Marga Yang Batam Santuni 150 Anak di Rumah Singgah Batu Aji

667
Pesona Indonesia
Kumpulan Marga Yang Batam (MYB) bersama anak-anak rumah singgah (House of Prayer di ruko Waheng Centre, Batuaji,  (20/3). Foto: Dalil Harahap/Batam Pos
Kumpulan Marga Yang Batam (MYB) bersama anak-anak rumah singgah (House of Prayer di ruko Waheng Centre, Batuaji, (20/3). Foto: Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Kumpulan Marga Yang Batam (MYB) menyambangi lokasi rumah singgah (House of Prayer) di ruko Waheng Center, Batu Aji, Minggu (20/3) siang.

Kedatangan rombongan MYB ini merupakan misi pertama bakti sosial mereka sejak dibentuk enam bulan yang lalu. Mereka disambut oleh 150 anak kurang mampu di rumah singgah tersebut.

Sejken MYB,  dr Yang mengatakan, di rumah singgah tersebut, rombongan anggota MYB memberikan bantuan berupa paket sembako dan bingkisan yang bisa dimanfaatkan oleh anak-anak di rumah singgah tersebut. “Ini misi sosial pertama kami (MYB). Kedepannya akan kami lakukan rutin setiap bulan,” ujar Yang, kemarin.

MYB yang diketuai oleh Bambang Suherman itu, kata Yang memang dibentuk untuk misi sosial dan akan fokus setiap bulan sekali untuk memberikan bantuan ataupun bakti sosial yang bermanfaat untuk meringankan beban orang-orang yang kurang mampu. “Selain bakti sosial untuk masyarakat seperti ini, saat ini interen anggota juga rutin mendukung pembangunan gedung MYB di Green Land, Batam Kota,”kata Yang.

Bakti sosial yang menjadi agenda utama dari kumpulan ini sambung Yang, bisa untuk bidang pendidikan, kesehatan, fasilitas dan lain sebagainya sesuai dengan kebutuhan yang sangat dibutuhkan masyarakat. “Misalkan di sini hari, anak-anak ini memang pantas mendapat perhatian seperti ini, mereka anak-anak kurang mampu yang dibina oleh relawan pasangan suami istri tanpa memungut biaya sepeserpun,” ujar Yang.

Kriswanto dan Elfrida Kurnia Sari pasangam suami istri yang menjadi relawan di rumah singgah itu sangat bersyukur dengan perhatian yang diberikan YMB itu.”Bantuan ini sangat berarti bagi mereka (150 anak di rumah singgah). Memang selama ini kami berjalan apa adanya. Dengan segala keterbatasan mereka tetap semangat untuk belajar di sini,” ujar Kriswanto.

Dijelaskan Kriswanto, rumah singgah atau House of Prayer itu bukanlah sebuah lembaga pendidikan formal. Rumah singgah itu sesungguhnya tempat belajar gratis bagi anak-anak kurang mampu dari ruli di sekitar ruko Waheng Center.”Rumah singgah ini memang ide saya dan istri saya,” katanya.

Itu dilakukan karena melihat situasi anak-anak di ruli sekitar ruko Waheng Center banyak yang tidak sekolah meskipun usianya sudah capai untuk masuk SD. “Setelah kami survei, ternyata masalahnya pada orang tua mereka,” kata pria pekerja galangan kapal itu.

Orangtua anak-anak itu, kata Kriswanto, selain tidak mampu, ternyata banyak yang belum menikah. Imbasnya anak tidak bisa masuk sekolah karena salah satu syarat masuk sekolah adalah akta kelahiran.

“Kalau belum menikah ya gimana mau dapat akta lahir anak,” ujarnya.

Sehingga berpegang pada prinsip, yang bersalah adalah orangtua, maka Kriswanto dan istrinya tergerak untuk menyewa sebuah ruko di Waheng Center untuk memberikan les atau privat gratis bagi anak-anak ruli tersebut.

“Jaman semakin modern loh, masa anak-anak ini tak bisa baca tulis. Makanya saya dan istri saya tak tega lihatnya. Kami berdua putuskan untuk memberikan les gratis tiga kali seminggu untuk anak-anak itu,” terang Kriswanto.

Awal menjalankan tempat les yang dinamakan rumah singgah itu, kata Kriswanto memang berat. Sebab dia harus merogok kocek lebih dalam untuk menyewa ruko dan membeli perlengkapan les bagi anak-anak. Namun seiring berjalan waktu banyak orang yang bersimpati dan mendukung upaya mulia dari Kriswanto dan istrinya itu.

“Sekarang banyak yang mendukung, karena memang ini murni untuk anak-anak ini. Kami tak berharap apapun, selain ingin mereka bisa baca dan tulis itu saja,” tutup Kriswanto. (eja)

Respon Anda?

komentar