Kapten Kapal yang Disandera Militan Abu Sayyaf Ber-KTP Batam

816
Pesona Indonesia
Foto: peter/facebook
Foto Peter Tonsen Barahama, kapten kapal TB Brahma 12 yang disandera militan Abu Sayyaf saat memasuki perairan Filipina. Foto ini diunggah dalam pelayaran ke Filipinan 23 Maret 2016, tiga hari sebelum dibajak. Foto: peter/facebook

batampos.co.id – Peter Tonsen Barahama, kapten kapakl tugboat (TB) Brahma 12 yang menarik tongkang Ananda 12 bermuatan 7.000 ton batubara yang dibajak militan Abu Sayyaf di perairan Filipina 26 Maret 2016 lalu adalah orang Sangir, Sulawesi Utara, yang ber-KTP Batam.

Penelusuran koran Batam Pos (grup batampos.co.id), Peter beralamat di Perumahan Villa Paradise blok J/8, Batuaji, Batam. Peter sebelumnya tinggal bersama kakaknya, Rene Deskartes.

“Kami dapat kabar tanggal 26 (Maret) malam. Itupun dari salah satu saudara yang bekerja se-PT (dengan) Peter,” ujar Hendrik Sahabat, adik sepupu Peter saat ditemui di rumah Rene, Selasa (29/3/2016).

Kabar ini sempat membuat keluarga besar Peter syok. Termasuk orang tua Peter yang berada di Sangir, Sulawesi Utara. Namun belakangan mereka mulai tenang sambil tetap menanti kabar dari Peter.

“Sempat syok awal dapat kabar itu. Apalagi berita-berita kelompok radikal itu cukup sadis,” kata Hendrik.

Diceritakan Hendrik, Peter yang merupakan lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta Utara itu merupakan karyawan PT Patria Maritime Lines yang beralamat di Jalan Jababeka XI Blok H30-40 Industri Cikarang Bekasi sejak tahun 2014 lalu.

Oleh perusahaan, lajang 30 tahun itu  dipercayakan untuk menakhodai Tugboat Brahma 12 yang menarik tongkang bermuatan batubara dari Banjarmasin ke Filipina. Peter beberapa kali sudah berhasil membawa tongkang ke tempat tujuan dengan selamat.

“Yang terakhir ini dia berangkatnya tanggal 15 Maret langsung dari Banjarmasin,” ujar Hendrik.

Saat itu, sambung Hendrik, Peter berangkat bersama tugboat lain yang dikapteni oleh sepupu Peter bernama Aking Manudang. Kedua tugboat itu sama-sama menarik tongkang bermuatan batubara milik perusahaan. “Dua kapal mereka berangkat bersamaan,” katanya.

Keluarga mengaku mendapat kontak terakhir dari Peter pada tangga 23 Maret lalu. Saat itu Peter mengabarkan ke keluarganya bahwa dia akan memasuki peraiaran Filipina dan kemungkinan tidak bisa dihubungi lagi melalui via telepon sebab memasuki zona tanpa jaringan seluler atau telepon.

“Itu saja kabar terakhir Peter ke abangnya (Rene). Dia bilang mau memasuki lokasi yang tak ada sinyalnya,” ujar Hendrik.

Sabtu (26/3/2016), sambung Hendrik, pihak keluarga baru dapat kabar tak baik itu. Salah satu rekan kerja Peter menginformasikan ke keluarga Rene bahwa tugboat Peter dibajak. Peter dan sembilan ABK-nya juga disandera. “Kabar itu dari teman kerjanya Peter,” ujar Hendrik.

Rene sendiri yang juga menggeluti profesi yang sama dan sedang perjalanan ke Malaysia langsung mengontak keluarganya yang di Batam dan di Sangir untuk mencaritahu kebenaran informasi itu. “Abang (Rene) juga masih di laut,” kata Hendrik.

