Junewal ‘Lawen’ Muchtar, Penyair Kepri Melawan Komplikasi

727
Pesona Indonesia
Penyair Kepri Junewal Lawen Muchtar. Foto: fatih muftih
Penyair Kepri Junewal Lawen Muchtar. Foto: fatih muftih

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Kecelakaan lalu lintas dua pekan silam mengetuk pintu penyakit lain. Menyerah bukan pilihan. Lawen melawan dengan baris-baris puisi dari atas pembaringan.
—————————-
“Ruang Mawar nomor tiga,” kata seorag penjaga Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjungpinang.

Dari papan nama pasien terulis Junewal. Hanya satu Junewal di Tanjungpinang. Dialah penyair yang beken dengan julukan batu api. Tak heran, dalam pengantar buku puisi Topeng Makyong, kritikus sastra Maman S. Mahayana menganggap Lawen, begini ia kerap disapa, sebagai penyair penting di Tanjungpinang.

“Dalam serangkaian pembacaan puisinya, Lawen kerap tampil menderapkan spontanitas, kecepatan berpikir, dan improvisasi, sebagaimana yang menjadi semangat dasar berpantun, dan mabuk ekspresif sebagai representasi segala rasa dalam memandang situasi sosial di sekitarnya. Mungkin ia bermaksud memberontak, mencemooh, menyampaikan kritik sosial, mencoba memberi penyadaran atau mengungkap kecintaan,” tulis Maman.

Itulah Lawen. Caranya membaca puisi tiada dua. Tarikan napas suara beratnya mampu menghidupkan puisi yang sekadar ekspresi tulis menjadi gema di telinga dan kepala. Lawen adalah bintang panggung. Tidak perlu ragu untuk itu.

Tapi, Kamis (24/3) petang kemarin karisma panggung Lawen meredup. Meringkuk sembunyi di balik tubuhnya yang makin ringkih dan rambutnya yang semakin memutih. “Sudah tiga hari Abang dirawat di sini,” kata Indah Citra, istri Lawen.

Semua bermula pada dua pekan silam. Usai ngopi pagi sebagaimana laiknya rutinitas penyair, motor bebek yang dikendarai Lawen ditubruk mobil. Beruntung, sang penyair tidak mengalami luka parah akibat peristiwa di Jalan MT Haryono itu. Hanya beberapa kulitnya memar dan lecet-lecet. Semua berpikir Lawen baik-baik saja.

“Toh selama seminggu kemudian memang Abang sudah bisa beraktivitas lagi,” tutur Indah.

Tidak ada yang menduga bahwasanya tubuh Lawen sudah lama menyimpan derita. Sehingga benturan keras di atas aspal itu menjadi trauma buat tubuhnya. Tiga hari yang lalu menjadi puncak ketukan itu. Keras sekali dari dalam tubuh Lawen. Sang penyair hanya bisa melolong, mengaduh kesakitan yang merajam di sekujur tubuh. Tidak ada pilihan lain.

“Abang langsung kami bawa ke rumah sakit. Dia mengeluh seluruh tubuhnya tidak bisa digerakkan,” beber Indah.

Dokter segera mengambil tindakan cepat dengan melihat sisi dalam tubuh penyair gaek ini. Dari hasil pemeriksaan medis, ada sejumlah penyakit terbangun dan hari demi hari menggerogoti kekebalan tubuhnya. Ada batu di empedunya. Ada bengkak pada ususnya. Ada gangguan fungsi liver. “Kami takut ada tumor ganasnya di sana,” ucap Indah.

Merujuk keterangan dokter lagi, sambung Indah, keputusan lanjutan mengenai kondisi Lawen baru keluar Jumat (25/3) pagi ini. Kepastian adakah sang penyair ini harus menjalani operasi untuk meredakan komplikasi yang menjeratnya sedang dirapatkan. Indah dan Lawen mengaku hanya bisa pasrah menanti putusan tersebut.

“Kami berharap yang terbaik saja,” lirih sekali Indah berkata.

Bila Indah sedemikian dag-dig-dug menanti putusan, lain halnya dengan Lawen. Puisi telah menguatkannya.

“Kalau ditanya bagaimana rasanya sekarang, ya Abang harus akui sakit sekali,” jawabnya.

Semua itu dikatakan Lawen tanpa sekalipun mengaduh atau mengeluh. Kata-katanya masih tegas, walau suaranya tidak keras. Bahkan sesekali Lawen masih menyunggingkan senyum yang tak berubah binarnya kala membacakan puisi di atas panggung.

Puisi seolah membalur sekujur tubuh Lawen. Memberikan kekuatan untuk tetap melawan komplikasi penyakitnya. Meski boleh dikatakan kondisi ekonominya sedang tidak baik, dan memang jarang penyair memiliki kondisi ekonomi yang baik, Lawen tidak menyiratkan kesedihan dari tatapan matanya.

“Sekarang, Abang hanya fokus melawan penyakit ini. Urusan lain biar jadi kehendak Tuhan, tapi satu yang kamu harus tahu penyair tidak boleh kalah,” katanya mantap.

Jatuh sakitnya seorang penyair adalah kesedihan bagi penyair lain. Ini semangat yang kemudian membuat barisan seniman di Tanjungpinang bergandeng tangan. Ketua Dewan Kesenian Provinsi Kepri, Husnizar Hood mengatakan, sudah mengontak rekan seniman untuk membikin acara gala amal buat Lawen.

“Selain tetap mendoakan agar Lawen tetap semangat melawan penyakitnya, seniman lain tidak boleh berdiam diri,” ungkap Husnizar melalui sambungan telepon.

Bagi Husnizar, yang membela seniman adalah seniman. Kalau seniman sudah tutup mata dengan seniman lain, siapa yang hendak peduli. Maka seniman lain harus turun tangan berbuat sesuatu demi kesembuhan Lawen. Bisa jadi acara yang rencananya dihelat akhir pekan ini akan menggagas Malam Membaca Lawen.

“Kami akan membacakan puisi-puisi Lawen. Setiap yang datang bisa memberikan bantuan ala kadarnya buat biaya pengobatan Lawen,” terang Husnizar. (fatih muftih)

Respon Anda?

komentar