Membumikan Kasih Sayang

496
Pesona Indonesia

Satu di antara pesan Nabi Muhammad SAW adalah “Apabila kamu memasak, hendaklah kamu memperbanyak kuahnya”. Petuah ini sangat popular disebagian besar masyarakat Islam khususnya di perdesaan. Memperbanyak air/kuah dalam petunjuk Nabi tersebut bertujuan untuk memberikan sebagian masakan kepada tetangga. Begitulah hebatnya Nabi, dalam memasak pun beliau tetap mengajak kita memikirkan nasib orang lain. Mungkin sebagian orang menganggap hal ini sepele, tetapi sesungguhnya maknanya sangat dalam bagi tatanan kemanusiaan. Percayalah, berawal dari pesan yang sederhana dalam bentuk berbagi sesuatu kepada tetangga, niscaya akan menanamkan ajaran agama yang hanif.

Cara beragama dari ajaran-ajaran sosial yang sangat sederhana seperti di atas mempunyai keistimewaan tersendiri apabila dibandingkan dengan tendensi beragama dari ajaran-ajaran ritual dan legal formal. Setengah kalangan berpendapat bahwa beragama adalah membangun Negara Islam dan membudayakan Islam simbol, namun menurut hemat saya tidak selalu harus demikian. Beragama dapat diartikan menebarkan kedermawanan dan kasih sayang, walaupun tanpa melalui membangun Negara Islam dan membudayakan Islam simbol terlebih dahulu. Upaya menegakkan syariat tidak mesti melalui Negara, tetapi bisa dimulai dari hal-hal yang ringan dan sederhana, seperti membangun tenggang rasa dan kasih sayang kepada sesama insan.

Kasih Sayang buah Keimanan
Doktrin yang paling pokok dalam ajaran Islam adalah Iman, bahkan iman merupakan pangkal dan prasyarat dalam berIslam. Setelah Iman tumbuh Islam dan kelanjutannya adalah Ihsan. Namun persoalannya kemudian adalah bagamana fungsionalisasi iman dalam konteks sosial? Oleh karena itu, diperlukan pemaknaan yang lebih mendasar tentang ekspresi iman dalam konteks sosial. Sejatinya iman harus menjadi “korpus terbuka” yang mampu diterjemahkan ditengah masyarakat luas. Adakalanya iman harus dimaknai sebagai konsep kasih sayang dan kerahmatan. Mungkinkah?

Sangat mungkin, bahkan seharusnya memang demikian. Karena iman sesungguhnya merupakan penjelamaan dari keagungan Allah SWT. Dan keagungan Allah terletak dalam sifat-sifat Nya yang penuh Kasih dan Sayang. Salah satu ayat Alquran yang selalu terbaca oleh kita adalah bismillahirrahmaanirrahiim. Ayat ini mengandung penegasan bahwa dalam memulai sesuatu dan melakukan setiap pekerjaan harus mengingat keagungan Allah sang Penebar Kasih dan Sayang.

Jadi ungkapan bismillah, sesungguhnya mengandung dua makna sekaligus. Pertama, mengingat keagungan Allah, ini merupakan ekspresi dari esensi iman. Kedua, memahami sifat Allah sebagai Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Artinya keagungan Allah tersebut dijelaskan dalam sifat Nya yang mengajarkan Kasih-Sayang dan Kerahmatan.

Sungguh tapat jika hal ini menjadi bahan renungan bersama, bahwa dalam berislam perlu penghayatan dan pemahaman yang bersifat subtantif. Pemaknaan Islam sebagai agama kasih sayang dikukuhkan dengan penyebutan salah satu surat Alquran dengan nama Ar-Rahman. Dengan demikian panduan hidup orang Islam sebenarnya sangat sarat dengan ajaran kasih sayang.

Membumikan Ajaran Kasih Sayang
Bagaimana cara membumikan ajaran kasih sayang di tengah kehidupan nyata? Ini pertanyaan yang sering muncul dipermukaan pada kajian tentang kasih sayang dalam Islam. Pertama, kasih sayang harus menjadi mekanisme internal sesama umat islam. Kita pahami bahwa Islam menjelma dipermukaan bumi ini dalam bentuknya yang beragam, bahkan tersebar diberbagai wilayah dalam bentuk madzhab.

Hal ini membutuhkan sebuah perekat diantara keragaman tersebut (madzhab). Disinilah ajaran kasih sayang menjadi penting, bahwa ditengah perbedaan dalam bentuk apapun harus dilandasi dengan kasih sayang, sehingga perbedaan yang ada tidak mengakibatkan konflik sosial internal umat Islam. Ingat, perbedaan dan keragaman cara berIslam (terutama dalam hal Fiqh) harus dibingkai dengan semangat kasih sayang agar kita mendapat rahmat dari Sang Maha Kasih dan Maha Sayang.

Kedua, kasih sayang harus menjadi mekanisme dan solusi eksternal, terutama dalam hubungan umat islam dengan umat lain. Islam sebagai agama yang hadir dalam konteks yang sangat luas meniscayakan adanya sikap simpati terhadap agama dan kelompok lain. Diperlukan keterbukaan dan keinginan untuk hidup bersama secara damai dan aman.

Salah satu konsep ajaran Islam yang sangat sederhana adalah menghormati dan menghargai tetangga. Disebutkan dalam sebuah hadits Nabi Muhammad SAW, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaklah ia menghormati tetangganya”. Dalam hadits yang sangat sepesial lagi disebutkan, “Salah seorang dari kamu tidak disebut beriman, sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”(HR. Bukhari dalam Sahih al-Bukhari Juz I no 13).

Ada pesan penting dalam hadits tersebut tentang perlunya menjaga keakraban dengan tetangga, apapun agamanya, sukunya, warna kulitnya, strata sosial serta rasnya. Iman dan Islam kita perlu diterjemahkan dengan menebarkan kasih sayang kepada tetangga. Lebih penting lagi, bahwa penekanan cinta kasih dan sayang harus menjalar keorang lain secara luas, sebagaimana kita berkeinginan dicintai, dikasihi dan disayangi. Sehingga tidak berlebihan kita pahami bahwa Islam adalah agama yang sarat dengan ajaran sosial, bahkan terkesan jauh mementingkan kepentingan sosial di atas kepentingan pribadi.

Nilai-nilai Islam seperti ini tentu saja perlu diterjemahkan secara integral dalam tatanan praktis. Islam yang kita anut sejatinya agama moral yang bersifat praksis yang mampu mengasah visi keberpihakan kepada kaum lemah dan dalam konteks yang plural dengan bingkai saling mengasihi dan menyayangi. Sebagai masyarakat Islam kita wajib melakukan pergerakan da’wah Islamiyah dengan ruh kasih sayang, karena dengan langkah ini akan menyuburkan da’wah ditengah kegersangan kehidupan anak manusia di kota yang strategis dalam segala hal ini. Wallahua’lam. ***

Sudirman-Dianto

Respon Anda?

komentar