Inilah Kekuatan Operasi Pembebasan 10 WNI yang Disandera Militan Abu Sayyaf

8582
Pesona Indonesia
Anggota Kopassus. Foto: istimewa
Anggota Kopassus. Foto: istimewa

batampos.co.id – Pemerintah sudah mengambil keputusan untuk melakukan operasi pembebasan 10 WNI yang merupakan anak buah kapal (ABK) TB Brahma 12 dan Tongkang Ananda 12 yang disandera kelompok militan Abu Sayyaf di perairan Filipina 26 Maret 2016.

“Pembebasan 10 WNI yang disandera akan dilakukan sesegera mungkin, termasuk menangkap para penyanderanya,” ujar Sekretaris Kabinet Pramono Anung di Jakarta, Selasa (29/3/2016).

Pramono menegaskan, saat ini tim gabungan TNI-Polri-Kemenlu sudah mengumpulkan data-data penyanderaan tersebut sedetail mungkin.

Soal kekuatan tim operasi pembebasan sandera, data yang diperoleh jpnn (grup batampos.co.id) terdiri dari 20 anggota kopassus yang dipimpin Dansatgultor Kolonel Inf Thefi Serbua, 8 personel pasukan khusus TNI, 2 tim pasukan katak, 1 helikopter Super Puma milik Kodam V, pesawat Boing Sq 17 A 7302, pesawat CN-295 Sq-2, pesawat Herky C130 Sq-32, helikopter Bell 412 HA 5172, pesawat Cassa AL Patroli Maritim, helikopter yang bisa mendarat di KRI, serta pesawat Herky-32.

Tak hanya itu, lima kapal perang Indonesia (KRI) yang siaga di pangkalan TNI AL di Surabaya telah bergerak ke perbatasan Tarakan-Filipina.

Lima KRI ini adalah KRI Ahmad Yani, KRI Ajak, KRI Badau, KRI Mandau, dan KRI Surabaya.

Kepala Penerangan Koarmatim Kolonel Laut (KH) Maman Sulaiman mengatakan masing-masing KRI itu didukung armada mobile. Mereka berada dibawah kendali Komandan Gugus Tempur Laut Koarmatim Laksma TNI I Nyoman Gede Ariawan yang suda siaga di Tarakan.

“Timnya lengkap, semua udah standby di kapal,” kata Maman.

Meski tim gabungan pembebasan sandera telah dibentuk, tahap awal pemerintah akan tetap mengupayakan negosiasi. Jika negosiasi gagal, maka opsi operasi pembebasan tersebutlah yang akan bekerja.

Pemerintah melalui Kemenlu juga terus menjalin komunukasi dengan pihak Filipina, sebab wilayah penyaderaan berada di Filipina, sehingga tim tidak bisa begitu masuk tanpa izin pemerintah Filipina.

Kapal TB Brahma 12 dan Ananda 12 dibajak di perairan Filipina pada 26 Maret 2016 lalu. Sang kapten Peter Tonsen Barahama adalah warga Sangir, namun ber-KTP Batam.

Sebelum menjadi kapten kapal Brahma 12, Peter memang pernah lama bekerja di Batam. Juga di bidang pelayaran. (jpgrup/nur)

Baca Juga:
> 10 WNI Disandera Militan Abu Sayyaf, Jokowi Kumpulkan Petinggi TNI
> Menanti Pasukan Khusus TNI Selamatkan 10 WNI yang Disandera di Filipina
> Ini Foto-Foto Kapten Kapal TB Brahma 12 yang Disandera Militan Abu Sayyaf
> Kapal WNI yang Disandera Bawa 7.000 Ton Batu Bara
> 10 WNI Disandera, Militan Abu Sayyaf Minta Rp 15 Miliar

Respon Anda?

komentar