Dokter tanpa Kaki Berkeliling Melayani Pasien

1005
Pesona Indonesia
Dokter Li Juhong saat berjalan menggunakan kursi kayu menuju rumah pasiennya. Foto: istimewa
Dokter Li Juhong saat berjalan menggunakan kursi kayu menuju rumah pasiennya. Foto: chinanews.com

batampos.co.id – Di Indonesia, untuk masuk Fakultas Kedokteran di Universitas Negeri, tak cukup hanya berkantong tebal, tapi fisik juga harus sehat dan anggota tubuh harus lengkap. Gigi berlubang satu saja sulit untuk diterima.

Tapi di beberapa negara, fisik sempurna bukan ukuran. Bahkan, kadang-kadang ketidaksempurnaan fisik seseorang namun memiliki potensi, justeru faktor itu yang mendorong seseorang diberi kesempatan untuk menjadi seorang dokter.

Ya, itulah yang dialami oleh Li Juhong, 37, seorang dokter tanpa kaki.  Hampir setiap hari dia melayani pasien di rumah-rumah mereka. Selama 15 tahun bekerja, Li telah menghabiskan 30 bangku kayu yang digunakan untuk menyangga kakinya.

Kisah Li bermula saat dia mengalami kecelakaan mobil pada Maret 1983 silam. Saat itu, Li yang masih berusia 4 tahun berangkat sekolah. Namun, dalam perjalanan, dia ditabrak truk. Li terlindas dan kedua kakinya harus diamputasi.

Dokter Li Juhong memeriksa pasiennya. Sumber foto: Daily Mail
Dokter Li Juhong memeriksa pasiennya. Sumber foto: Daily Mail

Kakinya hanya bersisa sekitar 3 sentimeter. Dokter-dokter yang menyelamatkan nyawanya kala itu memberikan Li semangat tersendiri. Mereka menginspirasinya untuk bisa menjadi seorang dokter saat dewasa, dan impian itu pun terwujud. Li ingin bisa membantu orang-orang yang sakit dan menyelamatkan nyawa mereka.

Setelah menyelesaikan sekolah sekitar 15 tahun lalu, Li mulai bekerja sebagai dokter desa di Wadian. Karena tak memiliki kaki, setiap hari Li berjalan dengan menggunakan bangku kayu pendek untuk menopang kakinya. Li belajar menggunakan bangku kayu sebagai pengganti kaki itu selama bertahun-tahun. Dia mulai menguasainya saat berusia 8 tahun. Dengan bangku kayu itulah Li dengan sabar dan telaten datang ke rumah pasien satu per satu.

Kadang kala, sang suami, Liu Xingyan, menggendong Li di punggung dan mengantarkannya ke rumah pasien. Li bertemu Liu dua tahun setelah menjadi dokter desa.

Dokter Li Juhong dibantu suaminya  Liu Xingyan saat menemui pasiennya. Foto: chinacqsb.com
Dokter Li Juhong dibantu suaminya Liu Xingyan saat menemui pasiennya. Foto: chinacqsb.com

Liu dua tahun lebih tua darinya. Setelah menikah, Liu berhenti bekerja dan mengurus semua pekerjaan rumah. Kerap kali dia mengantarkan Li ke klinik yang berjarak 500 meter dari rumah mereka. Meski jaraknya dekat, jika Li berjalan sendiri menggunakan kursi kayunya, butuh waktu 1,5 jam.

’’Jika dibandingkan dokter lainnya, kesulitan saya lebih banyak. Tapi, saya selalu berbisik pada diri saya sendiri bahwa Tuhan membantu orang yang menolong dirinya sendiri. Itulah yang membuat saya terus maju,’’ ujar Li.

Dokter Li Juhong digendong suami tercintanya  Liu Xingyan saat menemui pasiennya di daerah yang tinggi. Foto: chinacqsb.com
Dokter Li Juhong digendong suami tercintanya Liu Xingyan saat menemui pasiennya di daerah yang tinggi. Foto: chinacqsb.com

Selama bekerja, Li terhitung sudah memberikan pelayanan sekitar 6 ribu kali. Kebaikan hati serta keteguhan Li juga menginspirasi anaknya yang masih berusia 12 tahun. Putranya tersebut kelak juga ingin menjadi dokter seperti Li. (Shanghaiist/People’s Daily/jpgrup)

Respon Anda?

komentar