Fenomena Equinox, Hari Tanpa Bayangan Matahari, Terlihat di Lingga

1314
Pesona Indonesia
BMKG
foto:BMKG

batampos.co.id – Setelah beberapa waktu lalu digegerkan dengan Gerhana Matahari Total (GMT), kali ini Maret fenomena Equinox, menjadi perbincangan. Pada saat ini, matahari berada tepat di garis khatulistiwa. Beragam persepsi dan berita hoax pun berderai keluar mewarnai dunia maya soal dampak yang bakal terjadi. Kekhawatiran pun mulai menjadi perbincangan warga Kabupaten Lingga, satu-satunya wilayah provinsi Kepri yang dilewati garis khatulistiwa.

Mulai dari pesan berantai, wilayah Indonesia, Malaysia dan Singapura akan dilanda suhu panas akibat equinox yang mencapai 40 derajat. Hal ini, meminta publik untuk tinggal di dalam rumah pada pukul 12.00 sampai 15.00 WIB. Kekhawatiran tersebutpun terjawab sudah.

Thomas Djamaluddin, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mengatakan, equinox terjadi pada 21 Maret 2016. Dikatakannya hal ini memang memberikan dampak, namun tidak separah yang digambarkan dalam pesan berantai yang mewarnai dunia maya.

Sementara itu, Dr Yunus S Swarinoto, Deputi Bidang Meteorologi Bandan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BKMG) meminta masyarakat tidak perlu terlalu khawatir dengan fenomena ini. Namun, ia minta publik untuk tetap wasapada, sebab sebagian besar wilayah di Indonesia maupun di wilayah yang dilewati garis khatulistiwa memang cenderung kering. Ia menghimbau publik mengantisipasi kondisi cuaca yang cukup panas dengan meningkatkan daya tahan tubuh dan menjaga kesehatan keluarga dan lingkungan serta mengkonsumsi buah, sayuran dan juga air.

“Justru akan ada ada fenomena menarik karena equinox, sebuah hari tanpa bayang matahari. Secara periodik berlangsung 2 kali dan setahun yaitu pada tanggal 21 Maret dan 23 September,” paparnya.

Fenomena sehari tanpa bayangan matahari ini juga akan dapat terlihat jelas di Kabupaten Lingga. Tepatnya di titik nol khatulistiwa, Tanjung Teludas Sungai Tenam, Desa Mentuda kecamatan Lingga. Sementara di pulau Lingga sendiri, cuaca panas memang telah terjadi sejak beberapa hari belakangan namun hujan juga masih terjadi. BMKG Dabo Singkep, melalui akun facebook resminya juga telah menyebarkan informasi agar warga khususnya di Kabupaten Lingga tidak perlu khawatir sebab fenomena ini bukanlah hate wave yang beberapa waktu lalu terjadi di Afrika dan Timur Tengah.

“Puncak Equinox pada 21 Maret, dan tidak terlalu berpengaruh pada perubahan suhu. Diperkirakan suhu di Kabupaten Lingga dan di Dabo Singkep berkisar 31-34°C. Itu normal,” kata Sahat, kepala BMKG Dabo Singkep

Dia mengimbau masyarakat Kabupaten Lingga tidak perlu terlalu mengkhawatirkan fenomena alam itu, karena suhu yang dikhawatirkan mencapai 40°C lebih, kemungkinannya sangat kecil.

Bahkan, dengan mengacu data yang dimiliki BMKG Dabosingkep selama 28 tahun, terhitung sejak tahun 1986-2014, temperatur maksimum rata-rata yang terjadi tiap bulan Maret berkisar 31-34°C.

“Kalau prediksi hujan, hanya hujan lokal. Itupun tidak lama, sekitar 5 menit lah,” tuturnya.

Selain itu, dampak lain yang akan timbul akibat fenomena ini, adalah kekeringan yang membuat rawan kebakaran hutan dan lahan.

“Kita mengingatkan kepada masyarakat dan unsur muspida, untuk mewaspadai terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Kalau dampak pada tubuh manusia, itu dehidrasi. Dihimbau banyak mengkonsumsi air putih,” tutur Sahat. (mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar