Menanti Pasukan Khusus TNI Selamatkan 10 WNI yang Disandera di Filipina

2990
Pesona Indonesia
Pasukan elite TNI saat latihan. Foto: istimewa/jpnn.com
Pasukan elite TNI saat latihan. Foto: istimewa/jpnn.com

batampos.co.id -Pemerintah Indonesia masih mencari jalan keluar untuk menyelamatkan 10 WNI yang disandera kelompok militan Abu Sayyaf di Filipina sejak 26 Maret 2016 lalu.

Ada beberapa opsi yang bisa dilakukan pemerintah RI. Pertama, memenuhi permintaan kelompok militan Abu Sayyaf yang meminta tebusan 50 juta peso atau setara 15 miliar rupiah.

Opsi kedua, melakukan negosiasi dengan pimpinan Abu Sayyaf agar 10 WNI itu dibebaskan tanpa syarat. Namun opsi ini sulit karena kelompok militan ini ngotot meminta tebusan.

Opsi ketiga, mengirim pasukan elite TNI untuk membebaskan sandera tersebut. Opsi ini memang berisiko, namun berpotensi berhasil.

Ketua DPR Ade Komarudin menegaskan pemerintah jangan pernah mau berkompromi. Pria yang akrab disapa Akom ini yakin pemerintah mampu melakukan pembebasan karena sudah punya pengalaman dengan mengerahkan pasukan elite TNI. Politikus Golkar itu teringat pada Operasi Woyla (1982 di Thailand).

“Lakukan operasi secara tepat. Jangan khawatir, kita sudah pernah berhasil melakukan Operasi Woyla, itu berhasil,” kata Akom di gedung DPR Jakarta, Selasa (29/3/2016).

Ya, dalam operasi Woyla tahun 1981 itu, pasukan elit TNI AD Kopasshanda (sekarang Kopassus) berhasil membebaskan ratusan WNI yang disandera kelompok teroris di pesawat Garuda Indonesia yang terparkir di Bandara Don Muang, Bangkok, Thailand.

Apalagi, lanjut Akom, dalam kasus ini ada unsur pemerasan agar 10 WNI tersebut dibebaskan. Negara, tegasnya, tidak boleh menyerahkan harga diri pada sekelompok orang yang ingin memeras.

“Masa negara ini harus takut kepada premanisme, kepada terorisme, tidak boleh,” tegasnya. (nur/jpnn)

Baca Juga:
> Ini Foto-Foto Kapten Kapal TB Brahma 12 yang Disandera Militan Abu Sayyaf
> Kapal WNI yang Disandera Bawa 7.000 Ton Batu Bara
> 10 WNI Disandera, Militan Abu Sayyaf Minta Rp 15 Miliar

Respon Anda?

komentar