Dua Investor Lirik Potensi Sagu Lingga

1053
Pesona Indonesia
Seorang pekerja mengupas tual sagu di salah satu usaha sagu di Desa Panggak Laut, Lingga. foto:hasbi/batampos
Seorang pekerja mengupas tual sagu di salah satu usaha sagu di Desa Panggak Laut, Lingga. foto:hasbi/batampos

batampos.co.id – Staf khusus bidang investasi dan promosi Kabupaten Lingga, Saptono Mustakim, mengatakan, dalam waktu dekat dua investor akan datang melakukan survei dan mengkaji aset lahan perkebunan dan sawah di Kabupaten Lingga. Potensi besar perkebunan sagu Lingga yang kini menjadi rimba sagu di sepanjang pesisir selatan Pulau Lingga ini perlu investasi dari luar untuk bisa tergarap maksimal.

Dikatakan Saptono, sagu menjadi komoditas unggulan Lingga. Keberadannya sejak ratusan tahun menjadi pekerjaan dan penopang ekonomi sebagian besar warga Pulau Lingga. Sedikitnya 2.500 warga hidup dari hasil perkebunan dan pengolahan sagu yang bergerak secara kecil-kecilan.

“Dalam waktu dekat ini, dua investor akan mengkaji lahan sagu Lingga. Kita akan siapkan data yang mereka butuhkan,” ungkap Sapono yang juga mantan Wakil Bupati Lingga itu, Minggu (27/3).

Dikatakannya, persoalan sagu di Lingga yang sampai saat ini belum tergarap maksimal karena belum ada investasi yang berlangsung. Sebagai staf khusus bidang promosi dan investasi pihaknya berupaya mencarikan solusi mengembangkan perkebunan sagu dan mensejahterakan warga Kabupaten Lingga dari salah satu aset daerah. Adanya dua investor yang melirik hal ini, dikatakan Saptono menjadi pertanda baik untuk meningkatkan nilai dan harga sagu yang ada di Kabupaten Lingga.

“Sejauh ini sudah ada dua calon investor yang melirik. Satu diantaranya merupakan perusahaan yang saat ini sudah berhasil mengangkat nilai komoditas sagu di Selat Panjang, Meranti,” ungkap Saptono.

Saptono meyakini, sagu Lingga akan menjadi produk handal kedepannya nanti. Terlebih kualitas sagu di Lingga memang telah dikenal secara luas. Kualitasnya sangat baik dengan sagu putih yang bersih.

“Kita hanya kalah dari sisi promosi dan pemasaran saja,” sambungnya.

Selama ini, boleh dikatakan harga sagu di Lingga cukup rendah. Sagu putih yang telah bersih hanya dipatok Rp 2500 per kilogramnya. Hal inipun membuat warga pekerja sagu semakin terpuruk. Meski begitu, sagu Lingga tetap menjadi idaman para penampung untuk dibawa keluar daerah.
“Saat ini kita priharin, sagu tidak memiliki nilai tambah yang signifikan. Tapi, ini akan kita perbaiki, nantinya petani akan mendapat nilai tambah yang lebih baik, dan daerah juga menerima hasil,” ujarnya.

Kedepan, kata Saptono, sagu Lingga tidak lagi di jual dalam bentuk tepung basah. Namun dalam bentuk produk, seperti tepung kanji atau soun. Begitu juga pengembagangan olahan sagu kelompok-kelompok usaha mandiri di desa-desa.

Sementara itu, untuk menata sistem investasi pada lahan sagu yang sebagian besar merupakan peninggalan sultan, dan saat ini di kelola masyarakat setempat, pemerintah akan mengeluarkan kebijakannya, agar hak masyarakat tetap ada.

“Kebijakan Bupati nantinya, tetap akan berpihak kepada masyarakat. Karena tujuan awal investasi ini untuk masyarakat, dan daerah,” tuturnya lagi.

Selain sagu, tambah Saptono, salah satu investor asal Cina juga ingin mengembangkan investasi perkebunan ubi, untuk produk tepung tapioka. (mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar