Dilengkapi Pelabuhan Peti Kemas Bertaraf Internasional, KEK Sei Mangkei Bakal Kalahkan Batam

4494
Pesona Indonesia
KEK Sei Mangkei, Sumatera Utara. Foto: istimewa
Maket KEK Sei Mangkei, Sumatera Utara. Foto: istimewa

batampos.co.id – Komitmen pemerintah untuk memperbanyak Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) guna menggenjot ekspor non migas terus dilakukan. Salah satunya mempercepat penyelesaian infrastruktur KEK Sei Mangkei di wilayah Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

Kehebatan kawasan ini karena akan didukung pelabuhan peti kemas bertaraf internasional di Kuala Tanjung.

Kawasan yang tengah dikembangkan ini adalah satu dari delapan KEK yang sudah ditetapkan di Indonesia oleh Presiden Joko Widodo. Dan, baru KEK Sei Mangkei yang mulai berjalan. Di Sei Mangkei, pengelola KEK dan pelabuhan lautnya dipisah manajemennya. Pelabuhann Kuala Tanjung ditangani sendiri oleh PT Pelindo I, KEK oleh Dewan Kawasan di bawah kendali PTP 3.

Presiden Jokowi mengharapkan kawasan di bagian barat Indonesia ini dapat menjadi role model di KEK seluruh Indonesia.

Digesa sejak tahun 2009-2013 sebagai fase persiapan, kini, KEK yang dikelola PTP itu baru dapat menarik perusahaan asing asal Jerman yang berisvestasi di sana, yakni  PT Unilever Oleochemical. Pabrik yang memproduksi oleocemical ini diresmikan pengoperasian produksinya setahun lalu.

Menurut Alexander Maha, Direktur Perencanaan dan Pengembangan PTP 3 sekaligus salah satu anggota Dewan Kawasan, Unilever menggunakan bahan baku dan energi yang ramah lingkungan menuju green economic zone. Unilever dengan pasokan olahan pabrik sawit yang mata rantai pasokannya bersertifikat standar dunia, yakni RSPO (Rountable Suistanable Palm Oil). Unilever yang berbasis di Eropa itu punya jaringan industri besar di beberapa wilayah di Indonesia.

Sementara menurut GM Sei Mangkei, Denni Mulyadi, sembari melengkapi infrastruktur, pihaknya berupaya terus agar investasi asing dan domestik tertarik masuk di kawasan ini.

Kawasan Sei Mangkei dikelola oleh Badan Pengelola Kawasan dengan Pemkab Simalungun sesuai dengan amanat UU KEK Nomor 39 Tahun 2009. Secara administrasi bersinergi dengan Pemerintah Simalungun dalam hal pegurusan perizinan di KEK.

Sementara operasional pengelolaan ditangani pengelola kawasan di mana Gubernur Sumut sebagai Ketua Dewan Kawasan.

Kawasan ini berada di sebelah selatan Medan dengan jarak tempuh sekitar 130 Km. Areal kawasan industri baru nan moderen ini terletak di Kecamatan Bosar Maligas,  di areal  eks  kebun PT Perkebunan (BUMN). Kawasan di sekitar didominasi perkebunan negara dengan hamparan kebun sawit nan luas.

Total keseluruhan luas KEK ini, sekarang, sekitar 744 hektare. Pengalokasian lahan fase persiapan (2009 s/d 2013), seluas 104 hektare, diperuntukkan buat perkantoran pengelola kawasan, perumahan dan fasilitas umun, dan pendukung lainnya.

Sedangkan fase kedua (2014-2019), seluas 640 hektare,  dimana 27 hektare digunakan  Unilever dan selebihnya ke PTP III dan PTP IV, PLN, Pertagas dan perusahan supporting lain di kawasan itu. Sementara untuk fase ketiga (2020-2025), disiapkan  areal 1.993 hektare.

Total pekerja yang sudah beraktivitas sekarang sekitar 900 orang. Unilever mempekerjakan sekitar 400 orang dan selebihnya di beberapa  perusahaan domestik tadi.

Model pelabuhan peti kemas yang terkoneksi dengan KEK Sei Mangkei. Foto: istimewa
Model pelabuhan peti kemas Kuala tanjung yang terkoneksi dengan KEK Sei Mangkei. Foto: istimewa

Keunggulan KEK ini, kata Denni, akan didukung akses langsung dengan Pelabuhan Internasional Multipurpose, yakni pelabuhan serba guna (container dan curah) di Kuala Tanjung.

