Penyakit Jembrana Serang Sapi di Anambas

478
Pesona Indonesia
Sapi Jembrana sedang diperiksa petugas. foto:syahid/batampos
Sapi Jembrana sedang diperiksa petugas. foto:syahid/batampos

batampos.co.id – Di Kabupaten Kepulauan Anambas saat ini muncul penyakit baru pada sapi. Baru-baru ini sejumlah sapi yang ada di beberapa desa di Kecamatan Jemaja Timur diketahui ada yang terjangkit penyakit Jembrana. Salah satu penyakit yang hanya menyerang pada sapi bali. Penyakit ini tidak bisa menular ke jenis sapi lain.

Jumlah sapi yang terjangkit penyakit ini belum diketahui dengan pasti karena penelitian baru dilakukan secar representatif. Dari 15 ekor sapi yang diteliti ada 3 ekor yang terjangkit Jembrana atau sekitar 20 persen. Padahal diketahui di Anambas ini ada sekitar 4.000 sapi.

“Penelitian ini dilakukan oleh Balai Feteriner Bukit Tinggi Padang Sumatera Barat. Penelitian dilakukan bulan Oktober lalu hasilnya pada bulan Februari lalu,” ungkap Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kepulauan Anambas Ardi Abdillah.

Jelas Ardi, ciri-ciri sapi yang sudah terkena Jembrana yakni demam tinggi, terjadi pembengkakan atau benjolah di beberapa bagian tubuh seperti di selangkangan kaki depan maupun belakang, kemudian benjolan juga bisa muncul dibagian dekat rahang sapi. Jika sudah parah, maka sapi yang mengidap Jembrana akan muncul banyak bintik-bintik merah bahkan jika terlalu parah muncul keringat darah di bagian tubuh sapi.

“Bintik-bintiknya berbeda dengan bintik-bintik yang disebabkan oleh gigitan nyamuk. Kalau digigit nyamuk biasanya hanya ada beberapa saja tapi kalau bintik-bintik yang disebabkan karena Jembrana itu lebih banyak lagi,” ungkapnya.

Kata Ardi, penularan penyakit ini bisa disebabkan oleh gigitan nyamuk. Jika ada nyamuk yang menggigit sapi yang mengidap penyakit Jembrana kemudian mengigit sapi lain khususnya sapi bali akan menular. Bukan hanya dari gigitan nyamuk tapi Jembrana juga bisa menular melalui lalat.

“Salah satu cara untuk menanggulangi wabah ini yakni dengan mengurangi perkembangbiakan nyamuk dan lalat yang ada di sekitar sapi bali. Kita juga telah memberikan vaksinasi khusus sapi yang sudah diambil sample darahnya,” ungkapnya lagi.

Sementara itu mengenai bahaya penyakit ini. Jika sapi tidak segera ditolong maka akan menular pada sapi-sapi lainnya khususnya sapi bali. Sementara itu risiko kematian juga tinggi. “Jika dibiarkan risiko kematian bisa mencapai 17 persen. Ini termasuk tinggi. Namun sejauh ini daging sapi tersebut masih aman untuk dikonsumsi manusia,” jelasnya.

Pihaknya berharap jika ada masyarakat yang secara sengaja atau tidak menemukan ciri-ciri seperti diatas agar segera melaporkan hal ini kepada Dinas Pertanian dan Kehutanan atau minimal kepad UPT terdekat agar segera ditangani. “Kalau ada yang lapor nantinya kita akan tangani,” tandasnya. (sya/bpos)

Respon Anda?

komentar