Tata Kota Siantar Semakin Amburadul

1654
Pesona Indonesia
Tata kota Siantar semakin amburadul dan kemacetan yang semakin parah. Foto: Metro Siantar/JPG
Tata kota Siantar semakin amburadul dan kemacetan juga kian parah. Foto: Metro Siantar/JPG

batampos.co.id РKemacetan di beberapa ruas jalan protokol di Kota Pematangsiantar dikeluhkan masyarakat lantaran kemacetan yang semakin parah.

“Siantar yang dulu kotanya tenang dan lancar lalu lintas, sekarang sudah tiap hari macet. Apalagi jam-jam tertentu. Semakin parah akhir-akhir ini, tapi kondisi ini berangsur sejak dua tahun terakhir. Kemacetan terjadi pada siang dan sore di beberapa ruas jalan,” kata Parda Simatupang, Ketua Umum Lembaga Pengkajian dan Peningkatan Kapasitas Pemerintahan, Jumat (18/3).

Parda, menuturkan tidak mengetahui pasti penyebabnya. Namun melihat situasi kota yang semakin berkembang terlihat tidak diimbangi dengan penataan.

“Jika melihat kondisi di lapangan, selain semrawut akibat banyaknya angkot yang mangkal sembarangan, juga semakin bertambahnya jumlah kendaraan,” tuturnya seperti dikutip dari Metro Siantar (Jawa Pos Group), Minggu.

Selain itu, banyaknya Pedangang Kaki Lima (PKL) yang tidak tertata dengan baik dan sering berjualan di badan jalan menjadi salah satu penyebab lainnya. Banyak pedagang dengan enaknya menempati badan jalan padahal itu merupakan hak pengguna jalan kaki.

“Kami tahu mereka juga berdagang dan mencari nafkah. Namun, apakah mereka sadar mereka dalam mencari nafkah itu merampas hak orang lain. Pemko Siantar saya dengar sudah memberikan tempat relokasi, namun mereka tidak mau pindah. Ini dibutuhkan ketegasan,” tutur Parda menambahkan.

Hal senada diungkapkan pemerhati lingkungan Rado Damanik. Ia mengatakan, beberapa ruas jalan yang sudah menjadi langganan macet adalah ruas Jalan Merdeka dan Sutomo, dan sekarang sudah mulai merembet ke Jalan Wahidin, Jalan Kartini, Jalan Sudirman, Jalan Cipto, Jalan Vihara dan jalan-jalan lainnya sekitar inti kota.

Kebetulan jalan itu berdekatan dengan aktivitas pasar. Belum lagi di Jalan Kartini dan Jalan Sudirman yang di kanan dan kiri jalan banyak PKL.

“Dengan ruas jalan yang kecil, memang harus segera dilakukan penataan-penataan agar tidak terjadi kemacetan dimana-mana. Keluhan sudah disampaikan sejak lama, namun Pemko Siantar terkesan diam, berarti ada tradisi pembiaran,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Eliakim Simanjuntak mengakui Siantar semakin semrawut. Hal itu, kata dia, selain diakibatkan tata transportasi yang dinilai tidak terkelola dengan baik, adanya kekosongan aturan turunan mengenai tata ruang dan wilayah.

“Kan ada RTRW yang sudah ditetapkan. Aturan teknis mengenai tata ruang sepertinya tidak dijalankan” nilainya.

Jadi, jika pembiaran ini terus berlanjut nanti yang akan menjadi wajah Kota Siantar ini adalah PKL liar,” katanya.

Eliakim mengaku memang dibutuhkan koordinasi antar dinas yang baik dan ketegasan untuk membuat Siantar kembali tertib. Pasalnya, dari awal, Siantar tidak didesign untuk menjadi sebuah kota semerawut dan dalam perkembangannya ternyata semakin amburadul.

Sementara itu, Kepala Bidang Hubungan Darat dan Angkutan Budi Nasution, menilai, kerap terjadinya kemacetan di beberapa titik di wilayah perkotaan, disebabkan banyak faktor. Salah satu di antaranya jumlah kendaraan pribadi yang terus bertambah.

“Kalau untuk angkutan umum, saya kira tidak berpengaruh, sebab tidak ada lagi penambahan jalur trayek. Apalagi keberadaan angkot itu kadang ada yang tidak beroperasi dalam waktu bersamaan. Beberapa kemacetan lebih disebabkan banyaknya kendaraan pribadi,” ujarnya.

Lebih lanjut Budi mengatakan beberapa titik rawan kemacetan di antaranya berada di Jalan Kartini dan Jalan Ade Irma termasuk Jalan MH Sitorus. (JPG)

Respon Anda?

komentar