Posisi Kuala Tanjung berada di Kabupaten Batubara, yang bertetangga dengan Kabupaten Simalungun.

Pembangunan pelabuhan ini sekarang dalam tahap finishing dan akan dioperasikan penuh tahun 2017. Antara Sei Mangkei dengan Kuala Tanjung yang berbeda Kabupaten ini,  berjarak sekitar 15 Km, dapat dihubungkan jalur transportasi darat kereta api dan angkutan darat jenis lainnya. Baik infrastruktur kereta api maupun angkutan lainya, juga sedang tahap penyelesaian.

Pelabuhan kontainer besar ini, posisinya ke arah Pantai Timur kawasan KEK. Letak  geografi pelabuhan ini memang sangat strategis karena berhadapan langsung dengan Port Klang Malaysia yang berjarak sekitar 90 mil laut dipisah Selat Malaka -selat paling ramai lalulintas lautnya di dunia.

“Bila sudah beroperasi kapasitas pelabuhan ini bisa menampung volume kontainer 500 ribu TEUs per tahun,” kata Presiden Jokowi ketika melakukan groundbreaking, setahun lalu.

Dikatakan Jokowi, selain tersedia halaman penumpukan kontainer berskala besar, pelabuhan ini juga punya daya tampung air cargo sebesar 3,5 juta ton per tahun.

Sebagai pembanding,  Pelabuhan Klang di Malaysia bisa (setahun) menampung 10 juta TEUs (Twenty Foot Equivalent Unit atau TEUs at Unit), setara duapuluh kaki. Pulau Batam sekarang diperkirakan 100 ribu TEUs,  Pelabuhan Singapura sekitar 36 juta TEUs per tahun. Sementara potensi arus mobilisasi kontainer yang bergerak di kawasan regional di jalur pelayaran internasioal itu diperkirakan 56 juta TEUs per tahun.

Performa Kuala Tanjung Hub Port ini bisa disetarakan dengan Singapura, yang bisa disinggahi kapal-kapal Ultra Large Container Vessel (ULCV) berkapasitas 18.270 TEUs. Kedalaman laut dermaganya 17 meter di bawah permukaan laut.

Pelabuhan Hub ini, salah satu titik dari beberapa titik tol laut yang akan menghubungkan Sumatera (Belawan), Tanjung Priok, Jakarta sampai wilayah timur  Indonesia. “Kelak, akan bisa bersaing dengan Malaysia dan Singapura,” kata Jokowi.

Biaya pembangunan pelabuhan ini untuk tahap pertama diperkirakan sekitar Rp 5 triliun, dibiayai PT Pelabuhan I (Pelindo I). Sedangkan tahap kedua sekitar Rp 6 triliun dan masih perencanaan. Pelindo I juga sekaligus sebagai operator.

Bila melihat  dari kapasitas pembangunan Pelabuhan Kuala Tanjung yang berskala internasional ini, sesungguhnya sasarannya tak sekadar mensupport Sei Mangkei.

“Di kawasan pelabuhan ini, juga akan dibangun kawasan industri terpadu dan moderen dengan persiapan areal seluar 2000 hektare sampai 7000 hektare,” ujar presiden ketujuh Indonesia itu saat groundbreaking. “Ini juga bagian dari skenario untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi berbasis kemaritiman negara kita.”

Dalam upaya mewujudkan percepatan ekonomi negeri inilah maka pelabuhan laut digesa,  kawasan industri dipacu terus termasuk KEK Sei Mangkei.

“Dimula dari Unilever (investor asing) yang sekarang investasinya sekitar Rp 2 triliun, berada di areal  seluas 27 hektare,” kata Denni.

Industri lainnya adalah investasi domestik, semisal PTP III yang mendirikan Pabrik Pengolahan Sawit (PKS) yang menghasilkan CPO (Crude Palm Oil) dan PKO? (Palm Kernel Oil). Investasi domestik ini juga tak kalah besar nilainya bisa mencapai Rp 3 – 5 triliun.

