Dua Kapal Nelayan Taiwan Ditembaki Kapal Patroli Indonesia, Ini Penjelasan Menteri Susi

1273
Pesona Indonesia
Anak Buah Kapal (ABK) kapal nelayan Taiwan di Pelabuhan Perikanan Jurong, Singapura, Kamis (24/3/16). (Foto: straits times)
Anak Buah Kapal (ABK) kapal nelayan Taiwan di Pelabuhan Perikanan Jurong, Singapura, Kamis (24/3/16). (Foto: straits times)

batampos.co.id – Dua kapal penangkap ikan Taiwan, Sheng Ta Tsai dan Lien I Hsing No. 116, tiba di Singapura, Kamis (24/3/2016). Mereka mengklaim ditembaki kapal patroli Indonesia saat berlayar di Selat Malaka menuju Singapura.

Straitstimes malaporkan, dua kapal Taiwan itu membawa 25 awak kapal, termasuk dua kapten. Kedua kapal tersebut merapat di Pelabuhan Perikanan Jurong sekitar pukul 07.15 waktu Singapura.

Dua kapal penangkap tuna itu mengaku berlayar di Selat Malaka menuju Singapura Senin pagi (21/3/2016) ketika kapten mereka mengatakan dikejar dan ditembaki oleh dua kapal patroli Indonesia.

Lien I Hsing No. 116, dengan 12 awak di atas kapal, tiba-tiba ditembaki empat atau lima kali setelah disorot lampu sorot kapal patroli Indonesia. Namun tidak ada yang terkena. Sang kapten Chen Fu-li menolak berkomentar.

Sementara kapten kapal Sheng Te Tsai, Lin Nan-yang mengatakan kapalnya mendapatkan 12 lubang peluru.

“Pada awalnya kami pikir kami sedang diserang oleh bajak laut. Tidak ada peringatan sama sekali dan mereka mulai menembak … Semua orang hanya bisa bersembunyi di bawah konsol atau di ranjang mereka,. berharap untuk tetap hidup,” ujar pria 34 tahun itu.

Kapten Lin yang tampak lelah mengatakan saat kejadian, ia baru menuju tempat tidurnya.

“Itu sangat kacau. Saya mencoba untuk membangun komunikasi dengan kapal itu tapi tidak mengerti apa yang mereka katakan,” tukas Lin kepada The Straits Times, seraya menambahkan bahwa ini adalah serangan pertama yang ia ditemui dalam 15-tahun karir panjangnya berlayar.

Kapal Indonesia mengatakan telah mengejar Sheng Te Tsai selama satu jam, Mr Lin menambahkan.

“Aku senang untuk sampai ke sini dalam satu tubuh dan aman,” kata Lin. Istrinya, yang hanya ingin dikenal sebagai Mrs Lin, tiba di Singapura malam sebelumnya untuk melihat dia.

Mr Lin mengatakan ia akan bongkar tangkapannya minggu depan sebelum berangkat ke Samudra Hindia pada tanggal 31 Maret untuk terus memancing.

“Saya sedikit trauma tapi masih harus mencari nafkah. Yang saya inginkan sekarang hanya tidur,” tutupnya.

Ditembak Karena Mencuri Ikan di Perairan Indonesia

Sementara itu, Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Pudjiastuti mengatakan penembakan dua kapal ikan Taiwan, Sheng Te Tsai dan Lien I Hsing No. 116, oleh kapal Indonesia dikarenakan mereka telah memancing ikan di wilayah perairan Indonesia.

Susi juga membantah penembakan dilakukan tanpa ada peringatan.

“Jadi (kapal Taiwan) sambil mancing lewat laut kami, mata pancingnya jalan, keliatan oleh kami. Sudah kami suruh berhenti tidak mau, ya kami keluarkan tembakan,” tegas Susi di gedung Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, Kamis, 24 Maret 2016.

Ia mengatakan kejadian yang terjadi pada Senin lalu tak jauh berbeda dengan penangkapan kapal Kway Fey 10078 milik Cina beberapa hari sebelumnya. Menurut Susi, keduanya terbukti sedang melakukan illegal fishing di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia.

Bedanya, kedua kapal mencoba melarikan diri hingga dilakukan tembakan peringatan oleh kapal patroli.

Pada saat yang sama, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan Indonesia telah mengikuti prosedur yang ada sebelum melakukan penembakan.

“Semua prosedur untuk menghadapi kapal yang masuk di teritori kita dilaksanakan oleh TNI AL. Yakni dilaksanakan peringatan melalui bendera, peringatan suara, peringatan tembakan di belakang, peringatan tembakan di buritan, semua sudah dilakukan,” kata Luhut. Ia menegaskan tak ada hukum internasional yang dilanggar dalam penembakan itu. (straitstimes/singapuraterkini/tempo/nur)

Respon Anda?

komentar