Agen Tolak ke Kasu, Warga Kesulitan Dapat Gas Melon

611
Pesona Indonesia
Karyawan agen elpiji mendistribusikan gas melon dari boat pancung ke sejumlah pulau di Kota Batam, beberapa waktu lalu. Namun sekarang, agen tak mau memasok ke Pulau Kasu. Foto: Iman Wachyudi/ batampos.co.id
Karyawan agen elpiji mendistribusikan gas melon dari boat pancung ke sejumlah pulau di Kota Batam, beberapa waktu lalu. Namun sekarang, agen tak mau memasok ke Pulau Kasu. Foto: Iman Wachyudi/ batampos.co.id

batampos.co.id – Masyarakat Pulau Kasu, Kecamatan Belakang Padang, Batam kesulitan mendapatkan gas elpiji 3 kg atau gas melon. Agen penyalur gas ke daerah itu sebulan terakhir menolak masuk.

”Kami meminta pemerintah memperhatikan masyarakat, terutama yang berada di pulau,” kata Wakil Ketua DPRD Kota Batam, Iman Setiawan, Rabu (23/3).

Jangan sampai komoditas yang menjadi kebutuhan masyarakat miskin ini, dipermainkan oknum untuk kepentingan dan keuntungan tertentu. ”Hal ini yang tak kita inginkan, kita berharap peran serta pemerintah. Sehingga penyalurannya tepat sasaran,” beber mantan Pegawai Badan Pengusahaan (BP) Batam ini.

Kini gas elpiji lanjut Iman menjadi barang yang langka bagi masyarakat pulau. Meskipun ada, harganya jauh di atas harga eceran tertinggi (HET).

Berdasarkan Peraturan Wali Kota (Perwako), HET gas melon di mainland Rp 18 ribu, sedangkan di pulau Rp 22 ribu. ”Harganya bisa di atas Rp 25 ribu, jelas menyulitkan masyarakat,” ungkap Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Provinsi Kepri ini.

Pemilik pangkalan Putri Nabilah, Pulau Kasu, Jumaris mengatakan, sebelumnya ia mendapatkan pasokan gas dari salah satu agen di wilayah Tanjung Riau, Sekupang dengan harga Rp 15.500 per tabung. Ditambah ongkos transportasi pulang pergi Rp 190 ribu, ia bisa menjual berdasarkan ketentuan.

”Sebulan terakhir ini agen tak mau kasih gas lagi. Katanya belum ada kontrak dan lainnya. Alasannya gak jelas,” ungkap Jumaris.

Pihak agen menyarankan Jumaris mengambil gas di pangkalan Belakang Padang. Selain ongkos transportasinya lebih mahal, harganya juga lebih mahal, Rp 19 ribu per tabung.

Jumaris sudah mengeluhkan hal tersebut kepada agen, dengan kondisi itu ia sulit menjual sesuai HET. ”Agennya malah nyuruh kita jual di atas HET. Kalau kita jual mahal, masyarakat pasti protes,” ungkapnya.

Namun tak ada pilihan lain bagi Jumaris. Meskipun mahal ia terpaksa mengambil gas agar kebutuhan masyarakat terpenuhi. Pangkalannya dijatah 150 tabung sekali ngambil. ”Seminggu bisa dua kali ngambil,” tuturnya lagi. (hgt)

Respon Anda?

komentar