Bupati Lingga Sebut IPAL 2012 Panggak Laut Proyek Gagal

623
Pesona Indonesia
Awe kunjungi IPAL 2012 di Desa Panggak Laut beberapa waktu lalu. foto hasbi.
Awe kunjungi IPAL 2012 di Desa Panggak Laut beberapa waktu lalu. foto hasbi.

batampos.co.id – Proyek pembangunan Industri Pengolahan Akhir Limbah (IPAL) oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Lingga tahun 2012, disebut Bupati Lingga Alias Wello sebagai proyek gagal. Hal tersebut diungkapkannya saat turun langsung meninjau proyek yang tidak bisa digunakan masyarakat Desa Panggak Laut tersebut beberapa waktu lalu.

Bupati melihat langsung kondisi IPAL yang rusak dan berkarat. Sejak dibangun 2012 lalu, pengolahan limbah sagu untuk menciptakan biogas bagi kebutuhan 250 KK desa tersebut tidak berfungsi. Pipa-pipa dari bak limbah tidak terpasang ke rumah warga. Sementara kondisi IPAL yang berada di tengah-tengah pemukiman dekat aliran sungai desa kian memperihatinkan.

Bangunan panggung berukuran kurang lebih 5×10 meter dengan atap daun mulai rapuh dan bocor. Satu unit mesin pengolah rusak. Mesin parutan dan tempat limbah sagu tidak bisa berfungsi lagi. Beberapapa waktu lalu, secara tegas kades Panggak Laut juga telah menolak serah terima karena proyek yang terkesan asal jadi.

“Ini proyek gagal,” timpal Awe singkat.

Untuk itu, pihaknya akan berupaya bagaimana kedepan pengolahan ini dapat dibenahi. Perlu dilakukan kajian ulang, sebab limbah sagu yang terbuang ke sungai cukup mengkhawatirkan. Jika dapat dimanfaatkan, limbah akan terurai dan bermanfaat bagi masyarakat. “Kita akan benahi lagi nanti. Perlu ditata ulang,” katanya.

Sementara itu, Ahmad, Kades Panggak Laut menyarakan agar pabrik pengolahan sagu yang dibangun BLH tersebut, yang tidak dapat digunakan tetap menggunakan cara tradisioanl masyarakat. Hanya saja perlu saluran agar limbah yang terbuang dapat dialirkan ke dalam tabung untuk diendapkan menjadikan biogas. Selain itu, desanya juga telah melakukan inovasi, limbah yang tidak bisa dimanfaatkan untuk dibuat menjadi pupuk.

“Menurut kita, pabrik milik masyarakat jauh lebih efisien. Hanya perlu saluran menuju bak agar limbahnya bisa ditampung. Kalau pengolahan yang dibangun BLH ini, malah menyulitkan. Pola baru yang sulit. Sehari paling mampu mengolah 1 sampai 3 tual. Pekerjaannya semakin berat karena harus mengangkat tual ratusan kilo setinggi 5 meter. Sedangkan pabrik punya masyarakat, sehari bisa belasan tual. Jauh lebih efisien,” tutupnya. (mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar