Dato Seri Lela Budaya dan Sepuluh Dato Penasehat

1222
Pesona Indonesia

Kolom Husnizar Hood

Awal dari mukaddimah ini tentulah saya dan kawan saya Mahmud yang baik hati itu hendak mengucapkan Syabas serta Tahniah kepada bang Rida K Liamsi yang kemarin telah mendapatkan gelar Dato Seri Lela Budaya dari Lembaga Adat Melayu Riau.

“Itu bukan sembarang gelar, kalau tak salah itulah satu-satunya gelar dan baru satu orang pula yang menerima gelarnya,” ucap Mahmud kawan saya.

Sungguh saya dan Mahmud bangga mendengar kabar itu, gerun hati kami membayangkannya walaupun kami tak secara langsung menyaksikannya tapi kami seperti dapat merasakan getaran jiwanya.

“Ah, berlebih pula awak ni Tok..,” ujar Mahmud. Saya tersenyum simpul saja.

Kawan saya Mahmud itu entah kenapa dari sejak dulu lagi sudah terbiasa memanggil saya dengan panggilan Datok, seperti Dato atau ditulis dengan Datuk. Biarkanlah saya membiasakannya dengan Datok.

Ya, seperti barusan tadi dia menyapa saya atau misalnya ketika ia berkabar bilang dengan saya sehari-hari; “Apa kabar, Tok?”, “Hendak kemana, Tok?”, “Apa nak jadi dengan negeri ini, Tok?”. Itulah ungkapan Mahmud jika kami bertemu, bersembang,  apalagi di penghujung pekan seperti sekarang ini.

Ketika Mahmud memanggil saya dengan panggilan Datok, meskipun tanpa embel-embel di belakangnya, misalnya Datok Wira atau Datok Setia atau apalah namanya, terbayang pula saya kalaulah saya yang mendapatkan gelar Datok seperti yang diterima Bang Rida itu, entah apalah jadinya.

Melayang rasa badan!

Walapun belum pernah mendapat gelar Datok tapi dipanggil Datok oleh Mahmud sudah.

Itupun sangat saya syukuri dan meskipun dari mulut kawan saya yang sederhana tanpa SK atau upacara adatnya, terasa bangga juga di dalam hati dan entah kenapa saya bagai tak bisa menolaknya tapi sayapun tak pernah bertanya kepadanya alasan kenapa ia memanggil saya dengan panggilan Datok itu. Padahal saya belum bercucu, belum terlalu tua, belum masuk dalam organisasi yang dihuni para Datok-datok itu. Dulu pernah masuk tapi dikeluarkan mungkin dianggap tak layak. Entahlah, saya tak tau ukuran layak atau tak layaknya seperti apa.

Atau karena itu, karena kesedihan itu, saya dikeluarkan, Mahmud kasihan melihat saya dan mulai memanggil saya dengan Datok, ha ha ha…saya tertawa sendiri, atau lagi, mungkin Mahmud memanggil saya dengan Datok itu karena ingin menghargai saya saja, membesarkan hati saya, walaupun umur kami tak begitu jauh berbeda tapi mungkin ia mengganggap saya lebih selangkah daripadanya, selangkah yang hanya kami berdua yang tau, walaupun itu hanya dugaan saya saja yang belum tentu juga akan kebenarannya.

Namun demikian saya pikir begitulah kiranya cara kita berkawan, mana yang baik kita kedepankan apa yang perlu dihargai kita sanjungkan dan tentu mana yang tak baik kita ulang kaji untuk disempurnakan. Diperbaiki. Saling menghargai, mengenang budi, jangan waktu ada keperluan saja kita dicari-cari, begitu sudah menjadi hanya ajudannya saja yang bisa kita jumpai, itupun nampak drama ajudannya penuh basa-basi.

Di sekeliling kita sebetulnya banyak orang yang pantas dipanggil dan diberi gelar Datok karena kemampuannya, misalnya akhir-akhir ini kita melihat beberapa kali pelantikan pemimpin negeri, itu Datok-datok semuanya, bagaimana mereka tak pantas bergelar atau di panggil Datok, mereka itu adalah pemangku kebijakan dan penghulu negeri ini, di tangan merekalah apa yang akan terjadi dengan daerah yang akan dipimpinnya nanti. Hitam atau putih, merah atau biru, kuning atau hijau merekalah yang akan mewarnainya.

