Obat Sering Habis, Pasien BPJS di RSUD Embung Fatimah Terpaksa Beli Obat di Luar

910
Pesona Indonesia
Sutarman pasien yang dirawat inap di ruangan Anggrek kelas III RSUD Embung Fatimah dikipasi istrinya karena kepanasan. Pasalnya, air conditioner (AC) di ruangan itu tidak berfungsi dengan baik dan diperparah dengan tidak adanya saluran sirkulasi udara, sehingga ruangan terasa panas dan pengap. Foto: Dalil Harahap/ Batam Pos
Sutarman pasien yang dirawat inap di ruangan Anggrek kelas III RSUD Embung Fatimah dikipasi istrinya karena kepanasan. Pasalnya, air conditioner (AC) di ruangan itu tidak berfungsi dengan baik dan diperparah dengan tidak adanya saluran sirkulasi udara, sehingga ruangan terasa panas dan pengap.
Foto: Dalil Harahap/ Batam Pos

batampos.co.id – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Batam kembali menyoroti pelayanan medis pasien Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah Batam di Batu Aji. Pasalnya, pelayanan bagi pasien BPJS tidak memenuhi standar, seperti ruangan rawat inap yang panas dan pengap.

Belum lagi, banyak pasien berobat yang menggunakan BPJS tapi harus merogoh kocek lagi untuk membeli obat-obatan di luar karena stok obat yang diresepkan dokter habis, bahkan tak ada di rumah sakit berplat merah itu. Padahal sesuai aturan pasien BPJS sudah seharusnya mendapatkan pelayanan medis yang semua biaya perawatan dan obat-obatan ditanggung BPJS.

Dalam inspeksi mendadak (sidak) Komisi IV DPRD Kota Batam ke RSUD, kemarin kembali menemukan persoalan yang selama ini sering dikeluhkan pasien BPJS. ”Banyak masukan hal-hal yang mendasar tadi. Banyak pasien BPJS mengeluh karena mereka harus beli obat di luar,” ujar Ketua Komisi IV DPRD Kota Batam, Riky Indrakary di sela-sela sidak, kemarin.

Temuan itu sangat disayangkan oleh Riki, sebab anggaran yang besar untuk bidang kesehatan sebesar 10 persen dari total Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun 2015, seharusnya obat-obatan yang mendasar untuk BPJS sudah semestinya dijamin oleh pihak RSUD. ”Ini akan kami sampaikan ke komite medik, dan mempertanyakan kenapa bisa begitu,” kata Riky.

Sebelumnya, Irma salah satu pasien BPJS yang rutin melakukan terapi di RSUD menggunakan BPJS juga mengeluh hal serupa. Tiga kali berturut-turut wanita itu melakukan terapi dan obat yang diresepkan dokter selalu habis di apotek RSUD. ”Saya beli di luar semua. Di sini (RSUD) hanya terapi saja,” ujar ibu satu anak ini.

Selain obat-obatan, Komisi IV RSUD juga menemui persoalan mendasar lainnya, seperti ruangan rawat inap yang panas dan pengap, serta tidak adanya label pasien di ruangan IGD. Untuk ruangan rawat inap kelas III lantai II RSUD, Komisi IV mendapati keluhan pasien soal panas dan pengapnya di ruangan 212.

Noni, pasien penyakit komplikasi berusia 60-an tahun terpaksa harus membawa kipas angin sendiri dari rumah. Pasalnya, air conditioner (AC) di dalam ruangan rawat inap itu tidak berfungsi dengan baik dan diperparah dengan tidak adanya saluran sirkulasi udara, sehingga ruangan terasa panas dan pengap. ”Iya pak, mama saya kepanasan. Sudah tiga hari kami di sini, kami dari Tanjungpinang. Karena panas saya bawa kipas angin ini dari Tanjungpinang pak,” ujar salah satu putra Noni kepada sejumlah anggota Komisi IV DPRD Batam.

Untuk label pasien di ruangan IGD, menurut Riky, itu sangat penting. Sebab label akan mempermudah petugas medis atau keluarga pasien untuk mengetahui pasien. ”Kalau misalkan ada empat pasien masuk sekaligus, bagaimana mau tanggap cepat kalau labelnya tak ada. Dokter harus bolak balik tanya lagi rekam medis awalnya, padahal pasien butuh penanganan cepat,” jelasnya.

Selain itu, Riky juga meminta pihak RSUD memasang kontak pengaduan di setiap sudut ruangan RSUD. Itu bertujuan agar jika ada keluhan, pasien tahu kemana harus mengadu. ”Kalau misalkan obat di apotek habis, pasien bisa telepon ke nomor pengaduan itu,” tutur Riki.

Dari sidak tersebut, kata Riky, dia menyimpulkan bahwa pelayanan medis di RSUD perlu ditingkatkan lagi terlebih untuk pasien BPJS. Apabila ada kendala yang dihadapi petugas medis sebaiknya cepat dikoordinasikan dengan Pemko Batam agar masyarakat tak lagi mengeluh.

Sementara itu, Wakil Direktur RSUD Embung Fatimah, Afriani mengaku menerima masukan tersebut dan ke depannya akan diupayakan yang terbaik untuk RSUD. ”Ini masukan yang bagus dan akan jadi bahan pertimbangan kami ke depannya,” ucap Afriani. (eja)

Respon Anda?

komentar