Antara Ranjang, Panggung dan Kamu

Oleh : Husnizar Hood

1156
Pesona Indonesia

Tak ada yang bisa dipersalahkan kalau tiba-tiba kita harus lebih lama terbaring di ranjang itu, semua sudah kehendak Yang Maha Kuasa sementara yang terjadi itu hanya penyebabnya saja. Ranjang memang jadi impian semua orang, semua mengidamkan ranjang empuk dibanding tidur di atas papan beralas tikar. Banyak orang ingin menunjukkan kehebatannya di ranjang dan piawai berkomunikasi sekamar seranjang serta banyak lagi istilahnya atau yang harus di puahsisehkan adalah, terjadi pisah ranjang.

“Dulu zaman masih sekolah, ada sebuah film yang sangat terkenal mungkin menjadi box office Indonesia Tok, masih ingat? “Ranjang Pengantin” judulnya”, ucap Mahmud kepada saya wajahnya sumringah. Saya mencoba mengingatnya dan, hmmm… saya ingat akan hal itu. Huh…, dari judulnya saja kita sudah ingin langsung membeli tiketnya. Membayangkan ada sepasang pengantin di atas ranjang meskipun dalam cerita itu tak demikian, terkecoh dengan judulnya saja.

Tapi cerita soal Lawen si Batu Api atau nama aslinya Junewal Muchtar terbaring di ranjang Rumah Sakit sudah sepekan ini itu tak ada yang terkecoh, itu kenyataan dan sebuah berita kebenaran, cobalah membesuknya, melihat dengan mata kepala sendiri, itu bukan drama atau akting yang biasa ia mainkan di atas panggung, juga bukan ia ingin berlama-lama di ranjang itu karena ingin menunggu inspirasi datang untuk melahirkan puisi-puisi barunya tapi ia berada di ranjang itu karena sakit. Penyebabnya ditabrak mobil.

Dan tersebab ia sakit saya sempat teringat pernah membaca puisi lamanya,

Sebab kita orang kecil
kita rakyat kecil
tak boleh sakit
jadi,
yah…kita tak punya apa-apa …

MANA LAGI KITA PUNYA

Itu penggalan gaya Lawen menulis seadanya tapi tak mengada-ada dan keadaan itu benar-benar ada. Dia menyuarakan kalau hidup kita susah jangankan yang lain untuk sakit saja kita tak boleh, karena nanti siapa yang akan membayarnya, sewa ruang dan ranjang, jasa dokter, obat-obat mahal, jaminan kesehatan membingungkan harus bayar iuran, sementara iuran Baibul Khairat saja kita pontang-panting dibuatnya. Tapi kehidupan tak boleh menyerah begitu saja, puisi adalah pelawanan batin dan pelurunya adalah kata-kata, Lawen tak putus asa. Karena menurutnya penyair bukanlah orang-orang yang putus asa karena sebuah kata sesungguhnya lebih tajam dari sebilah pedang, bisa menikam siapa saja.

“Siapa yang akan kita tikam bang Lawen?”, tanya Mahmud dengan nada tinggi keluar dari mulut kawan saya itu. Dia berabang-abang karena usia Mahmud memang lebih muda dengan Junewal sang Penyair itu, kemudian panggilannya Newal dan dibalikkan ejaannya oleh si empunya nama menjadi Lawen, Untuk membalikkan nasib mungkin, pikir saya, untuk mengubah jalan hidup dari O derajat misalnya, kembali ke pangkal jalan, entahlah, hanya mungkin pada waktu itu agaknya menjadi trend untuk membalikkan namanya. Misalnya Ismai Kadir menjadi Rida K Liamsi. Nasibnya berubah, menjadi hebat dan luar biasa.

Lawen juga sudah menjadi hebat dalam kepenyairannya, hanya mungkin belum luar biasa, ia sama saja dengan kami berdua biasa-biasa saja, yang hanya mampu membayar  ruang kelas 2 rumah sakit dengan ranjang yang tak begitu empuk. Menebus obat generik dengan alasan cinta produk Indonesia. Meskipun nyawa taruhannya.

