Ini Cerita Profesor Malaysia yang Merasa Diperlakukan Seperti Teroris oleh Singapura

1185
Pesona Indonesia
Profesor Ridhuan Tee Abdullah. Foto: http://www.sinarharian.com.my
Profesor Ridhuan Tee Abdullah. Foto: http://www.sinarharian.com.my

batampos.co.id – Tidak semua orang yang berkunjung ke Singapura bebas masuk ke negara itu. Sejumlah orang yang dicurigai atau paling tidak memiliki gestur tubuh yang mencurigakan di pintu masuk imigrasi, bisa jadi harus melalui proses interogasi pihak imigrasi Singapura. Apalagi jika dokumen bermasalah, punya catatan krminal di sana, dan bisa jadi ada alasan lainnya.

Ya, Singapura memang memproteksi negaranya dengan sangat ketat dari berbagai potensi ancaman. Mereka tak ingin keamanan negaranya tercabik hanya karena ulah segelintir pendatang.

Namun, bagi yang merasa tidak memiliki salah, tidak pernah melakukan tindakan kriminal, dan tujuan masuk ke Singapura hanya sekadar melancong, saat tertahan di imigrasi tentu hal yang sangat menjengkelkan. Apalagi diinterogasi dengan berbagai pertanyaan “nyeleneh”. Paling menjengkelkan kalau ujungnya dilarang masuk dengan alasan yang tak dijelaskan.

Nah, itulah yang dirasakan Profesor Mohd Ridhuan Tee Abdullah (pic), dosen di salah satu universitas di Malaysia. Ia dilarang memasuki Singapura setelah diinterogasi selama dua jam. Ia menyebut dirinya diperlakukan seperti “teroris”.

Ridhuan mengatakan saat ia berada di Johor dua bulan lalu, ia mencoba masuk ke Singapura, hendak bertemu dengan temannya di sana. Pada saat itu liburan sekolah dan jalanan macet.

Saat tiba di konter imigrasi, ia sempat ditanya oleh petugas imigrasi. “Di konter imigrasi (Singapore) mereka mengatakan kepada saya bahwa saya harus menuju ke kantornya. Di sana saya diinterogasi selama dua jam,” kata Ridhuan kepada The Star Online.

Di kantor imigrasi, petugas mengambil banyak foto Ridhwan. “Mereka memperlakukan saya seperti seorang teroris. Mereka tidak hanya mengambil sidik jari saya, tapi mengambil cetakan dari seluruh tangan saya,” ujarnya.

Setelah semua itu, sang profesor tetap ditolak masuk Singapura.

Ridhuan, yang menulis insiden itu dalam kolomnya di Malay Daily pada hari Minggu, mengatakan petugas imigrasi di Singapura bertanya berbagai pertanyaan. Namun, ia tidak diberitahu mengapa ia ditolak masuk.

“Saya diperlakukan seperti orang bersalah. Mereka mempertanyakan saya seperti saya adalah seorang teroris. Apa kejahatan saya?” tanya Ridhuan.

“Saya tidak pernah mengganggu orang lain. Saya tidak punya catatan kriminal di Malaysia. Mereka mengatakan bahwa mereka adalah negara demokrasi dengan kebebasan berekspresi, tapi sebenarnya situasi di sana jauh lebih buruk daripada Malaysia,” ujarnya lagi.

Profesor ini pun menilai, sistem demokrasi dan kebebasan berekspresi di Malaysia jauh lebih unggul daripada Singapura.

Menurut Ridhuan, yang menjadi dosen di sebuah universitas lokal, terakhir kali ia mengunjungi Singapura tiga tahun lalu ketika ia menerima undangan untuk sebuah acara. Saat itu, dia juga ditarik ke samping di bandara dan ditanyai macam-macam namun akhirnya diizinkan masuk ke Singapura.

“Saya yakin ini ada hubungannya dengan artikel saya, karena jika Anda membaca kolom saya selalu berbicara tentang politik Malaysia sebagai latar belakang saya adalah ilmu politik,” ujarnya, menduga.

“Saya selalu menulis tentang ‘ultra kiasu’. Dan seperti diketahui Singapura untuk sikap ‘Ultra kiasu’ mereka, mungkin mereka merasa sensitif tentang hal ini,” kata Ridhuan.

Ultra Kiasu adalah sikap selalu ingin menang dalam berbagai keadaan atau tidak mau kalah. Istilah ini banyak dipakai sang profesor dalam artikel-artikel politiknya. (asiaone/singapuraterkini)

Respon Anda?

komentar