Hidupkan BLK, Bintan Manfaatkan Dana IMTA

670
Pesona Indonesia
Ilustrasi peningkatan pelatihan menjahit. Foto: istimewa
Ilustrasi peningkatan pelatihan menjahit. Foto: istimewa

batampos.co.id – Bila pada umumnya Balai Latihan Kerja (BLK) dioperasikan melalui anggaran rutin yang dialokasikan pemerintah daerah, hal yang berbeda coba ditaja Pemerintah Kabupaten Bintan. Kepala Dinas Ketenagakerjaan Bintan, Hasfarizal Handra mengatakan, ada cara berbeda dalam mengelola BLK.

“Biar tidak membebani keuangan daerah, bisa digunakan dana IMTA yang diperoleh setiap tahun itu,” kata Hasfarizal, Kamis (24/3/2016).

Apakah IMTA itu? Ini adalah persekot yang dibayarkan oleh perusahaan yang memperkerjakan warga negara asing. Melalui pungutan Izin Memperkerjakan Tenaga Asing (IMTA) itulah yang dikatakan Hasfarizal bisa memberdayakan BLK jauh lebih efektif dan tidak membebani anggaran pemerintah daerah.

“Apalagi kita semua tahu, anggaran sedang defisit. Alokasi IMTA ini akan sangat membantu,” ujar Hasfarizal.

Penggunaan dana IMTA untuk pemberdayaan BLK tidak melanggar aturan. Hasfarizal menjelaskan, bary dua tahun ini Pemerintah Kabupaten Bintan berhak mengelola IMTA yang diraupnya. Karena untuk mengelola IMTA diperlukan sebuah peraturan daerah yang mengaturnya. “Bintan sudah punya perda, jadi pemanfaatan dana IMTA itu terserah saja kebijakan pemerintah daerah,” katanya.

Selama dua tahun terakhir ini pula, tambah Hasfarizal, Pemkab Bintan sudah mendapatkan IMTA dengan kisaran Rp 2 miliar per tahun. Alokasi penggunaanya pun tidak jauh-jauh dari peningkatan sumber daya manusia untuk lebih siap bekerja. Semisal pelatihan-pelatihan keterampilan maupun profesi.

“Dengan dana itu, sebenarnya ada banyak hal yang bisa diperbuat. Kami ingin diselaraskan dengan program-program di BLK Bintan,” ujar Hasfarizal.

Peningkatan kualitas SDM Bintan yang berdaya saing memang masuk dalam agenda kerja prioritas Bupati Bintan Apri Sujadi. Tidak ada cara lain, kata Apri, kecuali memperbanyak pelatihan-pelatihan dan tentunya dibarengi dengan penerbitan lisensi agar SDM Bintan, khususnya generasi muda, bisa bekerja dan berkarya di rumahnya sendiri.

“Era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sudah dibuka. Anak-anak muda Bintan harus siap bersaing. Sebelum itu harus disiapkan dulu kemampuannya,” kata Apri.

Karena Apri tak menginginkan pemberlakuan MEA justru hanya menjadi keuntungan buat bangsa asing dan anak-anak Bintan malah jadi penonton di tanah kelahiran sendiri. Tak ada cara lain untuk mempersiapkan diri sebelum persaingan antarnegara di Asia Tenggara ini kian terbuka.

“Investasi terus tumbuh di Bintan. Ini adalah kesempatan bagi anak-anak muda Bintan untuk mengisinya. Jangan mau jadi penonton saja,” pungkas Apri. (muf/bp) 

Respon Anda?

komentar