MEA Masuk Bahasan Musrenbang Bintan

1133
Pesona Indonesia
MEA
MEA

batampos.co.id – Pemerintah Kabupaten Bintan menyadari pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) awal tahun ini mesti disikapi bersama. Sepaling-paling tidaknya mulai ditatap sebagai sebuah peluang guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, untuk kali pertama topik MEA menjadi satu di antara bahasan yang bakal dibincangkan pada Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Kabupaten Bintan, di Hermes Agro, 28 Maret mendatang.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bintan, Mohamad Setioso mengatakan, masukanya MEA sebagai pembahasan Musrenbang juga merupakan usulan dari masyarakat dari hasil musrenbang di tingkat kecamatan. “Beberapa masyarakat sudah mulai melek peluang MEA. Ini reaksi yang bagus,” kata Setioso, kemarin.

Karena itu pula, tambah mantan Camat Bintan Utara ini, ada pula sejumlah usulan di tingkat kecamatan yang meminta pengadaan fasilitas penunjang yang memperkuat sektor ekonomi masyarakat. Semisal Balai Latihan Kerja (BLK) atau fasilitas pelatihan bagi usaha kecil menengah (UKM) yang ada di Bintan. Semua usulan itu sudah ditampung dan siap dibahas bersama pada musrenbang tahun ini.

Hanya saja, kendati fasilitas penunjang MEA sudah dicatat dan bakal dibahas, pengadaannya bisa saja belum terjadi tahun ini. Pasalnya, Setioso memaparkan kondisi anggaran kerja setahun Pemkab Bintan belum terelak dari defisit. “Jadi nanti dipilah-pilih dulu priositasnya. Mana-mana yang memang mendesak dan mesti ada di tahun ini, ya kami upayakan. Tapi kalau tidak, kami bakal cari jalan lain, semisal mengajukan bantuan ke pemerintah pusat,” terangnya.

Permintaan masyarakat juga masih seputar pengadaan sarana fisik yang mendukung perbaikan kualitas hidup. Semisal jembatan, dermaga, jalan, atau renovasi sarana prasarana yang sudah ada.

Camat Mantang, Nafriyon menjelaskan, hasil musyawarah masih menyangkut soal pengadaan sarana infrastruktur yang memadai. Satu yang paling prioritas, kata Nafriyon, adalah pengadaan penerangan listrik 24 jam. “Utamanya listrik bagi masyarakat Mantang dan Pulau Dendun,” terangnya.

Camat terbaik tahun 2014 ini melanjutkan, selama ini, masyarakat di dua desa tersebut masih mengandalkan mesin genset di luar jam nyala listrik. Karena kontra produktif dan cenderung menelan dana operasional yang besar, masyarakat menginginkan listrik di dua desa tersebut bisa menyala selama 24 jam. “Ya siapa sih yang tak mau listrik di rumahnya nyala 24 jam,” ucapnya.

Sementara Camat Teluk Bintan, Asy Syukri menyebutkan, ada dua pengadaan jembatan penghubung yang jadi prioritas permintaan masyarakat Teluk Bintan. Pertama, jembatan penghubung ke Pulau Pengujan dengan panjang lebih kurang 400 meter dan kedua, jembatan penghubung Belak di desa Penaga dengan panjang 200-300 meter. Dua jembatan ini, sambung Syukri, sudah begitu lama diidamkan masyarakat Teluk Bintan. “Karena itu di tahun 2016 ini kembali diusulkan. Karena ketersediaan jembatan diyakini akan meningkatkan dinamika masyarakat setempat,” terangnya.

Bukan hanya dua jembatan saja yang dijadikan prioritas pembangunan di Kecamatan Teluk Bintan untuk tahun 2016 ini. Syukri menyebutkan, masyarakat juga menginginkan Pemkab Bintan segera membangun pagar pembatas di pelabuhan Pulau Pangkil. Karena setelah selesai dibangun beberapa waktu lalu, dermaga yang cukup menjorok jauh dari daratan ini belum juga dilengkapi pagar di kanan-kirinya.

“Karena dinilai terlalu berbahaya, khususnya bagi anak-anak, masyarakat meminta pagar ini bisa dikerjakan tahun ini,” pungkas Syukri. (muf/bpos)

Respon Anda?

komentar