Rida K Liamsi: Sumatera Koridor Maritim Nasional

1408
Pesona Indonesia

hipminovotel

batampos.co.id – Mimpi besar Indonesia untuk jadi poros maritim dunia sudah sepatutnya dimanfaatkan kalangan pengusaha untuk berlomba mengoptimalkan potensi ekonomi dari sektor kemaritiman. Terlebih, bagi yang mendiami wilayah Sumatera yang mayoritas 64 persen wilayahnya berupa laut.

“Sumatera harus jadi koridor maritim nasional, karena letaknya yang sangat strategis dan paling siap,” kata CEO Riau Pos Group, Rida K Liamsi saat didapuk jadi pembicara di acara Rakorwil Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) se-Sumatera di Novotel Hotel Batam, Sabtu (26/3).

Menurut Rida, Sumatera dinilai jadi salah satu modal penting ekonomi maritim Indonesia berikut dengan segala infrastruktur ekonomi maritim yang ada. Beberapa wilayah di Sumatera bahkan dinilai jauh lebih siap menjadi gerbong laju ekonomi berbasis kemaritiman. Termasuk, yang berhadapan langsung dengan jalur maritim internasional yang sangat ramai seperti di Selat Malaka, Laut China Selatan, dan Samudera Hindia.

“Sudah ada Batam sebagai sentral utama, lalu Sabang, Belawan, Dumai, Palembang, Lampung, Bengkulu dan Teluk Bayur. Sebuah mata rantai ekonomi yang di depannya potensi ekonomi dunia berbasis maritim sedang bergerak,” sebut Rida.

Ia melanjutkan, potensi ekonomi maritim Indonesia berbasis pada lima sektor unggulan. Yakni, perikanan dan kelautan, perhubungan, industri, energi dan pariwisata. Semua itu, kata dia, pada hakekatnya bukan ekonomi yang mengandalkan sektor padat karya atau besarnya populasi, melainkan lebih menekankan pada kualitas dan keandalan Sumber Daya Manusia (SDM) serta ketersediaan teknologi kemaritiman.

“Ekonomi maritim Indonesia memang tertinggal selama ini karena kebijakan pembangunan nasional yang agraris sentris,” ujarnya.

Hal itu, sambung dia, yang menyebabkan daerah-daerah berbasis maritim tertinggal jauh dibanding daerah yang agraris sentris, terutama dalam bidang infrastruktur dasar. Seperti, pelabuhan, listrik dan juga armada.

“Tetapi modal dasar yang sudah ada, terutama potensi dan infrastruktur perhubungan dan keamanan, bisa menjadi kekuatan penting Indonesia untuk mewujudkan mimpi besarnya menjadi poros martim dunia,” papar Rida.

Lebih lanjut, bos media itu itu menyampaikan peran penting pers Indonesia di era ekonomi maritim. Yakni, dengan mendorong perubahan paradigma dan doktrin berpikir bangsa ini dari negeri agraris menjadi negeri berbasis maritim. Caranya, kata Rida, dengan melihat laut dan semua mata rantai hubungannya sebagai kekuatan dan modal penting, dan bukan lagi sebagai beban dan kendala.

“Kembali ke jati diri negeri yang sudah berwujud ribuan tahun lalu sebagai negeri maritim, negeri bahari,” katanya.

Di tempat yang sama, Wakil Gubernur Kepri, Nurdin Basirun yang hadir dan didaulat membuka Rakorwil Hipmi se-Sumatera itu mengatakan peluang ekonomi kemaritiman terbuka cukup lebar. Baik itu untuk sektor industri maupun pariwisata yang bisa dioptimalkan jadi nilai tambah di masa mendatang.

“Kita adalah masyarakat maritim, sudah sepatutnya kalangan pengusaha muda ini juga mengoptimalkan sektor tersebut,” kata Nurdin.

Hanya saja, Wakil Gubernur mengingatkan pentingnya kalangan pengusaha muda agar memiliki prinsip dan landasan yang jadi modal dasar dalam menggarap sektor kemaritiman itu. Yakni, budaya disiplin, berani dan mau bekerja keras.

“Terapkan itu, dan yakinlah ke depan kita bakal jadi bangsa maritim yang besar di dunia,” katanya.

Sementara itu, Ketua Badan Pengurus Pusat (BPP) Hipmi, Bahlil Lahadalia di kesempatan yang sama mendorong para pengusaha muda di Sumatera menggarap sektor ekonomi kemaritiman yang juga tengah digaungkan oleh Presiden Joko Widodo.

“Lima tahun lalu orang bangga ketika menggeluti bisnis pertambangan, tapi setelah harga tambang jeblok, kini saatnya para pengusaha melirik potensi lain yang tak kalah menjanjikan, ekonomi maritim,” kata Bahlil.

Menurut dia, pelbagai hasil ekonomi dari sektor maritim seperti perikanan dinilai stabil dan tak anjlok harganya layaknya hasil pertambangan. Begitu juga dari sektor jasa, potensi ekonomi kemaritiman masih membuka peluang yang cukup besar, misalnya di bidang pariwisata.

“Kami mendorong kalangan pengusaha agar memanfaatkan peluang ini, jangan sampai tidak digarap maksimal,” pesan dia.

Dalam Rakorwil Hipmi se-Sumatera itu, selain digelar seminar juga dilakukan pelantikan HIPMI Peduli Kepri masa jabatan 2016-2018 dengan Ketua Umum, Yuli Fatimah dan HIPMI Perguruan Tinggi. Masing-masing akan melakukan tugasnya selama tiga tahun mendatang. Hipmi Peduli akan memberikan kontribusi bagi masyarakat. Selain bisa ikut meringankan beban sesama, program HIPMI Peduli juga akan lebih menegaskan bahwa para pengusaha muda selain sibuk dengan aktivitas bisnisnya, juga memiliki kepedulian sosial.

Sedangkan HIPMI Perguruan Tinggi akan menjadi satu laboratorium untuk menggiring mahasiswa menjadi pengusaha. Karena itu, Hipmi mendirikan Hipmi Perguruan Tinggi sebagai jawaban untuk tempat berkumpulnya mahasiswa. Sekarang sudah di 20 provinsi. Target tahun ini seluruh provinsi. (rna)

Respon Anda?

komentar