Terlibat Perampokan, Inspektur Polisi Malaysia Dihukum Gantung

1102
Pesona Indonesia
Mohd. Taufik Peter Abdullah dijatuhi hukuman gantung sampai mati oleh Mahkamah Tinggi Ipoh, Perak, Malaysia, Jumat (25/3/2016). Foto: zulkarnain mohd saidin/utusan.
Mohd. Taufik Peter Abdullah dijatuhi hukuman gantung sampai mati oleh Mahkamah Tinggi Ipoh, Perak, Malaysia, Jumat (25/3/2016). Foto: zulkarnain mohd saidin/utusan.

batampos.co.id – Mohd. Taufik Peter Abdullah, 49 tahun, anggota Polisi Diraja Malaysia berpangkat inspektur dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung oleh Mahkamah Tinggi Ipoh, Perak, Malaysia, Jumat (25/3/2016).

Bukti-bukti yang ditemukan menunjukkan Taufik bersalah karena bersekongkol dengan seorang pria dalam satu perampokan bersenjata yang menyebabkan kematian pemilik sebuah toko emas, tujuh tahun lalu.

Hukuman mati di tiang gantung itu diambil oleh Datuk Samsudin Hassan selaku hakim setelah menolak pembelaan yang dilakukan oleh pengacara Taufik.

Menurut dia, pengadilan menemukan ada perbedaan keterangan alibi (pembelaan, red) yang disampaikan dengan deskripsi tertuduh. Selain itu, katanya, semua saksi yang meringankan memiliki tali persaudaraan dengan terdakwa. Tidak ada saksi yang netral dalam kasus tersebut untuk mendukung pembelaan tersebut.

Hakim Samsudin juga mengatakan, ada tiga bukti kuat yang mengaitkan tersangka dengan tuduhan bersekongkol dalam perampokan tersebut.

“Hasil analisis salah seorang saksi penuntutan menemukan selongsong dan anak peluru yang ditemukan di tempat kejadian dalam tubuh korban, Chen Fun Kee, dilepaskan dari pistol milik terdakwa,” ujar Hakim Samsuddin.

Selain itu, juga ditemukan perhiasan dari toko korban dalam mobil jenis Honda Civic milik terdakwa di rumahnya di Halaman Meru Impian, Bandar Meru Raya. Tak hanya itu, percakapan saksi polisi yang diadopsi melalui Seksyen 32 (1) Akta Keterangan 1950 juga mengaitkan peran terdakwa seperti terkandung dalam esensi tuduhan.

“Setelah memperbaiki deskripsi keseluruhan, oleh sebab tidak ada bukti terdakwa mengambil langkah yang diperlukan untuk mencegah pelepasan tembakan, maka satu-satunya hukuman yang ditentukan di bawah undang-undang tersebut adalah hukuman mati,” kata Hakim Samsuddin.

Taufik didakwa melakukan perampokan tersebut di sebuah toko emas Max Goldsmith & Perhiasan, bersama seorang pelaku yang telah meninggal bernama S. Nagendran di Jalan Sultan Iskandar No. 105, antara pukul 3.30 petang dan 5.10 petang, pada 16 September 2009.

Taufik didakwa mengetahui Nagendran memiliki sepucuk senjata api dan telah melepaskan tembakan menggunakan senjata Taufik yang menyebabkan kematian terhadap pemilik toko emas tersebut.

Tuntutan tambahan itu diajukan berdasarkan Pasal 3A UU Senjata Api (Hukuman Lebih Berat) 1971 yang mengalokasikan hukuman mati wajib jika terbukti bersalah.

Dalam persidangan tersebut, bertindak sebagai jaksa penuntut adalah Wakil Jaksa Raya, Harris Ong Mohd.Jeffery Ong. Sementara tertuduh diwakili pengacara, Datuk Naran Singh.

Mohd. Taufik Peter awalnya didakwa mengikut Seksyen 302 Kanun Keseksaan yang juga tuntutannya hukuman mati. Namun pada akhir kasus penuntutan, pengadilan memerintahkan pria itu membela diri di bawah tuduhan amandemen tersebut.

Sebanyak 26 saksi penuntutan dan tiga saksi pembelaan diajukan selama persidangan selain terdakwa memilih untuk memberikan sumpah. Namun keputusan akhir tetap hukuman mati di tiang gangtungan. (utusan/singapuraterkini/nur)

Respon Anda?

komentar