Alus Tak Pernah Rasakan Rumahnya Diterangi Listrik, 50 Tahun Bertemankan Lampu Teplok

1393
Pesona Indonesia
ilustrasi
ilustrasi

batampos.co.id – Warga RT 09/RW 04, Pulau Gin, Desa Numbing, Alus tak pernah merasakan rumah gubuk yang ditempatinya selama ini terang benderang dari cahaya lampu. Bahkan ia tak mengenal siaran yang disajikan dari berbagai chanel TV maupun mendengarkan musik dari radio. Sebab rumah beratapkan daun rumbia dengan dinding kayu yang mulai lapuk itu tak pernah tersentuh aliran istrik dari PLN. Jadi dalam menjalani hidup sehari-hari ia hanya bertemankan lampu teplok berbahan bahan bakar minyak tanah saja.

“Saya tak pernah merasakan rumah ini bercahaya lampu dan tak pernah nonton TV apalagi dengar musik dari radio. Selama 50 tahun, saya hanya ditemani lampu teplok aja. Itupun jika minyak tanah ada, kalau tak ada terpaksa bergelap-gelapan di tengah malam,” ujarnya saat diwawancarai media ini di rumahnya, Selasa (16/3).

Tak satupun kabel yang terlilit di tiang atap gubuk panggung berukuran 7×7 meter persegi itu. Hanya ada tiga lampu teplok yang terpajang di dinding rumahnya, diantaranya kamar tidur, kamar mandi dan ruang tamu. Dari cahaya lampu minyak tanah itulah yang selama ini menjaga lelap tidurnya. Lantai rumah yang tak tersusun dengan rapi akibat kayunya telah lapuk termakan usia membuat angin yang berhembus dari luar menyusup kedalam. Mungkin angin itu pengganti Ac ataupun kipas angin yang menenangkan dirinya di saat cuaca panas.

“Beginilah kondisi rumah saya. Rumah ini pernah dihantam gelombang kuat hingga membuat lantai kayu yang rapuh itu patah. Mau ganti kayunya, tak ada uang, apalagi mau pasang listrik yang biayanya hingga jutaan rupiah,” kata wanita paruh baya ini.

Dia bercerita, ia sudah menjanda selama 12 tahun dan memiliki satu anak laki-laki berusia 30 tahun. Anak sematawayangnya itu bernama Jamri. Saat ini anaknya bekerja dengan tauke ikan di Kecamatan Bintan Pesisir. Namun tugasnya saat ini sedang melaut atau mencari ikan di perairan Kalimantan. Dari hasil pekerjaan anaknya itulah bisa membantu memenuhi kebutuhan hidupnya selama ini. Tapi itupun pulangnya bisa satu bulan dan paling lama tiga bulan sekali.

Kalau berharap dari hasil yang dibawa pulang anaknya, sambungnya, ia pasti kelaparan. Jadi terpaksa ia mengais sedikit rezeki untuk mengisi perutnya. Rezeki itu dicarinya dari memancing ikan ataupun sotong di atas pelantar yang tak jauh dari gubuknya. Jikalau berhasil dapat sotong banyak, dijualnya ke penampung yang diapatok Rp 20 ribu perkilogram. Uang dari hasil penjualan itulah untuk membeli beras dan sisa dari tangkapannya itu bisa dibuat lauk pauk.

“Harus mancing dulu baru dapat duit. Jadi isi perut itu penting. Untuk beli lainnya, nanti kalau ada rezeki banyak. Tapi entah sampai kapan banyak duit,” jelasnya sembari tersenyum.

Hal senada diakui warga lainnya, Ulus mengakui rumah tetangganya tak pernah berlampu selama 50 tahun. Karena termasuk warga miskin di wilayah ini, sehingga tak mampu memasang listrik yang dipasoki dari mesin genset desa milik PLN.

“Iuran listrik untuk genset desa ini dipatok Rp 150-200 ribu perbulannya. Dengan nominal sebesar itu, kita juga merasa berat apalagi Bu Alus,” katanya.

Menurutnya iuran yang dipatok tidak sebanding dengan pasokan listrik yang dialiri pihak PLN ke rumahnya. Karena pasokan listrik hanya bisa dinikmati selama lima jam dalam sehari, mulai dari pukul 18.00-22.00 WIB. Sehingga dari batas waktu yang diberikan itulah dirinya juga terpaksa menggunakan lampu teplok untuk menerangi rumah.

Padahal sejak 2007, warga sudah berkali-kali mengusulkan penambahan pasokan listrik baik dari hasil rapat RT/RW hingga Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrembang) tingkat kecamatan dan kabupaten. Namun hingga 2016 ini tak satupun usulan itu disetujui oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bintan maupun Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bintan.

“Alasan semua pihak, kalau listrik daya besar masuk ke sini akan merugikan duit negara. Karena selain jumlah warga sedikit juga biaya operasionalnya besar,” sebutnya.

Sementara Ketua RT 09, Desa Numbing, Syahrudin mengatakan tidak semua warganya mampu membayarakan iuran listrik yang dipatok begitu besar perbulannya. Sehingga banyak warganya memilih menjalani hidup sehari-hari tanpa listrik dengan mengandalkan lampu minyak tanah saja.

“Kalau seluruh rumah warga mau terang benderang. Ya kita minta kepedulian pemerintah. Jangan hanya buat program Bintan Gemilang saja, tapi masih banyak wilayah gelap gulita,” sindirnya.

Permasalahan listrik yang terjadi di desa ini, lanjutnya, tidak hanya karena patokan harga tinggi yang dibebani kepada warga saja. Tapi juga ketersediaan pasokan listriknya juga. Karena sudah puluhan tahun warga di sini menikmati listrik selama lima jam dalam sehari selebihnya hanya mengandalkan lampu dari bahan bakarnya minyak tanah.

Bahkan permasalahan ketersediaan pasokan listrik ini, sambungnya, sudah pernah diusulkan ke pemerintah namun tidak pernah ditanggapai hingga saat ini. Jadi Ia bersama warganya sepakat akan kembali mengusulkannya saat Musrembang tingkat Kabupaten Bintan 2016 digelar akhir Maret ini.

“Kita tak peduli jika pemerintah bosan dengan usulan kita selama ini. Tapi kita akan terus berusaha agar usulan pasokan listrik ini dikabulkan,” ungkapnya. (ary/bpos)

Respon Anda?

komentar