Air SPAM di Anambas Tidak Merata, Warnanya Kuning dan Baunya Menyengat

676
Pesona Indonesia
Sambungan pipa induk yang ada di Desa Sri Tanjung tampak bocor. Airnya mengalir ke rumah warga yang ada dibagian bawahnya. foto: syahid/batampos
Sambungan pipa induk yang ada di Desa Sri Tanjung tampak bocor. Airnya mengalir ke rumah warga yang ada dibagian bawahnya. foto: syahid/batampos

batampos.co.id – Sistem Pengolahan Air Minum (SPAM) di Kabupaten Kepulauan Anambas masih amburadul. Hingga kini air yang diambil dari Gunung Samak belum mengalir secara normal. Ada beberapa titik sambungan yang terlihat bocor. Jika bertepatan dengan jadwal air mengalir, maka banyak sambungan yang bocor.

Di Kampung Baru, Tarempa contohnya, air dari pipa sambungan banyak yang bocor, jika dihitung lebih dari lima titik sambungan yang bocor. Di Desa Sri Tanjung juga ada salura pipa induk yang bocor deras sehingga mengalir di pemukiman warga. Demikian juga di Pantai Antang, sambungan pipa induk kurang rapat sehingga masih bocor.

“Banyak sekali sambungan yang bocor. Ada yang bocornya parah dan ada juga yang bocor biasa tetapi jumlah titiknya terlalu banyak,” ungkap salah seorang warga Tarempa Hadi.

Yang lebih janggal menurutnya yakni antara nama kegiatan SPAM dengan produk yang dihasilkan jelas berbeda. Jika dikaji, seharusnya air dari SPAM bisa diminum karena harus sesuai dengan namanya Sistem Pengolahan Air Minum. Tapi air yang dihasilkan tidak seperti itu. Justru sebaliknya. Air yang dihasilkan tidak labih baik dari air yang lama. Air dari SPAM ini kurang jernih dan mengeluarkan aroma yang tidak sedap.

“Airnya agak kekuning-kuningan dan baunya menyengat, kalau dipakai mandi kurang nyaman,” ungkapnya lagi.

Selain airnya kurang jernih dan bau, alirannya juga kurang merata. Di beberapa tempat ada yang sudah mengalir secara normal pagi hinggi sore, tapi ada juga di sebagian tempat masih menggunakan jadwal. Di Kampung Baru Tarempa contohnya, air mengalir pada hari Sabtu dan Minggu saja. Sementara hari lain tidak mengalir. “Hari biasa tidak ada mengalir, sementara dari pipa yang lama juga tidak ada mengalir, kita masih minta tetangga jika butuh air,” ungkapnya.

Sementara itu ketidak dikonfirmasi mengenai hal ini Camat Siantan Ardan, mengaku bahwasanya untuk mengelolaan SPAM ini belum menjadi tanggungjawabnya. Pasalnya belum ada serahterima dari pihak ketiga atau perusahaan pemenang tender.

“Kita belum bisa mengelola SPAM karena itu belum diserahterimakan, lagipula saat ini masih dalam masa pemeliharaan selama enam bulan kedepan. Mungkin sampai bulan Juni baru selesai masa pemeliharaan,” ungkap Ardan kepada wartawan kemarin.

Ia mengaku belum berani menerima tanggungjawab untuk mengelola SPAM ini karena dari alat atau pipa saluran air berbeda dengan SPAM yang lama yang menggunakan pipa air biasa. Sehingga jika terjadi kendala di lapangan nantinya, akan lebih susah untuk menanganinya.

“Kalau saluran air yang lama, mekanik kita sudah biasa menanganinya. Mau rusak atau patah seperti apa, pasti bisa menanganinya karena pipa saluran air masih pipa biasa, tapi kalau pipa SPAM yang baru ini tidak bisa karena pipanya lain, harus ada alat khusus untuk menyambungnya,” ungkapnya. (sya/bpos)

Respon Anda?

komentar