Baik Unilever, maupun PTP, PLN dan Pertagas, setakat ini, baru menggunakan sekitar 50 hektare atau empat persen dari total cadangan lahan yang dialokasikan di Sei Mangkei. Lahan  KEK di sana, dialokasikan eks milik PTP III itu sendiri, yang tadinya perkebunan negara.

Soal baru hanya Unilever investasi asing yang masuk, Denni masih berharap akan ada investasi luar menyusul. “Kita sedang berupaya promosi,” ujarnya.

Masih menurut Denni, operasionalisasi KEK tersebut semakin digesa lagi, sejak keluarnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 29 Tahun 2012 sebagai pelaksanaan amanat UU 39 Tahun 2009, tentang Kawasan Ekonomi Khusus.

Denni menyatakan bila dipersentasikan kesiapan KEK Sei Mangkei secara infrastruktur,  saat ini sudah mencapai 97 persen. Antara lain,  meliputi aspek infrastruktur jalan, fasilitas air, listrik maupun penanganan limbah di dalam kawasan tersebut.

Infrastruktur lain yang disiapkan PTPN III selaku pengelola KEK Sei Mangkei adalah hasil kerjasama dengan  PT PLN dan PT Harkat Sejahtera untuk menyiapkan daya listrik ±12 MW. PT PLN juga telah menyiapkan pembangunan Gardu Induk 150 KV kapasitas 60 MVA dan akan dikembangkan menjadi 120 MVA sesuai dengan pertumbuhan kebutuhan energi listrik di kawasan.

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sumut Tengku Ery Nuradi sebagai pemangku Ketua Dewan Kawasan menegaskan, KEK Sei Mangkei siap menjadi green economic zone pertama di Indonesia.

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara secara gencar melakukan berbagai promosi ke belahan dunia untuk menarik minat investasi ke dalam KEK Sei Mangkei. “Kami siap mewujudkan KEK Sei Mangkei menjadi green economic zone di Indonesia,” ujar Erry.

Sementara menurut Alexander Maha, sebagai wujud geliat investasi dalam kawasan KEK Sei Mangkei, selain akan membangun pabrik besar yang berbasis bahan baku sawit dengan total investasi sekitar Rp 650 miliar,  PTPN 3 juga akan membangun pabrik ban roda dua di dalam kawasan.

“Saat ini, FS pabrik ban roda dua sudah selesai. Sehingga kami segera tawarkan kepada para mitra untuk bersama membangun pabrik itu. Dengan perkiraan investasi Rp 200 miliar,” terang Alexander.

Selanjutnya, kata Alex, Kementerian Perindustrian juga telah membangun empat infrastruktur meliputi jalan sepanjang 4,2 Km, dry port 5300 TEUs, Tank Farm dengan total volume 11.000 ton, lalu jalur KA sepanjang 2,95 km yang terhubung dengan jalur KA existing sehingga mampu mencapai Pelabuhan Belawan.

“Dan selanjutnya, jika jalur KA Bandar Tinggi-Kuala Tanjung selesai dibangun, maka semua produk KEK Sei Mangkei akan dikirim ke Pelabuhan Kuala Tanjung sebagai global hub port internasional,” katanya lagi.

Ia menambahkan, KEK Sei Mangkei selain memiliki keunggulan Pelabuhan Kuala Tanjung, kawasan ini dekat dengan Kawasan Danau Toba yang akan dijadikan sebagai “Monaco-nya Indonesia”, yang sekarang tengah giat dikembangkan. Konektivitas pada tiga wilayah tersebut di atas, akan terkoneksi dengan jalan tol pada tahun 2019 mendatang.

“Poin-poin ini yang menjadi faktor optimistis kami bahwa KEK Sei Mangkei segera menjadi green economic zone pertama di Indonesia,”  tandas Alexander Maha.

Di tengah pengembangan KEK Sei Mangkei yang sedang gencar,  Denni menawarkan berbagai peluang bermasa depan di kawasan itu kepada para calon investor. Di sana, katanya, masih tersedia lahan ratusan hektare yang diperuntukkan pengembangan industri sawit 245 hektare, aneka industri 600 hektare, saprodi 100 hektare, industri elektronik 150 hektare, pariwisata 117 hektare dan industri lainnya. (frans/marganas nainggolan/bp)

Respon Anda?

komentar