Kasus Pencucian Uang, Nazar dan Anas Saling Bantah di Pengadilan

537
Pesona Indonesia
Nazar vs Anas. Foto: istimewa
Nazar vs Anas. Foto: istimewa

batampos.co.id  – Dua politikus yang pernah menjadi kawan karib, M. Nazaruddin dan Anas Urbaningrum, kembali bertemu di persidangan.

Kali ini Anas menjadi saksi untuk Nazar –sapaan Nazaruddin, dalam kasus pencucian uang terkait proyek Hambalang. Keduanya yang kini bermusuhan terlibat saling bantah saat dihadirkan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (23/3/2016).

Anas yang telah berstatus sebagai narapidana di Lapas Sukamiskin, Bandung, dihadirkan jaksa untuk bersaksi kasus Nazar. Anas banyak membantah hal-hal yang dituduhkan pada dirinya. Misalnya soal pertanyaan jaksa mengenai rumah Anas di kawasan Duren Tiga, Jakarta Timur. Jaksa mengindikasikan rumah itu dibelikan Nazar.

’’Tidak, seingat saya itu bukan rumah tapi tanah. Saya datang ke sana bersama broker,’’ jawab Anas.

Pernyataan Anas tidak klop dengan kesaksian ahli waris rumah di Duren Tiga tersebut. Seorang ahli waris rumah itu sempat mengatakan Anas pernah datang bersama seorang broker. Namun kemudian yang menyelesaikan transaksi pembelian rumah bukan Anas, tetapi Nazaruddin.

Bantah-bantahan antara Nazar dan Anas makin seru ketika hakim memberikan kesempatan bertanya untuk terdakwa. Nazar sempat bertanya mengenai Kongres Partai Demokrat di Bandung. ’’Saat itu Anda berangkat ke kongres bersama siapa?’’ tanya Nazar.

Anas langsung sengit. Dia tak mau menjawab karena tidak ada relevansinya dengan persidangan. Nazar berupaya mengejar itu karena dia selama ini kerap ’’bernyanyi’’ bahwa pencalonan Anas sebagai Ketua Umum Partai Demokrat di Kongres Bandung disokong dirinya.

Nazar kembali bertanya dan mengingatkan Anas mengenai pertemuan pada 2004. Saat itu Nazar sebagai caleg DPR dari PPP bertemu Anas. ’’Saya tidak pernah bertemu saudara,’’ jawab Anas.

Nazar juga mengingatkan pernah membelikan mobil Nissan Serena, Toyota Alphard dan Camry. Lagi-lagi, Anas tak mau menjawab karena dianggap tak ada hubungannya dengan sidang.

’’Yang saya tanya ini relevan karena berkaitan dengan uang-uang proyek,’’ kejar Nazar. Anas tak berkutik dan menyebut mobil-mobil itu atas nama perusahaan Nazar dan statusnya hanya dipinjamkan.

Sementara itu, di luar persidangan Nazar berkicau terkait Hambalang yang kini akan dilanjutkan lagi oleh pemerintah. Menurut dia, dalam kasus korupsi Hambalang masih ada sejumlah pihak yang belum tersentuh KPK. Dia menyebut nama mantan Sekretaris Menpora Wafid Muharram.

’’Wafid itu kan belum jadi tersangka,’’ ujarnya. Wafid kini menjadi terpidana kasus Wisma Atlet. Kasus itu kemudian mengembang ke korupsi proyek Hambalang.

’’Dia itu kan yang tanda tangan semuanya,’’ imbuh pria yang pernah menjadi bendahara umum Partai Demokrat itu.

Tak hanya Wafid, Nazar juga menyebut nama mantan Wakil Ketua Badan Anggaran DPR, Mirwan Amir. Nazaruddin sendiri sebenarnya telah berstatus terpidana. Dia terjerat kasus Wisma Atlet bersama Wafid. Kini dia diseret lagi ke persidangan untuk kasus pencucian uang. (gun/agm/jpgrup)

Respon Anda?

komentar