Pemerintah Kucurkan Rp 100 Miliar untuk Riset Mobil Listrik

759
Pesona Indonesia
Dasep, pengusaha yang memiliki tekad kuat untuk membangun industri mobil listrik nasional. Foto: istimewa
Dasep, pengusaha yang memiliki tekad kuat untuk membangun industri mobil listrik nasional. Foto: istimewa

batampos.co.id  – Vonis kurungan penjara tujuh tahun oleh Pengadilan Tipikor kepada Dasep Ahmadi, peneliti mobil listrik, Senin lalu (14/3/2016), tidak mengganggu proyek mobil listrik nasional (Molina). Proyek yang dikeroyok lima universitas ternama itu, bahkan bakal memasuki babak baru tahun depan. Yakni memenuhi target pembuatan rancang bangun atau prototipe.

Keseriusan pemerintah melanjutkan proyek peninggalan rezim Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu, disampaikan langsung oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir.

“Targetnya memang tahun depan sudah jadi prototipe-nya dulu,” katanya usai meresmikan perubahan nama Universitas Prasetya Mulya di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, Tangerang, Kamis (17/3/2016).

Nasir menjelaskan Molina merupakan proyek riset yang digarap serentak di lima kampus. Yaitu Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Universitas Sebelas Maret, dan Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya. Nantinya setiap kampus ini wajib membuat prototipe mobil listrik masing-masing. Selanjutnya akan dikaji dan diteruskan pada tahap analisis potensi produksi masal.

Untuk mengejar target prototipe itu, Nasir mengatakan pemerintah tahun ini kembali menggelontorkan dana riset Molina. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, dana riset yang dikucurkan tahun ini mencapai Rp 100 miliar. Dana itu kemudian dibagi ke setiap kampus yang terlibat dalam proyek nasional itu.

Mantan rektor Universitas Diponegoro (Undip) itu menjelaskan, pemerintah optimis putusan pengadilan terhadap Dasep tidak mempengaruhi penelitian Molina di kampus-kampus. Sebab kegiatan Molina ini murni riset, bukan pengadaan mobil listrik siap pakai. Nasir menegaskan tugas kampus yang terlibat dalam Molina ini adalah meriset hingga menciptakan prototipe mobil listrik. Urusan pengadaan unit yang siap dijual, ada tahapannya sendiri.

Menurut Nasir proyek Molina ini sangat berbeda dengan kasus yang menjerat Dasep. Nasir mengatakan kegiatan mobil listrik Dasep terkait dengan anggaran yang sudah dikucurkan dengan jumlah mobil yang harus ada.

“Misalnya. Dia sudah teken kontrak dengan anggaran sekian maka akan menghasilkan mobil listrik 10 unit. Ternyata cuma jadi 5 unit, apakah itu tidak masalah,” kata dia.

Nasir mengatakan Kemenristek juga ikut memantau perkara hukum yang menjerat Dasep. Dia mengaku sangat prihatin atas kejadian itu. Nasir berharap kasus Dasep menjadi pelajaran.

“Tapi bukan berarti kemudian akademisi takut melakukan penelitian,” pungkasnya.

Pemerhati transportasi Darmaningtyas menuturkan, keberadaan mobil listrik cepat atau lambat akan menjadi kebutuhan bangsa Indonesia. Dia mengaku bersyukur pemerintah berkomitmen terus melanjutkan proyek Molina. Namun dia mengingatakan komitmen pemerintah ini tidak cukup hanya sekedar kembali mengucurkan anggaran riset.

Menurut Darma selain urusan pendanaan, pemerintah juga harus memberikan jaminana hukum dan kesejahteraan kepada seluruh periset Molina.

“Vonis untuk Dasep, jelas memiliki dampak psikologis terhadap peneliti mobil listrik,” kata dia. Untuk itu dia meminta pemerintah memberikan perlindungan terhadap potensi kriminalisasi riset mobil listrik yang sumber dananya dari uang negara.

Selain itu pemerintah juga menjamin kesejahteraan hidup para peneliti Molina. Darma tidak ingin para peneliti mencurahkan tenaga untuk Molina, tetapi hidupnya sengsara. Secara pribadi ketua LSM transportasi Instran itu tidak sabar menunggu wujud Molina.

Proyek Molina dimulai sekitar tahun 2011-2012. Komando proyek ini waktu itu ada di Ditjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Pada 2013 pemerintah berencana membentuk Badan Pengembangan Teknologi dan Industri Otomotif (BPTIT). Setiap tahun secara reguler pemerintah mengalokasikan anggaran Rp 100 miliar untuk proyek Molina itu. (wan/jpgrup)

Respon Anda?

komentar