Lingga Perlu Perhatian Khusus Pemerintah Provinsi Kepri

791
Pesona Indonesia
Kegiatan Musrenbang 2017 Kabupaten Lingga. foto:hasbi/batampos
Kegiatan Musrenbang 2017 Kabupaten Lingga. foto:hasbi/batampos

batampos.co.id – Setelah selesai kegiatan musyawarah rencanaan pembangunan (Musrenbang) tingkat desa dan kecamatan, kini giliran tingkat Kabupaten Lingga menggelar musrenbang tahun 2017 di Balai Agung Junjungan Negri, komplek perkantoran Bandar Sultan Mahmud Ruayat Syah III, mulai 23 sampai 24 Maret 2016. Kegiatan tersebut digelar oleh Bappeda kabupaten Lingga.

Ribuan undangan mulai dari DPRD, FKPD, SKPD, staf khusus, Camat, Lurah, Kepala Desa se Kabupaten Lingga, Tokoh Masyarakat (Tomas) dan LAM, hadir dalam kegiatan yang dimulai pada pukul 08.30 tersebut. Hadir juga perwakilan Bappeda Provinsi Kepri, Teguh Ahmad Safari. Dalam kesempatan itu, Teguh menyampaikan 9 pokok pikiran dan visi misi Gubernur Kepri untuk pembangunan. Diantaranya, disampaikan Teguh, prioritas pembangunan 5 tahun kedepan yakni, peningkatan infrastruktur seperti jalan dan jembatan, sarana pelayanan dasar, sektor maritim dan sektor pariwisata.

Sementara itu, Ketua sementara DPRD Kabupaten Lingga, Kamarudin Ali mengatakan, dalam kesempatan yang sama mengaku optimis dengan langkah yang diambil oleh Bupati Lingga, Alias Wello atau Awe dengan semangat yang baru. Program 100 hari kerjanya, meski baru 1 bulan berjalan setelah dilantik Februari lalu, seperti program ketahanan pangan dan dibukanya percetakan sawah Sungai Besar harus menjadi prioritas dan perlu didukung oleh pemerintah Provinsi Kepri.

“Kita harapkan program-program bapak Bupati menjadi nyata dan terwujud. Program ketahanan pangan telah kita lihat progresnya dan kita DPRD sangat mengapresiasi,” singgkat Wak Din sapaan akrabnya.

Wakdin juga menyinggung soal pelayanan dasar, pendidikan, kesehatan dan kemiskinan yang masih menjadi polemik dan momok di Kabupaten Lingga. “Infrastruktur, sarana dan prasarana sampai saat ini masih minim. Sampai hari ini kita terus bicara fisik pendidikan. Belum sama sekali dapat bicara soal mutu pendidikan. Masih banyak ruang guru, rumah guru, ruang kelas yang rusak. Kedepan, kita harapkan SKPD dan pemerintah manyamakan persepsi dalam menelaah UU penggunaan dana APBD agar tidak melulu jadi perdebatan,” sambung Wak Din.

Sementara itu, di dalam ruang aula yang penuh sesak dan sedikit panas karena pendingin ruangan telah banyak yang rusak, Bupati Lingga Awe tetap melanjutkan kegiatan dan menjadi pembuka Musrembang tingkat Kabupaten Lingga 2016 ini. Ditengah-tengah jajaran pemerintahannya, Awe mengajak semua elemen bersinergi. Bekerja keras dan sepenuh hati.

“Mari kita bekerja keras. Kegiatan ini, adalah tonggak pembangunan untuk tahun depan. Kita harus serius dan cermat. Curahkan segala pemikiran kita bersama untuk mensukseskan pembangunan Lingga ke depan. Komitmen,” ungkap Awe.

Kehadiran perwakilan Bappeda Provinsi, tidak disia-siakan Awe untuk memaparkan kondisi daerah yang dipimpinnya. Dengan geograsfis kepulauan, 94 persen laut dan 6 persen wilayah daratan serta 604 pulau dan 93 diantaranya menjadi pemukiman penduduk, belum semuanya tersentuh. Keuangan daerah dari APBD Kabupaten Lingga yang terus turun dan defisit tahun demi tahun, disampaikan Awe perlunya perhatian serius pemerintah Provinsi khusus ke Lingga.

“Lingga kalau tidak ada perhatian serius dari provinsi akan sangat sulit berkembang. Infrastruktur kami masih belum semuanya memadai. Dibanding daerah lain di Kepri seperti Batam, Bintan, Karimun sudah mantap. Daerahnya dinamis, mobilitas tinggi, peran swasta sangat besar juga bisnisnya. Kami ada 604 lebih pulau. 94 diantaranya adalah pemukiman dengan infrastruktur minim. Daerah kami, tersandra persoalan geografis. Dulu primadona kami di tambang. Kini kran ekspor sudah ditutup. Padahal potensi kami tidak terkalahkan. Oleh karena itu, kami cari pola lain seperti pertanian,” sambung Awe lagi. (mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar