Mobil Toyota Yaris Jadi Alat Bukti Korupsi Mantan Direktur BUP Karimun

1127
Pesona Indonesia
Kapolres Karimun, AKBP I Made Sukawijaya. foto:sandi/batampos
Kapolres Karimun, AKBP I Made Sukawijaya. foto:sandi/batampos

batampos.co.id – Mantan Direktur Badan Usaha Kepelabuhanan (BUP) Karimun, Firdaus yang telah ditetapkan sebagai tersangka, ditahan sejak Jumat (18/3) oleh penyidik Satuan Reskrim Polres Karimun karena diduga melakukan tindak korupsi ketika menjabat di perusahaan milik pemerintah tersebut. Salah satu alat bukti yang disita oleh polisi adalah satu unit mobil jenis Toyota Yaris yang diduga dibeli menggunakan uang perusahaan.

”Perlu dijelaskan, bahwa tersangka F membeli mobil dua unit di Karimun untuk operasional perusahaan. Dua unit mobil tersebut adalah Toyota Innova dan Toyota Avanza. Kemudian, sebelum resmi mengundurkan diri, tersangka meminta kepada salah satu dealer mobil untuk menjualkan mobil Toyota Innova tersebut dan memfasilitasi agar dari penjualan tersebut dapat mengambil mobil di Jakarta,” ujar Kapolres Karimun, AKBP I Made Sukawijaya, Sabtu (19/3).

Dikatakan Kapolres, mobil yang dijual di Karimun tersebut dan diganti dengan Toyota Yaris di Jakarta bukan dari dana pribadi tersangka. Melainkan diambil dari dana kas kantor BUP. Jadi, mobil tersebut seharusnya atas nama perusahaan, bukan atas nama pribadi. Untuk itu, berdasarkan hasil penyidikan yang dilakukan penyidik ketika itu dan menemukan tentang hal ini, maka langsung dilakukan penyitaan.

”Penyitaan tidak berjalan mudah. Sebab, anggota kita harus mendatangi salah satu dealer mobil di Jakarta dan hanya mendapatkan buku pemilik kendaraan bermotor (BPKB). Sementara itu, mobilnya tidak berada di Jakarta. Ternyata mobil itu sudah diberangkatkan menggunakan kapal kargo di Batam. Sehingga, kita kirim anggota ke Batam untuk melacak keberadaan mobil tersebut. Tidak butuh waktu lama dan akhirnya mobil berhasil ditemukan. Setelah itu, langsung dibawa ke Polres Karimun,” papar Sukawijaya.

Kapolres menyebutkan, tersangka F yang diduga melakukan tindak pidana korupsi tidak menyetorkan hasil penarikan retribusi antar pulau dan penerimaan hasil pengelolaan pelabuhan ke kas daerah sebagai penadapatan asli daerah (PAD) sejak 2009 sampai 2014, sehingga menyebabkan kerugian negara Rp 1,6 miliar atau tepatnya Rp1.686.046.120.

”Atas perbuatan tersangka itu kita menerapkan pasal berlapis. Yakni pasal 2 ayat 1 jo dan pasal 3 pasal
18 jo pasal 20 ayat 1 sebagaimana diatur dalam UU RI Nomor 31 tahun 1999 tentang Tipikor yang telah dirubah UU RI Nomor 20 Tahun 2001,” ungkapnya.

Seperti berita di koran ini, sebelum ditahan pada Jumat (18/3) malam, Firdaus menjalani pemeriksaan sejak pukul 10.00 WIB. Setelah lebih dari 8 jam menjalani pemeirksaan, akhirnya penyidik mengambil langkah penahanan. Sementara, sejak empat bulan lalu telah ditetapkan sebagai tersangka F dikenakan wajib lapor hadir di Polres Karimun. (san/bpos)

Respon Anda?

komentar