Dulu di kampung halaman, tanah kelahiran, orang tua saya atau Bapak saya di panggil dengan Datuk juga, dia adalah seorang Kepala Desa, Tok Penghulu panggilannya, bukan penghulu nikah kahwin, ini Penghulu kampung, saya bisa merasakan gelar itu meskipun tanpa sebuah acara atau dengan kata lain secara otomatis melekat padanya, pangkat Tok Penghulu iu bagai sebuah kuasa yang tiada taranya. Kalau Tok Penghulu datang orang sibuk menyongsong menyalaminya dan menghormatinya, kalau waktu makan ia didahulukan, kepala kambing dihidangkan untuknya, kalau tiba waktu Magrib dia berjalan ke Mesjid ada anak muda yang masih berada di tepi sungai, begitu nampak Tok Penghulu rela terjun dan bersembunyi di sungai guna mengelak diamuknya.

Alkisah, kemarin, Datok kita juga telah sama-sama kita ketahui telah melantik 10 Datok-datok sebagai staf khususnya, bagi saya mereka itu adalah Datok-datok semua, orang pilihan, jika dalam sebuah kerajaan mereka mungkin bisa disamakan dengan penasehat kerajaan, dari para Datok-datok penasehat kerajaan itulah keputusan-keputusan yang akan diambil. Meskipun kita tau juga sudah ada juga lembaga-lembaga yang menjadi pelaksananya. Dinas atau SKPD namanya. Mungkin 10 Datok-datok staf khusus itu nanti akan memberikan pandangan dari sisi lain. Misalnya dari sisi suara masyarakat yang mungkin tak terdengar. Suara rakyat yang tak terjangkau, Itu luar biasa.

Karena penasehat ini bukanlah sembarang orang.

Saya diceritakan oleh seorang kawan di dalam pemerintahan kerajaan di suatu zaman dahulu kala, adanya orang-orang yang akan memberi telaah dan kajian kepada Raja jika ada seseorang yang membuat kekacauan dalam kerajaan, orang-orang itu akan di panggil untuk membicarakannya. Orang-orang disebut dengan Dewan Racun walaupun tidak dilembagakan tapi hanya merupakan sebutan, bagi mereka jika ada pengacau daripada kerajaan terganggu lebih baik seoarang itu diracun saja daripada menghancurkan Negara, biar hilang seorang tapi selamat kerajaan. Mengerikan.

Sampai begitulah apa yang dibuat oleh para penasehat kerajaan, meskipun pada hari ini hal seperti itu tak diperbolehkan lagi.

“Datok yang macam gelar yang diterima Bang Rida itu ada tak, Mud?” tanya saya.

Maksud saya staf khusus bidang budaya, Kawan saya itu merenung lama, mungkin ia tak merekam satu persatu dari 10 Datok-datok staf khusus itu, sehingga ia harus mengingat dan memilah-milahnya lagi.

“Rasanya tak ada, Tok,” jawab Mahmud. Saya pun mengangguk-anggukkan kepala agak lama. Mungkin bidang budaya tak perlu, bagi mereka budaya itu mudah mengurusnya, kasi duit berjogetlah dia, dikashi rokok berdangkonglah mereka. Kasih panggung terpekik terlolonglah dia.

Mahmud tertawa, sayapun ikut-ikut tertawa, walaupun saya tak tau apakah Mahmud mentertawakan apa yang saya katakan tentang mengurus kebudayaan itu, dia tau tak semudah itu, kalau tak percaya tanyalah pada Dato Seri Lela Budaya, negeri kita ini rapuh dalam menyangga kebudayaannya mungkin kita perlu seratus bahkan seribu pancang nibung untuk menyangganya, kita perlu waktu yang lama untuk bangkit kembali seperti kejayaan yang sudah dicapai para pendahulu.

Tapi biarlah, mungkin Datok-datok itu ternyata dalam diam berpikir sama dengan apa yang kami pikirkan, bagaimana menyambung jembatan yang rubuh itu agar kita bisa tiba di seberang dengan kegembiraan, bagaimana merangkai pulau-pulau yang terserak biar menjelma bagai sulaman, bagaimana mencapai kata sepakat bahwa negeri ini harus menjadi negeri yang bermartabat, bukan negeri yang sudah berulang-ulang disuruh taubat. Kawan saya Mahmud terdiam, biarlah remuk redam tapi jauhkanlah dendam.***

 

 

 

 

 

Respon Anda?

komentar