43 Tahun Kampung Wisata di Bintan Tak Tersentuh Listrik

966
Pesona Indonesia
Ahmad Kharin, warga Kampung Wisata Gunung Lengkuas bersantai di rumahnya yang belum dialiri listrik. foto:harry/batampos
Ahmad Kharin, warga Kampung Wisata Gunung Lengkuas bersantai di rumahnya yang belum dialiri listrik. foto:harry/batampos

batampos.co.id – Statusnya memang cukup keren: Kampung Wisata. Namun fasilitas di Kampung Wisata Gunung Lengkuas, Kabupaten Bintan, ini masih jauh dari baik. Khususnya listrik yang hanya bisa dinikmati warga saat ada pesta pernikahan.

Semilir angin yang bertiup di antara rerimbun pepohonan sedikit menepis teriknya sengatan matahari di Gang Wisata, Kelurahan Gunung lengkuas, Kabupaten Bintan, Kamis (24/3) siang. Ahmad Kharin, warga setempat, tak mau menyia-nyiakan hembusan demi hembusan angin yang menerpa wajahnya yang penuh peluh.

Sembari beristirahat setelah setengah harian berkebun, Ahmad tampak begitu menikmati momen tersebut. “Siang hari saya berkebun. Kalau lagi istirahat begini enaknya menikmati angin,” kata Ahmad mengawali perbincangan dengan Batam Pos, kemarin.

Kata Ahmad, ‘fasilitas gratis’ seperti ini memang hanya bisa dinikmati pada siang hari oleh warga Kampung Wisata Gunung Lengkuas. Sebab jika malam tiba, mereka harus berkutat dengan cuaca panas dan gerah.

Maklum, di kampung ini belum ada listrik untuk menghidupkan kipas angin, apalagi air conditioner (AC). Kondisi ini sudah berlangsung sejak 43 tahun silam.

“Kalau malam kami pakai lampu teplok. Tidak ada listrik,” ujar bapak dua anak ini.

Menurut Ahmad, listik memang menjadi barang yang langka di Kelurahan Gunung Lengkuas. Warga di sana bisa menikmati listrik pada momen-momen khusus saja. Misalnya pada acara pesta penikahan atau acara kondangan lainnya.

Itupun listriknya bersumber dari mesin genset, bukan dari PLN. Warga yang ingin mendapatkan listrik genset ini pun harus mengeluarkan biaya yang tak sedikit. Sebab mereka harus membeli kabel listrik sekitar Rp 400 ribu. Kemudian juga harus membayar sewa genset dan membeli bahan bakar sekitar Rp 500 ribu. Totalnya Rp 900 ribu untuk mendapatkan listrik dalam hitungan beberapa jam saja.

“Karena yang punya genset warga di kampung sebelah. jadi kami harus beli kabelnya juga,” kata Ahmad.

Meski mengaku sudah terbiasa dengan kondisi ini, Ahmad dan warga lainnya berharap pemerintah segera memenuhi kebutuhan listrik untuk warga Kampung Wisata Gunung Lengkuas. Sebab, seperti halnya air, saat ini listrik merupakan salah satu kebutuhan dasar warga.

“Apalagi kampung ini statusnya merupakan Kampung Wisata. Kami berharap ada perhatian serius dari pemerintah,” kata Ahmad.

Ketua RW 03 Kampung Wisata Gunung Lengkuas, Muchtar mengakui selama ini warganya kerap mengeluhkan ketiadaan listrik di kampun tersebut. Namun Muchtar mengaku tak berdaya, karena segala upaya yang selama ini dia lakukan tak juga ditanggapi oleh Pemkab Bintan dan instansi terkait.

Muchtar mengatakan, dirinya sudah beberapa kali meminta kepada PLN Rayon Kijang agar kampung ini dapat tersentuh aliran listrik. Namun hingga saat ini PLN Rayon Kijang, Bintan, tak kunjung menanggapi permintaan itu.

“Pada 2010 lalu sudah saya usulkan ke PLN. Namun hingga saat ini tak kunjung direalisasikan, sehingga 144 warga di sini terpaksa menggunakan lampu teplok untuk penerangan ketika malam hari,” jelasnya.

Muchtar menjelasakan, di perkampungan yang berlokasi di kaki Gunung Lengkuas ini terdapat 50 rumah yang didiami 65 Kepala Keluarga (KK) dengan total warga 144 jiwa. Menurut dia, jumlah ini seharusnya cukup memenuhi syarat bagi PLN untuk mengalirkan setrumnya ke Kampung Wisata Gunung Lengkuas. Namun nyatanya, PLN tetap bergeming.

Menurut Muchtar, selama ini PLN menolak permintaan warga dengan berbagai alasan. Di antaranya karena belum ada persetujuan dari Pemkab Bintan, terutama terkait pengadaan tiang listrik dari gardu listrik PLN Rayon Bintan menuju Gunung Lengkuas.

Jika warga Kampung Wisata Gunung Lengkuas menginginkan aliran listrik, kata Muchtar, PLN menyarakan agar warga mengajukan permohonan ke Pemkab Bintan melalui Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Kabupaten Bintan.

“Kita harapkan pemerintah dapat memperhatikan secara serius kondisi warga di kampung ini. Bagaimana bisa kampung ini maju jika listrik saja tidak ada,” ungkapnya.(ary/bpos)

Respon Anda?

komentar