100 Kapal Nelayan Cina Masuk ZEE, Malaysia Kerahkan 3 Kapal Bersenjata

2737
Kapal dan pesawat Malaysia Maritime Enforcement Agency (MMEA). Foto: istimewa
Kapal dan pesawat Malaysia Maritime Enforcement Agency (MMEA). Foto: istimewa

batampos.co.id – Rupanya bukan hanya Indonesia yang dibuat gerah oleh ulah nelayan Cina yang terkesan dibela oleh militer mereka, Malaysia juga ikut gerah. Bahkan, Malaysia berang ketika mendapati 100-an kapal nelayan Cina masuk ke perairan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Sarawak, beberapa hari lalu.

Straitstimes melaporkan, kapal-kapal itu terlihat berada di dekat Beting Patinggi Ali, juga dikenal sebagai Luconia Shoals, sekitar 100 km di lepas pantai Miri di Sarawak.

Kawasan dangkal ini memang dekat kawasan ekstrim selatan Cina yang disebut garis putus-putus sembilan. Cina mengklaim wilayah di dalam tanda garis sembilan yang mencakup 90 persen dari 3,5 juta km persegi Laut Cina Selatan.

Menteri Malaysia di Kementerian Perdana Menteri, Shahidan Kassim, mengungkapkan Kamis (24/3/2016) lalu pemerintah telah mengirim tiga kapal Malaysia Maritime Enforcement Agency (MMEA) ke kawasan itu. Dia tidak menentukan tindakan apa yang akan diambil.

“Pesawat Bombardier kami juga telah dikirim untuk terbang ke daerah itu di mana mereka melihat sekelompok nelayan dari Cina melakukan kegiatan di perairan kita,” kata Datuk Seri Shahidan kepada wartawan.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hong Lei, mengatakan ia tidak “memahami rincian” dari yang pemerintah Malaysia katakan tentang masalah tersebut.

“Apa yang saya ingin tunjukkan adalah bahwa sekarang adalah musim penangkapan ikan di Laut Cina Selatan… Pada saat ini, setiap tahun, kapal pukat Cina di perairan yang relevan melaksanakan kegiatan penangkapan ikan secara normal,” katanya kepada Reuters. Dia tidak menjelaskan lebih lanjut.

Malaysia telah bertahun-tahun bersikap lunak meskipun tetap menuntut dalam sengketa atas wilayah yang diperebutkan di Laut Cina Selatan.

Ahli Kemaritiman dari ISEAS-Yusof Ishak Institute Singapura, Ian Storey, menilai Malaysia tidak boleh memandang kecil persoalan Laut Cina Selatan itu.

“Selama beberapa tahun terakhir, Kuala Lumpur telah menjadi semakin jengkel dengan meningkatnya kehadiran militer dan komersial Cina di ZEE negara itu,” katanya. Dia percaya jumlah insiden antara Coast Cina Guard dan otoritas maritim Malaysia dan Indonesia akan meningkat karena stok ikan bisa habis di wilayah utara Laut Cina Selatan.

“Beijing dan pemerintah provinsi telah mendorong armada penangkapan ikan untuk beroperasi lebih jauh ke selatan dari sebelumnya dalam rangka untuk memenuhi permintaan makanan laut di China,” katanya.

Storey mengatakan Cina sedang membangun fasilitas pelabuhan di Spratly yang akan memungkinkan Coast Guard untuk menegakkan klaim yurisdiksi Beijing. (straits times/dingapuraterkini/nur)

Baca Juga:
> Indonesia Bangun Pangkalan Militer di Natuna
> Intervensi Militer Cina di Natuna Berlanjut di Mahkamah Internasional
> Insiden di Perairan Natuna, Menko Maritim: Cina Harus Hormati Kedaulatan Kita
> Cina Lindungi Pencuri Ikan di Natuna, Nyaris Baku Tembak dengan Satgas KKP
> Dua Kapal Nelayan Taiwan Ditembaki Kapal Patroli Indonesia, Ini Penjelasan Menteri Susi

Respon Anda?

komentar