Gema Pembebasan di Padang Tuntut Densus 88 Dibubarkan

1784
Pesona Indonesia
Densus 88. Foto: Dok JPNN
Gema Pembebasan tuntut pembubaran Densus 88. Foto: Dok JPNN

batampos.co.id – Puluhan mahasiswa dari berbagai universitas yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Pembebasan menggelar aksi damai di gedung DPRD Sumatera Barat, Padang, Jumat (18/3) lalu.

Salah satu tuntutan mereka adalah segera bubarkan Densus 88 karena membantai umat Islam dan mahasiswa menuntut oknum-oknum Densus 88 diadili sesegera mungkin.

Aksi yang dimulai sekitar pukul 14.00 ini dijaga oleh beberapa polisi.

Dalam aksi tersebut tak satu orang pun terlihat anggota dewan yang menyambut kedatangan para demonstran. Juru Bicara Gerakan Mahasiswa Pembebasan, Imam Ali Satria mengatakan, selama ini apa yang dilakukan Densus 88 tidak sesuai dengan prosedur. Orang yang ditangkap harus ada surat penangkapan.

“Dari 188 orang yang ditangkap Densus 88 sampai hari ini, hanya 3 orang saja yang sesuai dengan standar prosedur. Di mana diperlihatkan surat penangkapannya, selebihnya tidak ada. Hal ini membuktikan kezaliman dan ketidakprofesionalan Densus dan diskriminatif terhadap umat Islam,” ujarnya.

Bahkan, ungkap dia, lebih dari setengah yang ditangkap tersebut, pulang tanpa nama atau meninggal. Alasannya, karena dia melawan seperti kasus baru-baru ini Siyono di Klaten Jawa Tengah.

”Ini tidak masuk akal, dikatakan di dalam mobil dia memberontak, padahal tangannya di borgol dan dikawal beberapa anggota Densus 88,” ujarnya.

Pendemo menilai dengan dalih menjaga keamanan negara, menjaga ketertiban, melawan terorisme demi kepentingan umum, Densus 88 berhak membunuh siapapun yang mereka inginkan.

Dengan semua alasan itu, Densus membunuh secara terang-terangan. Seperti kasus yang menimpa Siyono tersebut, hanyalah satu dari ratusan kebiadaban yang telah dilakukan Densus 88 selama perjalanannya.

Lebih jauh dikatakan, tanggal 20 september 2014, di Kecamatan Dompu, seorang bernama Nurdin tewas saat tengah melaksanakan Shalat Ashar. Di Poso tahun 2014, ada 12 orang yang dibunuh oleh Densus yang bahkan tidak termasuk dalam DPO (Daftar Pencarian Orang).

Penangkapan-penangkapan juga terjadi di Jakarta, Bandung, Kendal dan Kebumen pada Mei 2013.

Melihat kinerja buruk ini, mahasiwa meminta Densus 88 harus segera dibubarkan, karena Densus 88 sudah jauh dari tujuan pembentukannya. “Tak ada progres yang signifikan atas tugas mereka memberantas terorisme,” ungkap Ali.

Gerakan Mahasiswa Pembebasan berkesimpulan, pertama , Densus 88 telah banyak menghilangkan nyawa tanpa alasan. Densus 88 telah melakukan dosa besar dengan membunuh jiwa kaum muslimin tanpa hak.

Kedua, Densus 88 telah menciptakan stigma buruk di dalam masyarakat dengan melecehkan kitab suci kaum muslimin, dengan menjadikan Alquran sebagai barang bukti. Perlakuan ini telah menciptakan opini buruk tentang islam dan menyakiti kaum Muslimin.

Ketiga, Densus 88 beserta media-media sekuler telah menumbuhkan rasa ketidakadilan karena selalu diidentikan dengan Islam. Sedangkan kasus Mal Alam Sutra beberapa waktu lalu dengan nyata melakukan aksi pengeboman untuk meneror salah satu penjual di dalam Mall tersebut. Jadi, tidak masuk dalam kategori tindak teroris.

“Oleh karena itu, kami Gema Pembebasan Sumbar Raya dengan tegas dan lantang menuntut untuk membubarkan Densus 88. Periksa dan audit serta usut tuntas atas setiap kasus yang dilakukan Densus 88. Hukum dan adili aparat Densus 88 yang terbukti melakukan kekerasan dan pembunuhan,” ucapnya.

Pengunjuk rasa sempat kecewa karena tidak ada satupun anggota dewan yang keluar menemuinya. Sekitar pukul 14.30 aksi ditutup dengan doa bersama.(bud/RPG)

Respon Anda?

komentar