Setahun Ini, BI Kepri Tak Dapat Permohonan Bawa Rupiah ke Luar Negeri

1878
Pesona Indonesia
ilustrasi
ilustrasi

batampos.co.id – Kecurigaan Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai Kementerian Keuangan yang mengendus Batam sebagai salah satu jalur lalu lintas ilegal untuk pencucian uang antar negara boleh jadi ada benarnya. Selain dibuktikan dengan menangkap pembawa uang rupiah dalam jumlah besar ke luar negeri tanpa izin, ternyata Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Kepri juga menyatakan tak pernah menerima laporan dari warga yang akan bepergian ke luar negeri dengan membawa uang rupiah dalam jumlah besar.

Padahal, sesuai aturan yang berlaku, warga yang akan membawa uang dengan jumlah di atas Rp 100 juta ke luar negeri wajib melaporkan hal itu ke bank sentral.

“Yang jelas selama satu tahun terakhir, saya gak ada terima satu permohonan pun untuk bawa uang rupiah ke luar negeri,” kata Kepala BI Kepri, Gusti Raizal Eka Putra, Sabtu (26/3).

Jika Bea dan Cukai memang mendapati temuan kasus pembawa uang rupiah ke luar negeri dalam jumlah besar tanpa izin, Kepala BI katakan potensi kecurigaan bisa jadi meningkat.

“Kalau orang membawa uang cash banyak-banyak padahal transaksi bisa melalui perbankan, tentu kami harus curiga ada sesuatu yang mereka lakukan,” paparnya.

Lantaran tak pernah menerima laporan, Gusti katakan pihaknya tak mengetahui apakah Batam memang jadi lalu lintas transaksi pencucian uang ilegal atau tidak. Pasalnya, kata dia, pengawasan di jalur-jalur perbatasan baik pelabuhan maupun bandara berada bukan berada di tangan bank sentral.

“Itu di Bea dan Cukai yang mengawasi,” katanya.

Menurut Gusti, pengawasan oleh BI dilakukan dengan memantau transaksi keuangan melalui perbankan. Seperti, jika terjadi penarikan uang rupiah tunai dari bank dalam jumlah banyak.

“Nanti bank menanyai keperluannya apa, itu dilaporkan (oleh bank) ke kami (BI),” kata dia. (rna)

Respon Anda?

komentar