Penjarah BMKT dan Barang Antik Marak di Lingga

896
Pesona Indonesia
foto: wijaya satria / batampos
foto: wijaya satria / batampos

batampos.co.id – Penjarahan Barang Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) dan barang antik di perairan dan darat Lingga kian marak. Minimnya pengawasan menjadi celah bagi para penjarah menjalankan aktifitas ilegal tersebut. Selain itu, kurangnya perhatian pemerintah terhadap kekayaan alam yang terkubur lama di dalam laut Lingga berabad-abad lamanya membuat penjarah semakin menjadi-jadi.

Sebagai sebuah pusat kesultanan dan memiliki wilayah maritim yang luas, Kabupaten Lingga memang banyak menyimpan barang antik. Informasi yang dihimpun Batam Pos dari masyarakat Senayang, Wangkang atau kapal dagang China, banyak yang tenggelam di perairan Lingga. Usianya telah ratusan tahun. Jumlahnyapun puluhan. Mulai dari wilayah Pulau Mensemut, Pulau Pompong Selat Pintu, Tajur Biru, Temiang, Pulau Belading Batu Belubang, Alang Tiga dan Selat Berhala menjadi wilayah yang perlu mendapat pengawasan khusus.

Belum lagi kapal-kapal dan pesawat sisa perang duni II yang menggunakan bandara di Dabo Singkep juga telah ditemukan warga di Pulau Tokoli, Desa Pulau Batang, Senayang. Pesawat jatuh ke dasar laut. Beberapa waktu lalu telah diangkat ke pesisir pantai. Karena tidak mendapat perhatian, barang bersejarah itupun lenyap. Besi-besinya dibongkar dan dijual keluar.

Lazuardi, salah seorang pemerhati sejarah Lingga mengatakan, wajar saja hal ini terus terjadi. Namun penjarahan barang antik, kata Lazuardi agak sulit di bendung. Sementara, tidak ada tindakan serius sehingga penjarahan begitu marak. Padahal, kekayaan tersebut adalah salah satu aset terbesar daerah.

Lingga dikatakannya sudah lama terkenal, bahkan telah disebut-sebut sejak abad ke 7. Keberadaanya begitu penting dalam jalur perdagangan internasional dan Nusantara. Menjadi pintu selatan menuju Melaka. Penghubung kerajaan besar Sriwijaya, Jawa, Kalimantan dan Australia serta wilayah sebelah utara seperti Singapura, Malaysia, Siam, India, Cina dan Timur Tengah.

“Banyak sekali barang antik di Lingga. Jadi perlu ada perhatian. Perlulah juga digali sejarahnya, jadi tidak hanya lepas dan hilang. Jika perlu dimanfaatkan, daerah juga harus mendapat hasil dari itu,” timpal Lazuardi.

Selaku warga Pulau Lingga, Lazuardi mengaku prihatin. Lingga seakan diabaikan. Aset sejarah yang menjadi aset negara dipandang sebelah mata. Sementara, pencurian terus berlangsung dan semakin meresahkan.

Soal BMKT, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Lingga, Abang Muzni mengatakan kewenangan telah diambil Provinsi Kepri sehingga pihaknya tidak bisa berbuat banyak. Meski masuk dalam wilayahnya, ia mengatakan ada baiknya mendapat tanggapan langsung dari DKP provinsi. “Kewenangan sudah di provinsi semua,” katanya lagi. (mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar