Terduga Pelaku Bom di Brussels Dua Bersaudara

530
Pesona Indonesia
Dua kakak beradik terduga pelaku bom Brussels. Foto: istimewa
Dua kakak beradik terduga pelaku bom Brussels. Foto: istimewa

batampos.co.id – Belgia bergerak cepat untuk mengidentifikasi pelaku pengeboman di Brussels Selasa (22/3/2016) lalu. Dua terduga pelaku bom bunuh diri merupakan kakak beradik.

Mereka adalah Khalid dan Ibrahim El Bakraoui. Jaksa federal Belgia mengungkapkan bahwa Brahim adalah pelaku peledakan di bandara Zaventem yang menyebabkan 11 orang tewas. Sedangkan Khalid melakukan penyerangan di stasiun metro Maelbeek yang membuat 20 orang kehilangan nyawa. Dua ledakan di lokasi berbeda ini juga membuat 260 orang lainnya mengalami luka-luka.

Dua bersaudara ini sebenarnya sudah diburu oleh pihak kepolisian Belgia. Keduanya disinyalir masih memiliki hubungan dengan pelaku bom Paris 13 November lalu yaitu Salah Abdeslam. Abdeslam ditangkap Jumat (18/3/2016) lalu di Molenbeek, Brussels. Jejak Abdeslam sebelumnya terdeteksi di Distrik Forest.

Di distrik ini pula dua bersaudara El Bakraoui tinggal. Khalid menggunakan identitas palsu untuk menyewa sebuah flat di Forest ini. Nama Khaled masuk di website Interpol. Dia disinyalir terlibat dalam aktivitas terorisme. Dua bersaudara ini juga memiliki catatan kriminal. Khalid dipenjara pada 2011 karena pembajakan mobil dan Brahim dipenjara pada Oktober 2010 lalu karena menembak polisi.

Brahim meninggalkan pesan di komputernya sebelum melakukan aksi biadab di bandara Zaventem tersebut. Komputer tersebut dibuang di tong sampah di area Schaerbeek. Di wilayah ini pula jaksa menemukan 15 kilogram bahan peledak. Kemungkinan besar bahan peledak ini masih berhubungan dengan dua ledakan diatas.

Di salah satu apartemen di area ini juga ditemukan bendera IS atau yang lebih dikenal dengan ISIS. ISIS sendiri mengklaim sebagai dalang pengeboman di Brussels ini.

’’Sedang buru-buru, saya tidak tahu apa yang harus dilakukan, dicari dimana-mana, tidak aman, jika tertangkap maka saya bisa berakhir di penjara di sampingnya,’’ tulis Brahim seperti diungkapkan oleh jaksa Brussels Frederic van Leeuw dalam konferensi pers kemarin. Media lokal menyebut bahwa yang dimaksud Brahim di atas adalah berakhir di penjara  bersama Abdeslam.

Leeuw juga mengungkapkan bahwa tidak ditemukan senjata lain di bandara Zaventem. Pihak yang berwenang telah menyebarkan tiga foto tersangka. Satu diantaranya adalah Brahim yang diketahui sebagai pelaku dari hasil sidik jarinya.

Brahim sendiri adalah warga Belgia. Pelaku lainnya adalah Najim Laachraoui masih menjadi buron. Dia sempat diberitakan telah tertangkap di Anderlecht. Namun ternyata orang yang ditangkap ini bukan Laachraoui. Wajah Laachraoui tampak di CCTV bandara tengah mendorong troli di bandara. Dia berjalan di samping Brahim dan satu orang lainnya. Laachraoui urung meledakkan diri.

’’Bom yang dibawanya tidak meledak. Bom tersebut berisi bahan peledak yang paling besar (diantara pelaku lainnya) dan tidak stabil,’’ ujar Leeuw. Masih ada satu pelaku lainnya yang belum bisa diidentifikasi. Dia tampak sama-sama mendorong troli di samping Brahim dan Najim Laachraoui.

Sementara itu, pemerintah Belgia menggelar masa berkabung selama tiga hari. Penduduk Brussels mengheningkan cipta serentak pada tengah hari kemarin yang dipimpin oleh Raja Philippe dan Perdana Menteri Charles Michel.

Selasa malam lalu landmark di Eropa memasang lampu hitam, kuning dan merah sesuai dengan bendera Belgia sebagai bentuk solidaritas. Diantaranya adalah Menara Eiffel di Paris serta Gerbang Brandenburg di Berlin.

Stasiun bawah tanah Brussels sendiri kemarin pagi sudah mulai beroperasi lagi. Namun dengan pengawasan keamanan yang sangat ketat. Banyak tentara yang ditempatkan untuk mengecek tas milik penumpang. Penduduk Brussels sendiri tampaknya juga masih ketakutan.  Buktinya pada jam-jam sibuk stasiun metro yang biasanya penuh kini tidak terlalu ramai.

’’Saya sedikit takut. Tapi kami tidak punya pilihan transportasi lain,’’ ujar Dominique Salazar, 18, yang mengantar dua adiknya berangkat sekolah. (AFP/Reuters/BBC/jpgrup)

Respon Anda?

komentar