Pertanian Terintegrasi, Jadikan Kotoran Sapi untuk Pakan Lele

762
Pesona Indonesia
Lele
Lele

batampos.co.id – Dua kelompok tani di kota Tanjungpinang, yaitu Kelompok Tani Maju Jaya di Batu Sembilan dan Kelompok Tani Makmur di Dompak memperoleh pelatihan pertanian terintegrasi dari Bank Indonesia Perwakilan Kepri.

“Kelompok yang menjadi prioritas BI adalah kelompok tani yang juga memiliki ternak sapi. Supaya mudah mengintegrasikan,” ujar Kabid Pertanian dan Peternakan Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian, Kehutanan dan Energi (KP2KE) Tanjungpinang, Hamerudin usai pembukaan workshop budidaya pertanian terintegrasi total organik dan workshop pembuatan pakan lele (optimalisasi potensi lokal) di Kelurahan Dompak, Senin (14/3).

Sebelum ke duakelompok tani tersebut dipilih oleh BI, pihak KP2KE telah mengirimkan proposal pengajuan ke BI. “Kemudian pihak mereka mengunjungi semua kelompok tani yag ada. Merekalah yang menentukan dua kelompok ini,”tuturnya.

Hamerudin mengatakan, kegiatan tersebut perdana dilakukan. “Ini akan dijadikan sebagai pilot project pertanian terintegrasi,” ujarnya. Pelatihan tersebut, kata Hamerudin berlangsung selama tiga hari, dan diikuti oleh 35 peserta.

Deputi Kepala Perwakilan BI Kepri, Eko Waluyo Purwoko mengatakan kegiatan tersebut merupakan upaya untuk menekan inflasi di Kota Tanjungpinang. “Kita lihat beberapa penyebab inflasi adalah komoditas seperti beras, cabai dan lainnya. Jadi kita coba di Tanjungpinang ini untuk pertanian cabai,” ujarnya.

Mengapa pertanian terintegrasi? Eko mengatakan, pertanian terintegrasi artinya pertanian yang tidak membuang limbah. Dengan dilakukan pertanian terintegrasi, maka limbah dari kotoran sapi sekalipun dapat dimanfaatkan. Tidak hanya digunakan sebagai pupuk bagi tanaman cabai nantinya, kotoran sapi juga akan diolah sedemikian rupa untuk dijadikan pakan lele.

Jika Tanjungpinang secara mandiri bisa menghasilkan komoditas sendiri. Dengan begitu, harga di pasaran tidak akan melambung tinggi. “Prinsipnya jika barang ada, harga stabil,” ujarnya.

Sementara Wali Kota Tanjungpinang, Lis Darmansyah meminta para peserta serius mengikuti workshop ataupun pelatihan tersebut, supaya hasil yang diperoleh maksimal. “Kami harapkan kelompok ini bisa menjadi contoh 18 kelurahan,” ujar Lis.

Lis berharap, jika setiap lurah bisa menerapkan sistem pertanian terintegrasi, maka bis dipastikan Tanjungpinang dapat mandiri pangan. “Saat ini tak usah muluk-muluk dulu. Yang penting kelompok ini harus berhasil,” ujarnya. (Lra/bpos)

Respon Anda?

komentar