Apindo Kritik Perbankan yang Lamban Turunkan Suku Bunga

907
Pesona Indonesia
Ilustrasi suku bunga deposito di BRI. Foto: istimewa
Ilustrasi suku bunga deposito di BRI. Foto: istimewa

batampos.co.id – Kebijakan pemerintah untuk mendorong penurunan suku bunga, rupanya lebih cepat direspons oleh Bank Indonesia (BI) yang sepanjang tahun ini sudah menurunkan BI Rate 75 basis poin. Sayangnya, respons perbankan justru lamban, bahkan bank BUMN sekalipun.

Hal itulah yang membuat pelaku usaha gerah. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengatakan, suku bunga kredit di Indonesia masih menjadi yang tertinggi di kawasan Asean.

”Ini sangat tidak kompetitif bagi dunia usaha,” ujarnya, Sabtu (19/3/2016).

Hariyadi menyebut, suku bunga kredit korporasi di Indonesia masih di kisaran 11 persen. Sementara di negara-negara di Asean lain, semuanya di bawah 8 persen. Misalnya, Thailand sekitar 7,1 persen, Filipina 5,8 persen, Singapura 5,3 persen, dan Malaysia 4,5 persen. ”Di Indonesia, untuk turun single digit (di bawah 10 persen) saja masih susah,” katanya.

Karena itu, tak mengherankan jika Gubernur BI Agus Martowardojo pun melayangkan sindiran kepada perbankan yang baru menurunkan suku bunga simpanan 7 basis poin dan suku bunga kredit 5 basis poin, jauh di bawah penurunan BI Rate yang sudah 75 basis poin atau 0,75 persen.

Menurut Hariyadi, bank perlu segera merespons desakan penurunan suku bunga agar momentum pertumbuhan ekonomi yang sudah tampak sejak Triwulan III 2015 lalu bisa terakselerasi di awal 2016 ini.

”Kalau bunga tidak kunjung turun, pelaku usaha bisa kehilangan momentum untuk ekspansi,” jelas bos jaringan hotel Sahid Group yang juga anggota Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) itu.

Staf Khusus Wakil Presiden bidang Ekonomi dan Keuangan Wijayanto Samirin mengakui, dari berbagai indikator yang ada, saat ini perbankan Indonesia memang kalah kompetitif dibanding perbankan di negara tetangga. ”Makanya pemerintah terus mendorong bank agar lebih efisien,” ucapnya.

Selain suku bunga kredit yang lebih tinggi, net interest margin (NIM) atau selisih antara bunga simpanan dan bunga kredit di Indonesia yang mencapai 5,4 persen juga paling tinggi di Asean. Juga rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) yang mencapai 81,8 persen.

“Itu jauh di atas rata-rata BOPO bank di Asean yang hanya 40-60 persen,” ujarnya.

Bagaimana tanggapan perbankan? Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Budi G. Sadikin mengungkapkan bahwa jika bercermin dari industri perbankan di kawasan ASEAN, maka memang sudah seharusnya ada penurunan suku bunga kredit dan simpanan.

”Harusnya bunga di kita (Indonesia) setara dengan bank-bank di negara lain,” tambahnya.

Namun demikian, menurut dia, upaya menekan suku bunga perbankan tidak bisa dilakukan secara serta-merta melalui perintah.

”(Penurunan bunga) ini ada caranya. Bunga kredit itu ditentukan oleh bunga pinjaman,” ucapnya.

Dia menyebutkan, sejauh ini tingkat suku bunga kredit di Bank Mandiri berkisar 10 persen hingga 11 persen. Budi menjelaskan, besaran tingkat suku bunga kredit ini untuk mengimbangi pengeluaran dari empat biaya utama lembaga perbankan.

Dia merincikan, empat biaya utama yang harus dikeluarkan oleh setiap lembaga perbankan adalah cost of fund, cost of operation, cost of credit dan cost of tax.

”Sementara, yang terbesar di Bank Mandiri itu cost fo fund,” imbuhnya.

Di sisi lain, Presiden Direktur PT Bank Central Asia (BCA) Tbk Jahja Setiaatmadja menuturkan bahwa bulan depan emiten dengan kode perdagangan BBCA itu akan memangkas suku bunga kredit di sektor UKM.

”Per 1 April, bunga UKM turun 0,25 persen,” ujarnya melalui pesan singkat.

Sementara itu, Ekonom INDEF Eko Listiyanto menuturkan bahwa upaya penurunan suku bunga deposito maupun kredit perbankan semestinya dapat terlaksana sesegera mungkin. Waktu jeda 1-3 bulan yang secara teoritis digunakan bank untuk melakukan review penurunan suku bunga dianggap terlalu lama.

”Sebab, BI telah menurunkan suku bunga tiga kali berturut-turut sejak awal tahun ini, semestinya, bank sudah melakukan review penurunan bunga sejak BI rate turunkan pertama kali di awal tahun,” ujarnya.

Eko menjelaskan bahwa kekhawatiran bank yang lambat menurunkan suku bunganya biasanya juga dipengaruhi oleh faktor berapa margin laba yang ditetapkan di awal tahun saat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Sebab, bank-bank juga menghadapi problematika yang dilematis yakni mendapat tuntutan untuk mencetak laba yang tinggi ditengah perlambatan ekonomi. Ekonomi yang baru saja bangun dari keterpurukan perlambatan tentu membuat iklim usaha tak serta merta bisa bergeliat.

Hal itu tentu membuat bank bekerja ekstrakeras salah satunya dengan mematok suku bunga kredit atau deposito di level yang terbilang tinggi.

”Semestinya, kembali lagi pada komitmen saat RUPS di awal tahun. Berapa laba yang ingin didapat oleh bank, sebab makroekonomi belum terlalu mendukung. Disisi lain mereka (bank) ada tuntutan mencetak laba yang terus naik tiap tahun,” tuturnya.

Eko melanjutkan bahwa mimpi semua elemen untuk menikmati suku bunga single digit bakal mudah terwujud jika bank tetap dihimpit oleh tuntutan memberikan dividen yang besar bagi pemilik saham.

”Kalau bank BUMN terlalu menuntut dividen yang tinggi, jangan harap bunga turun, karena mereka pasti “jualannya” harus mahal,” tambahnya.

Dengan dihimpit permasalahan itu, semestinya, lanjut Eko, peran serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat menjadi sentral. OJK sebagai lembaga superbodi yang mengawasi bank diharapkan segera merealisasikan berbagai regulasi yang dapat dipatuhi oleh bank-bank untuk lebih gesit menurunkan suku bunga kredit dan deposito.

Selain itu, koordinasi pemerintah dan regulator perlu diperkuat. Dengan baiknya kerjasama pemerintah dan regulator, maka dapat menciptakan makroekonomi yang lebih baik dan berimbas pada iklim usaha sektor riil.

Dengan makroekonomi yang baik juga pada akhirnya berkorelasi pada kinerja bank. Sektor perbankan akhirnya juga tak perlu memasang suku bunga kredit maupun deposito yang terlalu tinggi.

”Jika bank BUMN menurunkan target laba, maka bunga kredit bisa turun juga, dengan begitu makroekonomi dan sektor riil tentu terakselerasi,” imbuhnya. (owi/dee/jp/jpgrup)

Respon Anda?

komentar