Gas Elpij 3 Kg Langka di Kecamatan Belakangpadang

1604
Pesona Indonesia

Gas-3-Kilogram_Dalil-Haraha

batampos.co.id – Wakil Ketua DPRD Kota Batam, Iman Setiawan memberi catatan terhadap peredaran gas elpiji 3 Kg atau lebih akrab disebut gas melon.

Menurut Iman gas elpiji 3 kg atau gas melon sedang langka di Pulau Kasu, Kecamatan Belakangpadang, Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri). Warga setempat kesulitan mencari gas bersubsidi tersebut.

Informasi didapatkan , agen penyalur gas ke daerah itu sebulan terakhir menolak memberikan pasokan.

“Kami meminta pemerintah memperhatikan masyarakat, terutama yang berada di pulau,” Iman Setiawan, Rabu (23/3).

Dia menuturkan, gas melon yang menjadi komoditas masyarakat miskin itu jangan sampai dipermainkan oknum untuk kepentingan dan keuntungan tertentu.

“Hal ini tak kami inginkan. Kami berharap peran serta pemerintah. Sehingga penyalurannya tepat sasaran,” beber mantan Pegawai Badan Pengusahaan (BP) Batam ini.

Kini gas elpiji itu, lanjut Iman, menjadi barang yang langka bagi masyarakat pulau. Meskipun ada di pasaran, harganya jauh di atas harga eceran tertinggi (HET).

Berdasarkan Peraturan Wali Kota (Perwako) HET gas melon di mainland Rp18 ribu, sedangkan di pulau Rp22 ribu.

“Harganya bisa di atas Rp25 ribu. Ini jelas menyulitkan masyarakat,” ungkap Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra)¬† Provinsi Kepri ini.

Pemilik pangkalan Putri Nabilah, Pulau Kasu, Jumaris mengatakan, sebelumnya dia mendapatkan pasokan gas dari salah satu agen di Wilayah Tanjungriau, Sekupang dengan harga Rp15.500 per tabung.

Ditambah ongkos transportasi pulang pergi  Rp190, dia bisa menjual berdasarkan ketentuan.

“Sebelan terakhir ini Agen tak mau kasih. Katanya belum ada kontrak dan lainnya, alasannya gak jelas,” ungkap Jumaris.

Pihak agen menyarankan Jumaris mengambil gas di pangkalan Belakang Padang. Selain Ongkos transportasinya lebih mahal, harganya juga lebih mahal, Rp19 ribu per tabung.

Jumaris sudah mengeluhkan hal tersebut kepada agen, dengan kondisi itu ia sulit menjual sesui HET. “Agennya malah nyuruh kita jual diatas HET. Kalau kita jual mahal, masyarakat pasti protes,” ungkapnya.

Namun tak ada pilihan lain bagi Jumaris, meskipun mahal ia terpaksa mengambil, agar kebutuhan masyarakat terpenuhi. Pangkalannya dijatah 150 tabung sekali ngambil. “Seminggu bisa dua kali ngambil,” tuturnya lagi. (hgt/iil/JPG)

Respon Anda?

komentar