Pulau Cantik dan Masih Perawan Ini jadi Tempat Istirahat Para…

602
Pesona Indonesia
Pulau SInyaunyau. Foto: Jawa Pos
Pulau SInyaunyau. Foto: Jawa Pos

batampos.co.id – Pulau Sinyaunyau yang berada di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat menjadi salah satu wilayah penanda terakhir Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pulau cantik dan masih perawan ini berbatasan langsung dengan India. Pulau Sinyaunyau tidak berpenduduk. Daerah yang secara administratif masuk Kecamatan Siberut Selatan itu hanya menjadi tempat istirahat bagi para nelayan yang melaut.

Mata pencaharian masyarakatnya adalah pengumpul kopra dan nelayan. Kondisi tersebut membuat Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sumatera Barat Brigjen Basarudin bersama Kajati Sumatera Barat Widodo Supriadi yang didampingi Kapolres Mentawai AKBP Reko Indro Sasongko melihat langsung dari dekat Pulau Sinyaunyau dan sekaligus menaikkan bendera Merah Putih.

Basarudin menjelaskan, pihaknya datang untuk berinteraksi dengan masyarakat agar penghuni pulau terluar itu lebih waspada. Khususnya, terhadap masuknya penyelundupan narkoba.

”Kami datang ke Kabupaten Kepulauan Mentawai dengan Kajati untuk mengetahui daerah yang rawan dengan kriminalitas dan tindak pidana. Kami sangat tertarik untuk melihat ke pulau terdepan di Indonesia ini karena pulau ini adalah sarana untuk transit bagi mereka yang melakukan kriminalitas,” ucap Basarudin.

Dia menambahkan, pihaknya juga memberikan pemahaman kepada penduduk setempat bahwa mereka masih menjadi bagian dari NKRI.

Widodo mengungkapkan, Pulau Sinyaunyau tetap menggunakan hukum yang sama dengan wilayah lain di Indonesia. Pihaknya mengharapkan masyarakat bisa bekerja sama dalam memerangi kejahatan.

Sementara itu, Kapolres Kepulauan Mentawai AKBP Reko Indro Sasongko menjelaskan, pihaknya akan menjaga dan mengawasi laut Pulau Sinyaunyau dari kapal-kapal yang datang dari luar.

”Apalagi, wilayah Kepulauan Mentawai langsung berbatasan dengan Pulau Nias, termasuk Sumatera Utara yang sangat rawan terjadi illegal fishing,” ujarnya.

Hanya, dengan hanya satu kapal patroli, wilayah perairan yang cukup luas itu sangat sulit diawasi. Menurut dia, hal tersebut tidak sebanding dengan luas wilayah laut dan ancaman kejahatan yang mungkin muncul.

”Untuk menyiasatinya, kami mencoba dengan mengefektifkan unsur stakeholder yang lain,” jelas Reko.

Saat ini Kepulauan Mentawai memiliki satu kapal ukuran kecil. Namun, koordinasi dengan pihak-pihak lain yang terkait tetap dilakukan.(JPG)

Respon Anda?

komentar