Sekolah yang Sering Curang Diawasi Khusus Saat Ujian Nasional

873
Pesona Indonesia
Suasana Ujian Nasional di salah satu sekolah tahun lalu. Foto: istimewa
Suasana Ujian Nasional di salah satu sekolah tahun lalu. Foto: istimewa

batampos.co.id – Ujian nasional (unas) kini sudah tidak lagi menjadi penentu kelulusan. Namun potensi kecurangan masih tetap ada. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memiliki strategi baru dalam mengamankan ujian massal tahunan itu.

Untuk jenjang SMA sederajat, unas tahun ini digelar mulai 4 April. Sedangkan di jenjang SMP sederajat dilaksanakan pada 9-12 Mei. Inspektur Jenderal (Irjen) Kemendikbud Daryanto menuturkan senjata terbaru mereka untuk menjaga kelancaran Unas 2016 adalah indeks integritas Unas 2015.

’’Jadi nilai indeks integritas unas tahun lalu tidak didiamkan begitu saja,’’ katanya di Jakarta kemarin.

Kemendikbud bakal membongkar kembali file indeks integritas Unas 2016. Kemudian akan disaring daerah atau sekolah-sekolah dengan nilai indeks kejujuran terendah. Setelah itu Kemendikbud bakal menjalankan sistem pengawasan unas yang lebih ketat.

Pejabat kelahiran Klaten, 4 Januari 1962 itu mengatakan jika ada sekolah atau daerah mendapatkan indeks kejujuran yang rendah, mengindikasikan terjadi kecurangan. Sebab yang diukur dalam indeks integritas tersebut adalah kecurangan siswa dalam mengerjakan ujian.

’’Semakin banyak curangnya, maka semakin rendah nilai indeks integritasnya,’’ kata Daryanto.

Pria yang mengawali karir di Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) itu menuturkan, tujuan Kemendikbud memberlakukan pengawasan lebih ketat maksudnya baik. Yakni mereka ingin supaya tahun ini semakin banyak sekolah yang mendapatkan indeks integritas tinggi.

Dalam rekapitulasi Kemendikbud terdapat sejumlah provinsi yang memiliki nilai rerata indeks integritas Unas 2015 rendah. Diantaranya Provinsi Bali dengan rerata indesk integritas 58,53 poin dibawah rerata nasional 63,28 poin. Kemudian di Provinsi Jawa Timur (62,91 poin) dan Provinsi Sumatera Selatan (58,69 poin).

Daryanto lantas menuturkan perkembangan proses pencetakan naskah ujian. Dia menuturkan hampir di seluruh daerah, pencetakannya sudah dilaporkan 100 persen. Dia mengatakan Kemendikbud memonitor secara online untuk melihat perkembangan percetakan naskah ujian.

Kepala Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Kemendikbud Nizam mengatakan secara keseluruhan, Unas 2016 diikuti 6.234.314 siswa mulai dari jenjang SMP dan SMA sederajat. Perinciannya adalah peserta kelompok SMA sederajat ada 3.046.289 siswa dan kelompok SMP sederajat tercatat 3.188.025 siswa.

Nizam menuturkan meskipun tahun ini Kemendikbud memperbanyak jumlah lokasi ujian nasional berbasis komputer (UNBK), peserta ujian konvensional menggunakan kertas tetap mendominasi. Di jenjang SMA sederajat ada 2,2 juta siswa tetap melaksanakan unas berbasis kertas dan 793 ribu siswa lainnya berbasis komputer.

’’Kami tetap menyiapkan naskah fisik cadangan untuk antisipasi gangguan darurat UNBK,’’ jelas dia. (wan/jpgrup)

Respon Anda?

komentar