“Siapa yang nak kita tikam Bang?”, tanya Mahmud sekali lagi. Bang Lawen hanya tersenyum saja, senyum kemenangan, saya nampak dari sorot matanya. “Hang Tuah yang telah dianiaya tapi tetap setia atau Hang Jebat yang membela tapi dituduh pendurhaka?”, tanya Mahmud lagi. Mahmud tau Bang Lawen kalau cerita Tuah-Jebat itu ia selalu bersemangat, meskipun berulang-ulang, dia pernah bilang ada Jebat dalam darahnya. Dia ingin jadi Jebat menjadi pahlawan hati dari sebuah kebenaran. Kebenaran yang tak lagi mau diterima Tuah karena alasan kesetiaan.

Mungkin seperti kisah “Jebat Menggugat”, sebuah panggung pementasan yang telah digelar malam kemarin. Lawen sedih tak bisa menyaksikan karena ia harus berada di ranjang dan tak bisa ke panggung. Sayapun sama, karena di luar kota. “Apa yang hendak digugat Jebat Mud?”, tanya Lawen. Kawan saya Mahmud terdiam lama, setahu Mahmud Jebat itu sudah mengkihlaskan semuanya, termasuk pembelaan, amuk dan juga nyawanya, meskipun sebuah kematian pada akhirnya yang harus ia terima, karena ia sadar betul bahwa kematian itu suatu keniscayaan.

“Kalau sudah berbuat dan ikhlas menang atau kalah tak usah kita gugat mengugat”, ucap saya antara Bang Lawen dan Mahmud. Saya mecoba berfalsafah biar saya nampak cerdas dan berkualitas. Bukan setelah ada jabatan dan diberi tanggung jawab hanya bisa merengek di facebook saja, si anu tak betul, si itu bahlul, yang kalah masih jadi batu api alias provokator yang menangpun bagai lupa diri membersihkan yang kotor. Apa harus kita lawan? Siapa yang hendak dilawan? Sebuah pertanyaan.

“Diri kita sendiri”, jawab Mahmud tegas dan pasti. Dalam keadaan seperti ini saya selalu memberikan apresiasi kepada kawan saya yang satu itu. Meletakkan dua jari di kening dan kemudian menunjuk ke arahnya. Salut. Kita gagal melawan diri kita sendiri, kita gagal menikam rasa dendam itu, kita belum juga memperbaiki diri kita. Hanya dengan terus memperbaiki dirilah yang membuat orang lain akan kalah. Bukan dengan melawan dengan berhadapan dengan mereka. Bersemuka kemudian bertelagah, saling pelasah dan akhirnya berdarah-darah.

Sudahlah, ini tanah air kita semua, yang harus kita jaga bersama, jangan kita biarkan Natuna bersendirian, seorang senyawa dengan kedaulatan yang diterabas oleh Cina dan Amerika. Itu yang harus kita gugat, kenapa pipa gas yang dikirim dari Natuna tak mengalir di kampung kita, itu yang kita gugat, kenapa Batam jadi Negara dalam Negara lagi anak dari Belakang Padang suatu waktu dulu bergelar Pulau Penawar Rindu itu kini bagai menjadi Penawar Racun Berbisa. Kita diracuni dengan alasan ekonomi nasional tapi kita tetap hidup tertinggal. Itu yang harus kita gugat.

Dan kamu, maukah kamu membantu kami menggugat semua itu, di ranjang yang sepi dan menyakitkan ini, di panggung yang sepi dan melelahkan itu, di sepanjang jalan setiap orang bertanya dengan sebuah pertanyaan yang sulit kita jawab, “Sudah berakhirkan pertikaian kita?”.

Saya, Mahmud dan Bang Lawen mengggap pertikaian itu belum berakhir meskipun tak sanggup kami katakan, biarlah kami akan mengurainya dalam baris sajak dan puisi-puisi yang akan kami lontarkan dari ranjang-ranjang sepi ini, Bang Lawen di ranjang yang dengan terpaksa harus ia nikmati beberapa hari lagi, Mahmud juga diranjang sendiri karena sedang ditinggal isteri, konon isterinya sedang menyelami lebih dalam untuk menunjukkan ia sesugguhnya bisa menjadi pemimpin sejati dan sulit saya mengerti lalu saya di ranjang juga tanpa orang lain, menulis catatan-catatan ini. Catatan yang akan kita baca suatu waktu nanti dan kita akan sama-sama mengatakannya. “Betul kata Mahmud!” dan saya tak tau pada waktu itu kami bertiga masih ada atau telah tiada. Dimana Kamu? (Tetap semangat bang Lawen).

Respon Anda?

komentar