Dibantu Rusia, Assad Kembali Kuasai Kota Bersejarah Palmyra

1031
Pesona Indonesia
Palmyra, kota bersejarah warisan dunia di Syiria atau Suriah yang semakin rusak parah akibat perang ISIS dengan pasukan Assad dibantu Rusia. Foto: istimewa
Palmyra, kota bersejarah warisan dunia di Syiria atau Suriah yang semakin rusak parah akibat perang ISIS dengan pasukan Assad dibantu Rusia. Foto: istimewa

batampos.co.id – Setelah berhasil merebut Palmyra, Presiden Syria Bashar Al Assad berada di atas angin. Banyak pihak yang memuji dia. Terutama sekutunya, Vladimir Putin. Presiden Rusia itu mengucapkan selamat kepada Assad karena berhasil mendepak kelompok yang mengatasnamakan diri Islamic State (IS) alias ISIS dari kota tua Palmyra.

’’Dalam pembicaraan lewat sambungan telepon dengan presiden Syria, Vladimir Putin mengucapkan selamat terhadap rekannya karena mengambil alih Palmyra,’’ ujar Dmitry Peskov, juru bicara Putin, sebagaimana dilansir kantor berita TASS kemarin (28/3).

Dia menyatakan, Moskow akan terus memberikan dukungan pada Damaskus dalam memerangi ISIS. Putin juga menekankan pentingnya menjaga situs warisan budaya dunia UNESCO tersebut.

Selain dengan Assad, Putin berbicara dengan Kepala UNESCO Irina Bokova untuk menyampaikan bahwa Rusia siap membantu pasukan Syria melacak dan mengambil bahan peledak yang telah ditanam ISIS di berbagai titik. Terutama di situs-situs kuno di Palmyra.

’’Assad sangat menghargai bantuan pasukan udara dari Rusia dan menggarisbawahi bahwa kesuksesan mengambil alih Palmyra tidaklah mungkin terjadi tanpa bantuan Rusia,’’ tegas Peskov. Dalam serangan ke Palmyra tersebut, pasukan Syria memang dibantu penuh oleh pasukan udara di Rusia.

Sang presiden Syria mengamini kata-kata Peskov. Dia mengakui bahwa dukungan serangan udara dari Rusia merupakan kunci kesuksesan merebut Palmyra. Kesuksesan itu juga membuat kedudukan kubu Assad kian kuat dalam pembicaraan damai dengan oposisi yang diprakarsai PBB.

Menurut Assad, kemenangan atas Palmyra adalah bukti baru bahwa strategi yang mereka terapkan dan sekutu-sekutunya efektif untuk menghancurkan ISIS. Bahkan, menurut Assad, pihaknya lebih baik bila dibandingkan dengan pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat (AS).

Ada 60 negara yang terlibat dalam koalisi AS. Tetapi, kemajuan yang dicapai masih sangat sedikit. Mereka ikut melakukan serangan di Syria pada September 2014 tanpa seizin Assad. Assad menuding AS dan sekutunya tidak benar-benar serius memerangi ISIS.

Rusia, Syria, maupun UNESCO sepakat segera mengambil langkah-langkah yang dibutuhkan untuk mengevaluasi kerusakan di situs-situs bersejarah Palmyra. Ketiganya juga akan memetakan rencana restorasi di situs-situs yang telah dihancurkan ISIS.

’’Selama berabad-abad, Palmyra dihancurkan lebih dari sekali. Kami akan memperbaiki dan memperbaruinya sehingga ini akan menjadi khazanah kekayaan budaya bagi dunia,’’ ujar Assad.

Foto-foto kondisi terbaru Palmyra diunggah beberapa jam setelah kota tersebut dikuasai pasukan Syria. Dalam foto itu, terlihat jelas kerusakan parah setelah ISIS 10 bulan bercokol di Palmyra. Beberapa situs hanya bersisa puing-puing.

Di sisi lain, tiga helikopter serbu milik Rusia kemarin kembali ditarik pulang. Sejak Maret lalu, Putin memerintahkan kontingen militer Rusia untuk kembali ke markas setelah lima bulan melakukan serangan udara di Syria.

Kremlin menuturkan bahwa tujuan mereka mengirimkan pasukan itu hampir seluruhnya telah tercapai. Meski begitu, Putin menegaskan bahwa Rusia bisa mengerahkan pasukan lagi ke Syria dalam jumlah besar dan dalam hitungan jam jika memang dibutuhkan. (Reuters/AFP/RT News/BBC/jpgrup)

Respon Anda?

komentar