Manusia, Agama, dan Lingkungan

656
Pesona Indonesia

Sebagai negara berkembang, Indonesia terus membenahi dengan banyaknya aktivitas pembangunan, bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat, namun aktivitasnya berdampak kepada kerusakan lingkungan, Berbagai macam kerusakan lingkungan yang terjadi karena perilaku manusia, disamping faktor alamiah.

Pada dasarnya kerusakan lingkungan disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya adalah faktor internal dan eksternal. Kerusakan internal (faktor dalam) disebabkan oleh lingkungan itu sendiri, yakni kerusakan dengan proses alami, seperti gempa bumi, letusan gunung berapi yang berdampak pada ketidakseimbangan organisme hayati maupun non hayati.

Selanjutnya adalah kerusakan eksternal (faktor luar), yaitu kerusakan yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Walaupun pada awal aktivitas ini untuk peningkatan kualitas hidupnya. Seperti aktivitas industri yang mengeluarkan limbah berbahaya kedalam lingkungan tanpa adanya pengelolaan terlebih dahulu, asap kendaraan bermotor yang menyebabkan polusi udara, aktivitas rumah tangga yang mengeluarkan limbah domestik, pembuangan sampah di sembarang tempat dan lain-lain, sehingga aktivitas-aktivitas ini menjadikan alam dan lingkungan menjadi tercemar, dan tidak dapat berjalan berdasarkan ekosistemnya.

Sejalan dengan faktor eksternal ini, menurut Sony Keraf kerusakan lingkungan adalah masalah moral dan perilaku manusia. Oleh karena itu perlu adanya etika dan moralitas untuk mangatasinya. Posisi manusia sebagai konsumen dan pengelola sumberdaya alam harus memperhatikan etika dan kesadaran dalam pemanfaatannya. Sebagai penciptaanya manusia harus benar-benar bertanggungjawab terhadap keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup.

Menurut Quraish Shihab, walaupun manusia boleh memanfaatkan material bumi, tetapi harus mengelolanya dengan baik, yakni dengan mengingat manusia dan makhluk yang telah hidup dan yang akan hidup sesudahnya. Jika manusia sebelumnya telah menyisakan banyak untuk dimanfaatkan maka jangan menghabiskan atau merusak untuk manusia generasi setelahnya.

Dalam keterangan yang lain, manusia dituntut memiliki interaksi manusia dengan lingkungannya sesuai dengan petunjuk-petunjuk atau aturan-aturan yang diwahyukan Tuhan. Ini merupakan tujuan dari etika agama, yakni dengan sungguh-sungguh memperkuat hubungan manusia dengan alam, akan semakin banyak yang dapat diperoleh manfaat melalui alam itu. Hubungan harmonis manusia dan alam akan melahirkan kemakmuran.

Agama Ramah Lingkungan
Berbagai macam cara untuk menyelesaikan permasalahan lingkungan hidup, penanganan dengan pendekatan teknik-intelektual sudah banyak diupayakan, dari situ muncul penelitian-penelitian teknologi yang dalam hasilnya banyak diaplikasikan dalam kehidupan. Di samping pendekatan teknik-intelektual perlu penanganan dengan pendekatan etika atau moral-spiritual.
Ali Yafie menawarkan pandangan yang bersumber pada suatu nilai moral yang dijabarkan dalam norma-norma spiritual yang dikembangkan oleh salah satu disiplin ilmu agama (fiqih).

Dengan ilmu ini diharapkan manusia mempunyai pola pandangan baru yang menyangkut masalah-masalah kehidupan dan alam, dan menyadarkan manusia atas fungsinya memperhatikan kelestarian lingkungan hidup. Selanjutnya Llewellyn juga memberikan prinsip mengenai hukum islam lingkungan, bahwa manusia dalam posisinya sebagai khilafah yang mempunyai tugas dalam jalan hidupnya tidak hanya memanfaatkan dan menikmati alam saja, namun juga mempunyai hubungan yang berkaitan (penanggung jawab) atas kelestarian, dengan prinsip ini dapat terealisasi hukum Islam tentang lingkungan.

Mujiyono Abdillah menyatakan, pengembangan kesadaran lingkungan dengan pendekatan agama dapat dilakukan dengan dua dimensi, yaitu dimensi teologi dan dimensi syariah. Dimensi teologi memfokuskan kajiannya pada sistem keyakinan agama (Islam) berkaitan dengan lingkungan atau disebut teologi lingkungan. Sedangkan dimensi syariah yang menitikberatkan pada perumusan panduan operasional hidup yang berbawawasan lingkungan, sebagaimana yang ditawarkan Ali Yafie yaitu Fiqih Lingkungan.

Agama adalah sebuah ideologi yang menimbulkan perubahan. Memang pada prinsipnya agama diturunkan untuk mengubah manusia dari berbagai kegelapan (buta terhadap alam) kepada cahaya (pengetahuan agama dalam pelestarian lingkungan) (QS. 06 : 1). Perubahan perilaku orang beragama bermula dari dimensi intelektual (pengenalan akan syariat Islam), bisa dikatakan bahwa perubahan perilaku seseorang dikaitkan dengan pengetahuan yang dimiliki. Orang tidak mengelola lingkungan karena dia tidak mengetahui cara mengelola lingkungan. Agama (Islam) mengatur berbagai macam aturan perilaku manusia termasuk perilaku manusia dengan alam (lingkungan).

Adanya hubungan antara perilaku beragama dengan perilaku pengelolaan lingkungan perlu diperhatikan dan dikembangkan, salah satunya adalah dengan melibatkan pihak atau lembaga yang terkait seperti pondok pesantren. Lembaga ini diharapkan menjadi agen perubahan (agent of change) yang dapat berperan sebagai dinamisator pemberdayaan manusia, penggerak pembangunan di segala bidang dan pengembang ilmu pengetahuan dan teknologi dalam mengahadapi permasalahan global yaitu permasalahan lingkungan.***

Muhammad-Labib

Respon Anda?

komentar