuk Gatot adalah adalah  penjara selama 4,5 tahun penjara dan denda sebesar Rp 200 juta subsider lima bulan kurungan. Sedagkan tuntutan untuk Evy adalah 4 tahun penjara denda 200 juta subsider 5 bulan kurungan.

Menurut majelis, ada hal-hal yang meringankan hukuman atas Gatot dan Evy. “Yang meringankan, terdakwa belum pernah dihukum, berterus terang mengakui perbuatannya, memiliki tanggungan keluarga, serta mengungkap peran pelaku lain sehingga ditetapkan sebagai justice collaborator,”¬†kata Sinung.

Sedangkan hal yang meringankan karena Gatot dan Evy tidak mendukung program pemerintah dalam pemberantasan korupsi.

Sebelumnya JPU mendakwa Gatot dan Evy menyuap tiga hakim dan seorang panitera PTUN Medan sebesar USD 27.000 dan SGD 5.000. Suap melalui OC Kaligis dan Gary itu ditujukan agar PTUN Medan membatalkan surat panggilan permintaan keterangan (SPPK) dan surat perintah penyelidikan (sprinlidik) dari Kejaksaan Tinggi Sumatra Utara terkait dugaan korupsi dana bantuan sosial yang menyeret Gatot.

Selain itu, Gatot dan Evy dinyatakan terbukti menyuap Patrice Rio Capella sebesar Rp 200 juta. Suap itu diberikan melalui mantan anak buah OC Kaligis, Fransisca Insani Rahesti.

Uang tersebut diberikan atas jasa Patrice sebagai sekjen Partai NasDem mengislahkan Gatot dengan wakilnya, Tengku Erry Nuradi yang tengah berkonflik. Selain itu, suap ke Patrice dimaksudkan agar selaku anggota Komisi III DPR mengomunikasikan duduk perkara dugaan korupsi dana bansos di Pemprov Sumut dengan Kejaksaan Agung. (put/jpg)

Respon Anda?

komentar