Karyawannya Hanya Lulusan SD

1322
Pesona Indonesia

Nurbaiti, Pemilik T-Poci Batam

batampos.co.id – Niat awalnya ingin memberi pekerjaan pada anak-anak lulusan sekolah dasar di Batam.  Supaya mereka bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

Nurbaiti, pemilik T-Poci, kafe and resto di Ruko Nusantara Golden Blok A. No.9
Jl. Engku Putri, Batam Centre ini rela mengajari anak-anak itu menjadi tukang masak handal dan mampu mengelola rumah makan.

Baginya ada kepuasan saat karyawannya  bisa diterima bekerja di hotel atau restoran besar. “Saat itu tahun 2009, T-Poci, jualan saya masih angkringan di Graha Sulaiman, Nagoya. Tapi saya sudah punya impian itu,” kata Nurbaiti.

” Saya ingin menciptakan lapangan pekerjaan untuk mereka, makanya syarat karyawan saya hanya minimal tamatan SD dan punya identitas. Jadi mereka-yang susah mencari pekerjaan tanpa pengalaman,  dididik dan dilatih disini agar punya ketrampilan lebih, ” ujar PNS di Bappeda Batam ini.

Satu tahun pertama bisnis kata Ibeth, begitu ia biasa dipanggil, menjadi masa-masa penuh tantangan. Waktu buka angkringan, dapur untuk masak  masih di rumah. ”Saya masak sendiri hanya dibantu pembantu di rumah. Jam 4 sore saya baru pulang kerja, langsung nyiapkan masakan.  Jam 5 sore, masakan sudah diambil karyawan. Makanya selesai  sholat Subuh, saya sudah harus ke pasar,  lalu menyiapkan bahan yang perlu dimasak sebelum berangkat kantor. Kadang kalau Sabtu dan Minggu, saya dan suami langsung ikut jualan di angkringan. Biasanya ramai pembeli,” kata Ibeth.

Ada pengalaman lucu yang selalu diingat Ibeth. Saat itu, dia  hamil muda, tidak  bisa mencium bau masakan. Padahal tiap hari,  harus menyiapkan masakan untuk jualan. Akhirnya, dia pakai masker setiap kali masak, Untuk mencicipi masakan ia percayakan pembantunya.

Dua tahun berjalan, usaha angkringan T-Poci milik Ibet mulai berkembang, ia  mulai  merintis konsep resto di ruko Baloi Indosat. Memang bekerja sambil memiliki usaha itu tantangannya lebih berat. Ibeth mengaku pernah dalam kondisi ingin menutup bisnisnya.

”Pada saat itu tuntutan pekerjaan kantor tidak bisa ditinggal. Dan juga harus mengurus keluarga. Tetapi pada saat memikirkan nasib karyawan, saya jadi semangat. Apalagi banyak karyawan T’poci yang akhirnya bisa bekerja di hotel dan restoran yang sudah punya nama dan mendapat penghidupan lebih layak.  Saya bangga, walaupun ada juga yang keluar dari resto dan masih belum berhasil,” kata Ibeth yang kini sedang tugas belajar di Universitas Indonesia Jakarta.

Walau kini T-Poci sudah menjadi resto terkenal di bilangan Batam Center.  Berkonsep sebagai tempat kongkow anak muda dan keluarga yang nyaman, Ibeth masih punya keinginan untuk lebih mengenalkan T-Poci seantero Batam. ” Pengen punya food truck yang mobile kemana-mana, supaya  bisa menguasai pasar seluruh area Batam,” kata istri Kristian Tri Gunawan,  PNS Dinas Tata Kota yang menjabat sebagai Kasi Bangunan Gedung.

Saya juga ingin mewujudkan impian jangka panjang, yaitu  membuka franchise di luar Batam. Karyawan-karyawan yang loyal dengan saya sejak awal berdiri bisa membuka cabang T-Poci dan menjadi bisnis pribadi. Saya ingin meningkatkan derajat kehidupan mereka. From zero to hero,” kata Ibeth.

Memulai bisnis dengan modal awal 25 juta, dan omset kotor Rp 700-1 juta perhari. Membuat Ibeth terus berfikir untuk mengembangkan T-Poci menjadi lebih besar.
Pencapaian omset yang kadang naik dan turun, bagi Ibeth itu biasa. Tahun 2015 ini saja, terjadi penurunan yang besar.

” Mungkin daya beli masyarakat ikut turun. Tapi omset masih seputaran Rp 1,5 juta/hari. Pendapatan agak banyak hanya weekend saja. Kalau awal-awal dulu, 1 tahun pertama  cuma bisa buat ikutan makan saja. Tapi sekarang bisalah buat bayar kredit ruko,” katanya.

Ibeth ternyata pernah punya pengalaman ditipu karyawannya sendiri.  ”Uang pendapatan restoran ditilep. Dia bekerjasama dengan kasir. Saya memang pernah tidak mengontrol restoran karena harus dinas ke luar kota.

Dari pengalaman ditilep itulah, Ibeth mengaku  belajar mengelola manajemen dan meningkatkan kejujuran karyawan. ”Walau gaji belum bisa memenuhi UMK, tapi saya usahakan tempat tinggal yg layak serta makan yg bergizi buat karyawan,” kata ibu  Nur Seisha T.Gunawan (15 thn), santri di Pesantren Daar Elqolam Islamic Boarding School-Tangerang, Nur Annisa N.Gunawan (10 thn), pelajar di SD Harapan Utama Batam dan Muhammad Hafuza A.Gunawan (5 thn) di playgroup Berties School House Batam. (agn)

Respon Anda?

komentar