Kabel Penyanggah Jembatan Satu Mulai Karatan, Ini Saran Ahli dari Korea

1639
Pesona Indonesia
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI bekerja sama dengan Koica dan Kistec dari Korea sSelatan mengecek kontruksi jembatan Fisabillilah, Rabu (23/3/2016). Foto: Dalil Harahap/Batam Pos
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI bekerja sama dengan Koica dan Kistec dari Korea sSelatan mengecek kontruksi jembatan Fisabillilah, Rabu (23/3/2016). Foto: Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Jembatan Tengku Fisabilillah atau yang dikenal Jembatan Satu Barelang mendapat sorotan dari Korea International Cooperation Agency (KOICA). Jembatan yang menjadi ikon kota Batam ini terdeteksi mulai karatan dan perlu perawatan yang lebih kedepannya.

KOICA, melalui Korea Infrastruktur of Safety and Technology Corporation (KISTEC), yang mendapat proyek pengembangan kapasitas manajemen keselamatan infrastruktur Indonesia, kerjasama dengan Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), menemukan bahwa kabel-kabel utama sebagai penyanggah kekuatan jembatan Fisabilillah mulai karatan dan tidak seimbang satu sama lainnya.

Sudah tiga bulan belakangan ini KISTEC dan pihak Kementrian PUPR melakukan training inspeksi di jembatan satu. Meskipun belum menyimpulkan hasil penelitian training itu secara detail, namun menurut president KOICA, Kim Byung Gwan, secara kasat mata memang kondisi fisik Jembatan satu perlu perawatan yang lebih.

“Untuk hasil kajian tim (kekuatan dan kelayakan jembatan) belum bisa disimpulkan, tapi secara kasat mata ya memang terlihat mulai karatan pada kabel-kebal utamanya. Perlu perawatan yang rutin, minimal lima tahun sekali,” ujar Kim Byung kepada wartawan, Rabu (23/3/2016).

Tidak itu saja, kabel-kebel utama yang dibungkus sebagai penopang kekuatan jembatan satu itu yang mulai karatan, Jembatan satu Barelang itu juga diakui Kim Byung tidak memiliki daya topang yang merata.

“Ada sebagian yang kendur dan ada yang menahan beban, jadi memang perlu diperhatikan kondisi ini, jika ingin jembatan ini awet,” ujarnya.

Selain masalah kondisi fisik jembatan, kondisi lingkungan jembatan juga disorot oleh KOICA. Sebab sampah yang berserahkan cukup mengganggu pandangan mata pengunjung di ikon kota Batam itu.

“Pemandangannya bagus, jembatan ini punya peran penting (jalur penghubung) tapi sayang sampahnya berserahkan,” ujarnya.

Sehingga saran Kim Byung kedepannya, pemerintah harus peran aktif untuk merawat jembatan tersebut.

“Bangunan apapun itu pasti ada masanya untuk rusak, tapi sebelum rusak, kita haru tetap ada perawatan yang rutin,” imbau Kim Byung.

Sekretaris Direktorat Jenderal Bina Konstruksi, Kementrian PUPR, Penani Kesai juga berpendapat yang sama. Jembatan satu yang menghubungkan pulau Batam dengan pulau Galang itu memang membutuhkan perhatian yang lebih. Sebab apa yang disampaikan Kim Byung diatas memang benar adanya.

“Kondisi jembatan masih sangat layak, cuman memang ada masalah-masalah kecil seperti karatan kabel itu, makanya memang perlu adanya penambahan biaya perawatan ke depannya,” ujar Penani.

Selama ini memang seluruh jembatan yang tergolong rumit seperti Jembatan satu Barelang itu, memang ada biaya perawatan dari pemerintah. Namun jumlah biaya perawatan tergolong sangat kecil sehingga berimbas pada kondisi seperti itu.

“Idealnya 5 persen keatas dari total biaya pembangunan jembatan untuk biaya perawatan, tapi kenyataan selama ini dibawa 5 persen, bahkan ada yang hanya satu persen,” ujarnya.

Beranjak dari pengelaman itu, kedepannya sambung Penani, perlu ada kajian dan pembahasan lagi terkait biaya perawatan jembatan di seluruh Indonesia.

“Bukan di Batam saja, beberapa jembatan besar lain di Indonesia juga perlu dilakukan evaluasi lagi mulai dari soal biaya perawatannya, tim (pakar) perawatan dan peralatan pendukungnya,” tutur Penani.

Meskipun diakui sudah ada karatan pada kabel dan sambung beton jembatan, namun ditegas Penani, bahwa kondisi jembatan satu Barelang, masih sangat layak untuk digunakan. “Inikan untuk antisipasi¬† jangka panjang, kalau saat ini belum berpengaruh,” ujarnya.

Dijelasakan Penani, proyek pengembangan kapasitas manajemen keselamatan infrastruktur Indonesia ini merupakan kerjasama Indonesia dan KOICA untuk mendorong pembangunan infrastruktur, sehingga infrastruktur juga menjadi salah satu pilar strategis dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

Salah satunya adalah manajemen keselamatan infrastruktur. Indonesia mengalami beberapa kasus kegagalan konstruksi dalam beberapa tahun terakhir, antara lain robohnya Jembatan Kutai Kertanegara di Kalimantan Timur (November 2011), dan runtuhnya hanggar bandara udara Sultan Hasanudin (Maret 2015) yang menimbulkan korban dan kerugian jiwa, harta benda, serta lingkungan yang besar.

Dengan fakat itu, Kementerian PUPR pada tahun 2014 bekerjasama dengan KOICA sebagai konsultan pelaksana dalam Manajemen Keselamatan Infrastruktur Indonesia untuk sama-sama meneliti kondisi fifik bangunan di Indonesia termasuk Jembatan.

“Sehingga Indonesia bisa adopsi manajemen keselamatan infrastruktur Korea yang selama ini sudah bagus,” kata Penani.

Tujuan proyek ini adalah membuat framework institusi dan kebijakan untuk infrastruktur Indonesia.

Untuk mencapai tujuan tersebut, KISTEC mengadakan training dan workshop, peralatan inspeksi jembatan, dan pelaksanaan inspeksi pada Jembatan Tengku Fisabilillah. Proyek ini akan diselenggarakan selama du tahun, sampai dengan Desember 2016. (eja/bp)

Respon Anda?

komentar