Tol Laut Diduga Dimonopoli Pedagang Besar di Anambas

839
Pesona Indonesia
Tol Laut Caraka Niaga III yang digunakan membawa sembako ke pulau-pulau perbatasan. foto:syahid/batampos
Tol Laut Caraka Niaga III yang digunakan membawa sembako ke pulau-pulau perbatasan. foto:syahid/batampos

batampos.co.id – Salah seorang tokoh masyarakat Anambas Dedi, merasa prihatin dengan kondisi ketika program tol laut belum memberikan dampak yang siginifikan bagi masyarakat Anambas. Pasalnya kondisi ini sangat memberatkan masyarakat, sementara itu yang ia tahu, pedagang kecil yang sifatnya menjual barang secara eceran tidak bisa menjual lebih murah lantaran barang yang diambil dari pedagang besar sudah mahal.

Ia tidak menyalahkan pedagang kecil karena semua barang berasal dari pedagang besar. Menurutnya sangat tidak mungkin barang akan dijual murah jika mengambil barang dari bos besar sudah mahal.

“Kita tahu kalau pedagang kecil itu disuplai oleh pedagang besar, jika barang dari pedagang besar sudah mahal tidak mungkin akan dijual murah, itu yang juga menjadi keluhan pedagang kecil. Dari sini
seharusnya pemerintah paham dan tanggap dengan situasi ini sehingga tahu harus berbuat apa untuk masyarakatnya,” ungkapnya.

Ia pun menduga ada permainan pedagang besar yang secara sengaja tidak mau menurunkan harga padahal ongkos kirim jauh lebih murah. Tujuannya, pedagang tersebut mendapatkan keuntungan beberapa kali lipat karena ongkos kirim tol laut lebih murah.

“Pemerintah daerah tidak bisa mengendalikan harga barang di pasar, sebab masyarakat yang menjadi korban,” ungkapnya.

Menanggapi hal ini Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Kepulauan Anambas Suhaimi, mengatakan bahwasanya saat ini pihaknya belum bisa menurunkan harga karena pihaknya tidak bisa mengintervensi pedagang dan tidak mau tahu harga pasaran di Jakarta. “Masalah harga, itu masalah dapur pedagang, jadi kita tidak perlu tahu,” ungkapnya kepada wartawan.

Diakuinya dari sekian banyaknya pedagang yang ada di Kabupaten Kepulauan Anambas hanya ada lima atau enam pedagang saja yang baru memanfaatkan tol laut. Sehingga katanya, harga masih bisa dimonopoli oleh sejumlah pedagang besar tersebut. Oleh karena itu pihaknya berharap agar pedagang lainnya terutama kelas menengah bisa ikut mengambil barang dari Jakarta. Sehingga terjadi persaingan yang menyebabkan harga dengan sendirinya akan menjadi turun.

Jika tidak bisa jadi pemerintah daerah dengan menggandeng perusahaan daerah untuk menjalankan bisnisnya dengan mengambil barang dari Jakarta sehingga ada pembanding yang diharapkan bisa menurunkan harga. “Kalau ada kompetitornya baik itu perusda atau apa, bisa dijadikan
pembanding,” ungkapnya.(sya/bpos)

Respon Anda?

komentar