Jenderal Ini Siap Sikat Penyelundup, Batam Jadi Target

1659
Pesona Indonesia
Laksamana Muda TNI Arie Soedewo resmi dilantik Presiden Joko Widodo menjadi Kepala Badan Keamanan Laut (Bakamla) menggantikan Laksamana Madya TNI Dr. Desi Albert Mamahit di Istana Negara, Jakarta Pusat, Rabu (16/3/2016). FOTO: Dispenal for JPNN.com/jpgrup
Laksamana Muda TNI Arie Soedewo resmi dilantik Presiden Joko Widodo menjadi Kepala Badan Keamanan Laut (Bakamla) menggantikan Laksamana Madya TNI Dr. Desi Albert Mamahit di Istana Negara, Jakarta Pusat, Rabu (16/3/2016). FOTO: Dispenal for JPNN.com/jpgrup

batampos.co.id – Kepala Badan Keamanan Laut (Bakamla) Laksamana Muda TNI Arie Soedewo menyanggupi permintaan Presiden Joko Widodo untuk memerangi penyeludupan.

Arie bahkan sudah menyiapkan langkah-langkah konkrit untuk menghabisi penyelundupan. “Perintah presiden itu adalah prioritas demi mengoptimalkan penerimaan negara dari bea dan cukai,” tegas Arie, Sabtu (19/3/2016) di Jakarta.

Ia menegaskan, perang terhadap penyelundupan merupakan kewajiban semua pemangku kepentingan, termasuk di sektor kelautan seperti TNI AL, Polairud, dan Bea Cukai.

“Perintah presiden sudah jelas dan lugas,” tegas Arie.

Karenanya, Arie menegaskan tidak  ada kompromi  terhadap praktik-praktik penyelundupan barang, illegal fishing, juga masalah penyeludupan narkoba.

“Ini sudah jadi kebijakan negara, ini amanat,” ungkap Arie.

Dia menjelaskan, begitu banyak pelabuhan tikus yang sering digunakan untuk penyelundupan selama bertahun-tahun dinikmati oleh ‘bandit-bandit’.

Pelabuhan tikus itu utamanya menyebar di wilayah kepulauan yang berbatasan langsung dengan sejumlah negara. Salah satunya Kepulauan Riau. Khususnya Kota Batam yang memang menjadi pintu masuk narkoba asal Malaysia. Juga pintu masuk barang-barang penyelundupan.

Maka pembentukan gugus tugas intelejen Bakamla akan dimaksimalkan untuk mempercepat operasi pemberantasan di setiap pelabuhan tikus tersebut.

Dia mengaku, setelah dilantik sudah mengumpulkan jajaran Bakamla dan memberikan instruksi memperketat pengawasan dan melakukan penangkapan sebanyak mungkin.

Dia menegaskan, silahkan melaporkan kepadanya jika di lapangan berhadapan dengan beking-beking oknum birokrasi dan aparat yang menyulitkan.

“Laporkan saya walaupun Jenderal. Saya yang akan samperin ke rumahnya jika perlu,” kata pria yang mantan Asops Kepala Staf TNI AL itu.

Dia merasa bersemangat karena presiden sebagai atasannya langsung, serta pemangku kepentingan lain seperti  Menteri Pertahanan, Panglima TNI, Kapolri dan Kasal, juga mendukung penuh upayanya.

“Untuk menggasak oknum aparat TNI dan Polri yang coba mengkhianati republik dengan menjadi beking para tauke-tauke penyelundup ini,” bebernya.

Dia juga menyadari adanya keterbatasan anggaran untuk pengawasan laut yang luasnya hingga 3 juta kilometer persegi. Namun dia berkeyakinan bahwa presiden beserta jajaran Kementrian Keuangan, Bappenas, serta Komisi I DPR tak akan  segan memperkuat anggaran Bakamla. Khususnya dalam investasi teknologi pengawasan non-stop 24 jam dan kapal-kapal patroli untuk operasi.

Tapi, di luar itu Arie  yakin dengan tekad dan semangat yang tinggi mampu menghadapi dan menggoyahkan penjahat. Apalagi ini presiden mendukung penuh.

“Kalau ada yang ngeyel, saya tinggal lapor. Makanya saya berani sampaikan ke jajaran di bawah, no excuse, tangkap, tangkap, tangkap,” katanya.

Dia menegaskan akan menangkap dan menyerahkan semua penyelundup ke penegak hukum.

“Urusan ada yang coba bermain api, saya akan hajar. Dan jika pengadilan membebaskan itu urusan hakim-hakim dengan Allah,” pungkasnya. (boy/jpnn/nur)

Respon Anda?

komentar