Rhenald Kasali Optimis, Danau Toba Tiga Tahun Take Off

1256
Pesona Indonesia
Danau Toba. Foto: Metro Siantar/dok.JPNN
Danau Toba. Foto: Metro Siantar/dok.JPNN

batampos.co.id – Pengamat Ekonomi yang juga Komisaris Utama PT Angkasa Pura II Rhenald Kasali optimis, kawasan wisata Danau Toba bakal segera “menyala” dalam waktu cepat.

Dia mengamati totalitas perhatian pemerintah dari berbagai lini dan keseriusan melakukan terobosan percepatan. “Hitungan saya, tiga tahun sudah bisa running,” jawab Rhenald Kasali di Bandara Silangit, 22 Maret 2016.

Lalu apa yang harus dilakukan untuk mengejar percepatan itu? Tahap awal ini sudah on track, membereskan infrastruktur yang menjadi kendala akses menuju ke Toba. Perpanjangan landasan Silangit Airport, dari 2.400 meter menjadi 2.650 meter, lalu lebar dari 30 meter ke 45 meter. Dimensi Apron menjadi 140 x 300 meter persegi, mampu menampung 4 aircraft, pesawat berbadan lebar Boing 737-500.

Perbaiakan terminal penumpang, dari 500 meter persegi ke 1.706 meter persegi, parkir menjadi 5.000 meter persegi, power house menjadi 240 meter persegi. Tetapi desain semua bangunan dan ornamenya tetap menggunakan pola budaya Batak, dengan bentuk mirip segitiga sama kaki. Dominasi warna merah, hitam dan putih.

“Tapi ingat, ini baru aksesibilitas lho ya? Atraksinya juga harus dibangun dan dirancang dengan baik,” jelas Rhenald.

Alam Danau Toba memang indah, semua orang mengakui itu. Tetapi mengandalkan keindahan danau dan panorama alam saja tidak cukup untuk menarik wisatawan. Harus lebih kreatif, melibatkan masyarakat, dan unik.

“Misalnya, ada unsur menanam pohon di bukit-bukit yang botak. Experience di homestay penduduk, agar menangkap local culture di sana. Itu jauh lebih bermakna dalam menjual pariwisata Danau Toba,” ungkap pengajar UI itu.

Soal culture, Rhenald tidak begitu khawatir. Banyak penyanyi, pemusik, komposer, yang terlahir di tanah Batak. Mereka dikaruniai kelebihan suara yang merdu. Tarian dan kesenian lain juga cukup atraktif, dengan music tradisional yang membuat orang bisa bergoyang.

“Kesenian rakyat dan budaya turun-temurun itu harus dipelihara dan dihidupkan lagi,” ungkap Rhenald Kasali.

Rhenald juga melihat domestic market itu luar biasa besar. Daya beli orang Indonesia saat ini sudah makin kuat. Yang cepat menghidupkan kawasan wisata itu, ya pasar wisnus dulu.

“Keluarga-keluarga muda yang sering berbicara, kita liburan mau ke mana ya? Nah, itu target market yang potensial. Apalagi kalau tiket Jakarta-Silangit PP Rp 1,2 juta? Itu akan sangat ideal dan terjangkau,” kata dia.

Soal homestay, Rhenald cukup concern. Dia menyebut “sharing ekonomi”, berbagai tugas bersinergi dengan stakeholder, agar cepat adaptasi masyarakat dalam hal hospitality semakin cepat.

Jika mereka ramah, senyum, jujur, baik, dan bisa melayani dengan baik, maka seluruh kawasan itu akan terjaga karena secara social mereka sudah terlatih menjadi tuan rumah yang baik.

“Ayo masyarakat siapkan home stay, sewakan rumah, bangun home stay kecil milik sendiri, dirawat yang baik, dijaga kebersihan dan keindahan, itu akan membangkitkan Pariwisata dengan sharing ekonomi. Masyarakat ikut partisipasi. Saya yakin ini akan bangkit semua dan target akan tercapai,” kata pria berkacamata itu.

Rhenald menceritakan soal Bali, 20 tahun yang silam. Masyarakat mendapatkan penghasilan yang baik dari wisatawan. Mereka justru akan menjaga, agar tamu-tamu yang berwisata itu merasa nyaman, aman, tertib, dan tidak diganggu oleh preman jalanan.

Coba saja sekarang, ada preman di Bali, pasti ditangkap sendiri oleh Pecalang, lalu dibawa ke kantor kepolisian. Mereka sangat paham, pariwisata itu tenang, nyaman, aman, bersih, dan damai.

Menpar Arief Yahya berkali-kali mengucap terima kasih, dan memberi apresiasi yang tinggi kepada seluruh pihak yang membantu percepatan 10 top destinasi. Dari Danau Toba (Sumut), Tanjung Kelayang (Belitung), Tanjung Lesung (Banten), Kepulauan Seribu dan Kota Tua (Jakarta), Borobudur (Jawa Tengah), Bromo (Jawa Timur), Mandalika (Lombok), Labuan Bajo (Komodo, NTT), Wakatobi (Sultra), dan Morotai (Maltara).