Setelah konfirmasi ke perusahaan tempat kerja Peter, pihak perusahaan membenarkan informasi tersebut bahwa dua tugboat yang jalan beriringan itu memang dibajak oleh kelompol Abu Sayyaf. Namun tugboat yang dinahkodai oleh Aking dilepaskan.

“Katanya yang ditahan dan disandera Peter dan 9 ABK-nya saja,” ujar Hendrik.

Meskipun informasi penyanderaan itu sudah beredar kemana-mana, namun Hendrik mengaku bahwa keluarga besar Peter belum mendapat informasi atau kepastian upaya penyelamatan apapun dari pihak pemerintah.

“Yang datang tadi baru dua orang polisi dari Polresta (Barelang), hanya nanya-nanya gitu,” kata Hendrik.

Hendrik yang mewakili Rene, sangat berharap agar pemerintah dan aparat keamanan di negara ini segera bertindak untuk menyelamatkan Peter dan rekan-rekannya.

“Karena katanya kelompok yang menyandera itu minta tebusan sampai Rp 15 miliar. Kami mau ambil dari mana uang sebanyak itu,” tutur Hendrik.

Saat ini diakui Hendrik, keluarga besar Peter belum bisa berbuat banyak selain mengharapkan bantuan pemerintah untuk mengatasi aksi penyanderaan dari kelompok Abu Sayyaf itu. “Kami hanya bisa berdoa semoga Peter cepat pulang dengan selamat,” ujarnya.

Hendrik menuturkan, Peter merupakan sosok pemuda yang baik dan penurut di mata keluarga besarnya. Pria kelahiran tahun 1985 itu, tergolong pemuda yang ulet dan tekun. Sehingga tak lama setelah tamat kuliah tahun 2010 silam, Peter langsung terjun ke dunia kerja.

“Hanya beberapa bulan dia nganggur,” ujar Hendrik.

Saat awal menyelesaikan pendidikannya, Peter memang sempat tinggal di Batam untuk mencari kerja. “Makanya KTP-nya memang KTP Batam,” ujar Hendrik lagi.

Di Batam Peter sempat bekerja di sejumlah perusahaan pelayaran sebelum bekerja di PT Patria Maritime Lines tempat kerjanya saat ini.

“Untuk urusan berlayar sudah cukup lumayan pengalamannya. Dia dipercaya sebagai kapten bukan kali ini saja. Sebelumnya dia sudah bolak balik bawa kapal,” kata Hendrik.

Meskipun tergolong mapan di usianya, namun Peter diakui Hendrik bukan tipe pemuda yang sombong. Dia tetap rendah hati dan perhatian terhadap keluarga.

“Anaknya memang baik. Makanya belum beristri karena masih mikir dengan keluarganya yang lain,” kata Hendrik.

Meskipun sudah memiliki kekasih hati, namun Peter belum menikah. Itu karena bungsu dari tiga bersaudara itu masih ingin membahagiakan kedua orangtua dan keluarga besarnya.

“Kami bangga sama dia. Dia anak yang penurut. Kami sangat berharap agar pemerintah bisa mengatasi masalah ini secepatnya. Takut terjadi kenapa-kenapa dengan Peter dan teman-temanya,” tutur Hendrik. (bil/far/idr/byu/bay/jpgrup)

Baca Juga:
> Inilah Kekuatan Operasi Pembebasan 10 WNI yang Disandera Militan Abu Sayyaf
> 10 WNI Disandera Militan Abu Sayyaf, Jokowi Kumpulkan Petinggi TNI
> Menanti Pasukan Khusus TNI Selamatkan 10 WNI yang Disandera di Filipina
> Ini Foto-Foto Kapten Kapal TB Brahma 12 yang Disandera Militan Abu Sayyaf
> Kapal WNI yang Disandera Bawa 7.000 Ton Batu Bara
> 10 WNI Disandera, Militan Abu Sayyaf Minta Rp 15 Miliar

Respon Anda?

komentar