Pertamina Tambah 2 Kapal Tanker

1222
Pesona Indonesia
Salah satu armada Pertamina. Foto: istimewa
Salah satu armada Pertamina. Foto: istimewa

batampos.co.id – Armada kapal tanker milik PT Pertamina kembali bertambah. Paling anyar, dua kapal berkonsep Eco-Ship, yakni MT Sanana  dan MT Serui yang masing-masing berbobot mati 40 ribu long ton dead weight (LTDW) dengan nilai investasi sekitar USD 62 juta diserahkan, Minggu (27/3/2016).

Serah terima dilakukan oleh New Times Shipbuilding kepada Pertamina yang diterima secara simbolik oleh Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto dan disaksikan Menteri BUMN Rini Soemarno.

Dwi menerangkan, kedua kapal yang merupakan sister ship dari MT Sanggau yang telah diserahterimakan pada Januari lalu tersebut juga akan digunakan untuk mengangkut minyak mentah ke kilang-kilang perseroan.

“Dengan konsep Eco-Ship, dari sisi daya angkut sangat terlihat jauh berbeda dan jelas akan sangat menguntungkan bagi Pertamina dalam konteks mencapai efisiensi. Penambahan kapal milik merupakan langkah terobosan meningkatkan efisiensi biaya transportasi minyak mentah sehingga produk akhir Pertamina dapat memiliki daya saing yang tinggi, di mana total cost biaya transportasi menjadi pertaruhan Pertamina dalam persaingan bisnis hilir migas,” katanya di Jakarta.

MT Sanana, MT Serui, dan MT Sanggau yang diambil dari nama-nama Terminal BBM Pertamina di Maluku, Papua, dan Kalimantan Barat tersebut dibangun oleh Newtimes Shipbuilding Co Ltd, yang berlokasi di Jingjiang, Provinsi Jiangsu, China. Kehadiran MT Sanana dan MT Serui menjadikan jumlah armada milik Pertamina kini sebanyak 68 dari total 273 kapal pengangkut energi yang dioperasikan untuk menjamin ketahanan energi nasional.

MT Sanana dan MT Serui akan berlayar menuju pelabuhan di Indonesia akhir Maret dan diperkirakan akan mulai beroperasi pada akhir April 2016, atau lebih cepat lima pekan dari target semula. Kapal dengan investasi masing-masing USD 31 juta ini mampu mengangkut minyak mentah maksimal 315 ribu barel atau jauh lebih besar dibandingkan dengan kapal regular dengan bobot sama yang hanya sanggup mengangkut sekitar 200 ribu  barel.

Dwi menambahkan, dengan konsep Eco-Ship berarti kapal dapat beroperasi secara efektif dan efisien dan environmental friendly. Kapal berkonsep Eco-Ship dilengkapi dengan peralatan-peralatan yang ramah lingkungan seperti ballast water treatment, oil discharge monitoring, serta emisi gas buang mesin penggerak kapal yang sudah mengikuti persyaratan International Maritime Organization (IMO) Tier II.

Pada sistem propulsi, mesin penggerak kapal ini menggunakan teknologi electronic fuel injection dan dilengkapi variable waktu pada sistem gas buang mesin. Penerapan teknologi ini termasuk baru untuk penggunaan di mesin kapal, selain juga penggunaan pre-shrouded vane (PSV) dan rudder bulb pada bagian baling-baling kapal yang memungkinkan konsumsi bahan bakar kapal lebih efisien sekitar 5-7 persen.

“Selain ramah lingkungan, kapal-kapal Eco-Ship ini juga mengutamakan faktor safety dan diharapkan menjadi role model bagi perusahaan pelayaran khususnya yang beroperasi di Indonesia untuk selalu bisa memberikan kontribusi positif kepada negara tidak hanya pada faktor ekonomi namun juga dari sisi operasional dan lingkungan hidup,” tuturnya.

Sementara itu, sebagai bentuk kepatuhan terhadap azas cabotage dalam memberdayakan bisnis maritim dalam negeri, seluruh awak Kapal yang mengoperasikan armada kapal milik Pertamina adalah para pelaut terbaik Indonesia.

Hingga akhir 2016, Pertamina direncanakan akan memiliki 72 unit kapal yang berstatus milik. Sebanyak 34 unit kapal atau 47 persen merupakan kapal yang diproduksi oleh galangan kapal nasional, di mana 30 unit di antaranya telah beroperasi dan 4 unit masih dalam tahap konstruksi.

“Pertamina melalui rencana jangka panjang Penguatan Armada Milik berkomitmen mengedepankan kerjasama dengan mitra nasional sebagai pembangun kapal yang dibutuhkan perusahaan. Pertamina bertekad  maju bersama industri nasional lain di Indonesia. Pertamina selalu menjadi pemesan kapal terbesar pertama di setiap galangan nasional. Bahkan pemesanan oleh Pertamina tersebut menjadi portfolio yang terpercaya bagi galangan kapal untuk bisa meraih pesanan dari perusahaan lain,” katanya.

Rini mengapresiasi langkah Pertamina mengoptimalkan pemanfaatan kapal-kapal milik yang dipercaya dapat meningkatkan efisiensi pendistribusian minyak dan produk minyak Pertamina. Menurut dia, langkah tersebut sangat relevan dengan semakin terbukanya kompetisi yang menuntut Pertamina harus lebih efisien dan kompetitif.

Dengan pengalaman luasnya, Pertamina juga dapat menjadi role model bagi industri perkapalan di Tanah Air. Pertamina dapat melakukan transfer knowledge dari pengalamannya bermitra dengan perusahaan-perusahaan global di sektor perkapalan kepada perusahaan galangan kapal dalam negeri.

“Seperti kita tahu, baru PT PAL yang memiliki kemampuan membuat kapal dengan ukuran 30 ribu LTDW. Di sisi lain, untuk keperluan efisiensi distribusi minyak dan produk di dalam negeri serta ekspansi internasional, Pertamina memerlukan kapal-kapal berukuran besar yang belum dapat dibangun di galangan kapal nasional sehingga untuk saat ini Pertamina harus bermitra dengan perusahaan global untuk memenuhi kebutuhan kapal dengan spesifikasi tersebut. Secara bertahap nanti, galangan kapal harus dapat meningkatkan kemampuannya sehingga benar-benar memenuhi seluruh kebutuhan Pertamina,” ucapnya. (lum/jpgrup)

Respon Anda?

komentar