“Soal Badan Otorita DPN Danau Toba, target kami Bulan Maret 2016 tuntas. Badan inilah yang selanjutnya akan melakukan terobosan deregulasi kebijakan dan koordinasi pembenahan infrastruktur,” jelas Menpar Arief Yahya di Jakarta.

Menurut Arief Yahya, Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) juga menjadi penting untuk mempercepat pembangunan di Destinasi Pariwisata Danau Toba. Badan Otorita itu kelak memiliki wewenang otoritatif dan juga koordinatif.

Wewenang otoritatif artinya melakukan pengelolaan kawasan di Destinasi Pariwisata Danau Toba seluas lebih kurang 500 Ha. Sedangkan wewenang koordinatif, Badan Otorita akan melakukan koordinasi percepatan pembangunan di dalam area seluas lebih kurang 300.000 Ha di dalam wilayah Daerah Pariwisata Nasional (DPN) Danau Toba.

Badan Otorita juga akan mendorong provinsi serta kabupaten untuk mengembangkan eco-tourism pada situs-situs geo-sites yang ada di sekitar. Arief Yahya sependapat dengan Prof Rhenal, peran serta masyarakat sangat penting.

Mereka harus dilibatkan untuk menjaga ekosistem Danau Toba, juga menciptakan atmosfer hospitality yang ramah, welcome, dan menciptakan kenyamanan. “Bahkan kami sudah menyiapkan program homestay bersama KemenPU-PR, finansial disupport BTN, harga Rp 150 sampai 300 juta, dicicil 20 tahun, bunga flat 5%, uang muka 1%, sehingga sangat sangat murah,” kata Arief Yahya.

Jumlahnya, se-Indonesia bisa 100 ribu homestay. “Ini yang akan menjadi daya tarik ekonomi masyarakat ke depan. Mereka langsung mendapatkan dampak finansial. Nanti akan dibantu oleh Kemenpar untuk pendidikan hospitality. Kebetulan ada Akademi Pariwisata Medan yang kelak KKN-nya difokuskan ke Danau Toba, memberdayakan masyarakat untuk sadar wisata,” ungkap Menpar.

Toba, kata Arief Yahya, adalah ikon-nya pariwisata Sumatera Utara. Tahun 2015 lalu, baru bisa menggaet 250 ribu wisman. Tahun 2019 harus menjadi 1 juta wisman, dengan rata-rata membelanjakan USD 1.200 per kunjungan. Jika dihitung Rhenald Kasali 3 tahun take off, itu masuk akal.

“Terima kasih, semua pihak concern membangun Danau Toba. Inilah implementasi Indonesia Incorporated, untuk kepentingan nasional, mari kita bersatu, bergotong-royong, sesuai dengan porsinya,” kata Arief.

Menpar juga memuji Garuda Indonesia yang berani membuka jalur-jalur ke destinasi pariwisata. Karena, Arief menyadari, negara kepulauan seperti Indonesia, akses udara itu vital. “Saat ini wisman masuk ke Indonesia 75% via udara, 24% penyeberangan laut, dan hanya 1 persen yang masuk lewat darat. Karena itu, memperbaiki yang 75%, dampaknya akan signifikan bagi pariwisata kita,” jelas Menpar Arief yang selalu mengajak public untuk outworld looking. Melihat sukses negara lain, dan berpandangan global.

Sejak Maret 2014, Garuda Indonesia resmi menjadi anggota SkyTeam, sebuah aliansi maskapai global yang beranggotakan 20 anggota maskapai yang menawarkan jaringan global dengan lebih dari 16.300 penerbangan setiap harinya ke 1.057 destinasi si 177 negara dan akses ke 636 SkyTeam lounges. “Di level internasional, Garuda semakin diakui,” katanya.

Tahun 2013, Skytrax – lembaga independen pemeringkat penerbangan global berbasis di London, Inggris – menobatkan Garuda Indonesia sebagai “The World’s Best Economy Class” dan pada tahun 2014 Garuda Indonesia untuk pertama kalinya meraih predikat “The World’s Best Cabin Crew”, “Maskapai Bintang Lima/5-Star Airline” dan posisi ke-7 dalam “The World’s Best Airlines”.

Tahun 2015, di acara Skytrax “The World Airline Awards 2015” bertempat di pameran kedirgantaraan “Paris Airshow 2015”, Garuda Indonesia kembali meraih “The World’s Best Cabin Crew” untuk yang kedua kalinya.

“Dan yang hebat, Garuda juga memperoleh award di UN-WTO, lembaga PBB yang mengurusi pariwisata. CSR Garuda dikucurkan untuk membantu bersih-bersih pantai Kuta Bali, agar turis betah di pantai dan memberi pelajaran berharga buat pengunjung di sana. Selamat membuka jalur Jakarta-Silangit-Sibolga,” kata dia.(JPG)

Respon Anda?

komentar